4 Alasan Mengapa Saya Belum Memberikan Ponsel ke Anak Saya

Urusan memberikan anak ponsel memang kembali kepada kebijakan masing-masing orangtua. Tapi, saya memiliki alasan tersendiri mengapa hingga kini saya belum memberikannya.

Beberapa waktu lalu, Adies pernah menulis mengenai kapan waktu yang tepat untuk membekali anak ponsel, yaitu pada kisaran usia 9-11 tahun. Saya sendiri pernah bertanya kepada mbak Vera Itabiliana, kapan usia paling cepat seorang anak boleh memiliki ponsel, dan menurut mbak Vera pada kelas 3 SD, itu pun jenis ponsel yang hanya untuk telepon dan SMS. Jadi bukan smartphone :D.

Sebenarnya secara usia, anak saya yang pertama, Bagus (9,5 tahun) sudah boleh memiliki ponsel yang tidak cerdas, hehehe, tapi hingga detik ini saya belum memberikannya (eeer sebenarnya dulu di usia 7 tahun sudah pernah dikasih, kemudian saya ambil lagi. That’s my mistake). Kenapa? Ini alasan saya.

alasan belum memberikan ponsel ke anak

*Image dari www.trackmyfone.com

1. Saya takut dia menerima telepon atau SMS yang tidak baik
Tahu dong kalau punya barang baru yang namanya anak-anak pasti semangat untuk memberitahu ke semua orang. Mulai darai eyang, pakde, bude, kakek dan teman-temannya. Saat memberitahu teman, mungkin saja temannnya akan bertanya berapa nomor teleponnya dan otomatis dia akan memberitahu nomor teleponnya. Saya nggak tahu nomor ini akan tersebar ke siapa saja. Saya hanya menghindari ada orang iseng yang menganggu anak saya dengan menelepon atau mengirimkannya sms yang aneh-aneh.

Walaupun sebenarnya untuk kondisi ini bisa disiasati dengan pengaturan pemakaian ponsel sesuai aktivitas. Jadi si ponsel ini tidak setiap saat dipegang oleh si anak, tapi misalnya, kalau dia lagi les dan butuh dijemput. Dan diingatkan di awal bahwa yang boleh mengetahui nomor teleponnya hanya mama, papa, eyang atau pak supir untuk antar jemput.

2. Saya merasa anak saya belum bisa mengatur keuangan dengan baik
Apa hubungannya antara pemakaian ponsel dengan mengatur keuangan? Ada banget!!! Yaitu berhubungan dengan pemakaian telpon dan besaran uang pulsa. Jadi, menurut mbak Vera kenapa paling cepat di kelas 3 SD (saat usia anak umumnya berkisar antara 8-9 tahun) anak sudah lebih mengerti mengenai kepemilikan dan pengaturan uang. Masalahnya, saya belum yakin kalau anak saya bisa mengatur pemakaian pulsa dengan bijak (ceileeeeeh).

Saya takut anak saya malah sibuk telpon ke sana kemari (tau kan, euphoria karena baru memiliki ponsel) atau SMS ke saya, suami, eyang, tante, pakde, bude dkk-nya. Padahal sudah ada telepon rumah. Tentu saja akan saya ingatkan sebelumnya, tapi yang namanya anak-anak pasti tetap semangaaat dong yang namanya punya barang baru.

3. Khawatir saya tidak bisa maksimal memantau penggunaannya
Saat memberi izin untuk anak memiliki ponsel, hal pertama yang saya pikirkan adalah, kemampuan saya untuk memastikan bahwa ponsel ini memang akan lebih banyak manfaatnya dibanding dampak negatifnya. Banyak sekali celah yang bisa terjadi dari sebuah ponsel. SMS nggak sopan, link ke hal-hal yang berbau pornografi dsb. Apakah saya, sebagai ibu yang memberikan benda tersebut ke anak, bisa memantau dengan baik? Berdasarkan pengalaman saya waktu itu terbukti sata saya merasa belum bisa, lebih baik tidak saya berikan dulu.

4. Karena saya merasa anak-anak memang belum membutuhkannya
Saat ini saya merasa anak-anak belum butuh memakai ponsel. Saat sekolah ataupun les, mereka diantar dijemput dan ditunggu. Di rumah sudah ada telepon rumah. Jika ada tugas sekolah, mereka bisa menelepon teman-temannya dengan menggunakan telepon rumah. Saya sendiri tergabung dalam grup whatsapp emak-emak sekolah, jadi kalau ada apa-apa saya bisa kok bertanya ke sesama ibu ini.

Hmm, mungkin saat Bagus duduk di kelas 6 SD barulah dia akan merasakan memiliki ponsel sendiri :D.


Post Comment