Work Overload, Apa yang Dapat Dilakukan?

Karena nggak enak hati atau menganggap ini sebagai tantangan, kita jadi pasrah ketika pekerjaan kantor menjadi bertubi-tubi alias work overload. Pernah merasa seperti ini atau lagi berada di situasi ini?

Saya pernah berada dalam situasi ketika job desc saya semakin tidak jelas dan saya jadi mengerjakan sesuatu yang tidak lagi sesuai dengan kapasitas saya sebagai seorang Managing Editor. Hasilnya? Saya tidak lagi menikmati pekerjaan saya! Apa yang saya lakukan untuk keluar dari situasi serba salah ini?

pverload pekerjaan

1. Perhatikan tanda-tandanya
Awalnya saya sendiri nggak ngeh kalau beban pekerjaan saya semakin berlimpah ruah. Namun saat jam kerja selama 9 hingga 12 jam tidak lagi cukup, saya kerap lembur (padahal sudah mempraktikkan beragam tips anti lembur) dan pulang hingga larut malam, saya skip makan siang di kantor atauuuu makan siang di meja kantor sambil mengerjakan tugas, itulah tanda bahwa pekerjaan saya overload.

2. Don’t push yourself too hard
Jiwa kompetisi saya memang tinggi dan saya ingin atasan atau bahkan perusahaan melihat kemampuan saya. Tapi kemudian saya sadar bahwa untuk menjadi terlihat bukan berarti saya harus mengorbankan diri saya dengan menerima pekerjaan yang bukan job desc saya. Okelah kalau untuk sementara, atau sesekali, tapi kalau si sementara itu berubah jadi selamanya, yang rugi ya diri saya sendiri. Kenapa juga saya nggak fokus saja di job desc saya dan melakukan yang terbaik di situ.

3. Jangan tertipu dengan kalimat “Ini tantangan untuk kamu,” atau “Saya yakin kamu bisa melakukannya” atau “Ini yang dinamakan kerja tim” atau “Tapi kamu bagus banget kalau mengerjakan ini.”
Percayalah, sekali kita percaya dengan kalimat ini maka kita akan selamanya terjebak dengan pekerjaan tambahan yang tiada henti, hahaha. Menjadi team player bukan berarti kita jadi mengerjakan nyaris seluruh pekerjaan orang lain dan membiarkan orang itu bisa asik-asik main social media di mejanya dengan santai atau belanja online sehari tiga kali *__*.

Belajar untuk bisa membedakan, antara perusahaan memberi tantangan kepada kita atau karena melihat kita mau melakukannya, maka perusahaan jadi berpikir buat apa meng-hire orang baru, kalau pekerjaan yang sudah ada saja bisa dikerjakan oleh satu orang. Naaaah!!!

4. Belajar mendelegasikan pekerjaan
Masalahnya kadang-kadang, overload pekerjaan itu kita cari sendiri! Coba deh tanya ke diri sendiri, apakah sistem pendelegasian tugas kita kepada tim sudah berjalan dengan baik atau belum? Ada tipe pimpinan yang terbiasa bekerja sendiri atau tidak percaya dengan kualitas kerja orang lain, ujung-ujungnya semua pekerjaan dilakukan sendiri dan tim di bawahnya hanya diberikan kerjaan printilan yang nggak penting. Kalau kita termasuk tipe pimpinan seperti ini, ya jangan ngeluh, tapi perbaiki sistem kerja kita. Ini bisa menjadi salah satu cara kita bahagia dengan pekerjaan yang kita miliki.

5. Berterus terang kepada atasan
Setelah cukup lama berada dalam mode ‘pasrah’ :D, saya pun memberanikan diri untuk berbicara terus terang kepada atasan mengenai apa yang saya rasakan berikut bukti-buktinya. Misal, sebagai Managing Editor seharusnya bukan tanggung jawab saya untuk menjalani pemotretan fashion spread. Kalau bantuan saya dibutuhkan karena saat itu posisi Fashion Editor sedang kosong –oke saya mengerti-. Tapi, saya butuh batasan waktu kira-kira berapa lama saya berperan sebagai double agent :p. Karena ada pekerjaan utama yang menjadi tanggung jawab saya dan membutuhkan perhatian saya lebih besar.

6. Beri penghargaan pada diri sendiri
Jika memang tidak ada reaksi apapun dari atasan dan pekerjaan Anda tetap mengalir deras bagaikan air, bernegosiasi dengan meminta kenaikan gaji. Bagaimanapun, ada harga yang harus dibayar, kan, untuk tenaga, pikiran, waktu yang kita curahkan untuk pekerjaan yang tidak ada di dalam job desc kita. Berilah penghargaan kepada diri sendiri, kita layak kok mendapatkannya :).


Post Comment