Dukung Ibu Baru yang Kembali Bekerja Setelah Cuti Melahirkan

Ibu baru biasanya merasa tidak siap saat kembali bekerja setelah masa cuti usai. Teman kerja maupun perusahaan perlu tahu bagaimana mendukung mereka.

Selesainya masa cuti bagi seorang ibu sama saja dengan masuknya ibu ke Waktu Indonesia Bagian Galau. Sesiap apapun kita untuk kembali bekerja, sebanyak apapun stok ASIP di kulkas tetap ada secuil perasaan galau saat momen itu tiba. Setidaknya itu yang sempat saya rasakan dulu. Dan untungnya kegalauan saya hanya sementara karena teman-teman kantor yang asik dan atasan yang memahami status saya sebagai ibu baru.

Masalahnya, nggak semua ibu baru seberuntung saya. Ada yang rekan kerjanya tidak memahami kondisi ini atau atasan (bahkan) perusahaan tidak ngeh bahwa ibu baru membutuhkan dukungan tidak hanya dari keluarga tapi juga perusahaan dan orang-orang di dalamnya. Sebagian besar menganggap bahwa sudah risiko, memilih kembali bekerja setelah punya anak! Pokoknya harus tetap profesional. Titik. Padahal, dengan semakin tingginya jumlah perempuan yang bekerja seharusnya perusahaan mulai aware dengan kondisi ibu baru pasca cuti melahirkan.

Jadilah supporter yang baik untuk para ibu baru menjalani masa transisi ini. Karena bagaimana pun, ibu yang merasa tenang akan bekerja dengan lebih fokus. Karyawan yang fokus hasil kerjanya juga pasti lebih baik. Ya nggak?

ibu baru kembali bekerja

*Image dari workingmother.com

Yakin deh saya, semua ibu yang baru kelar cuti melahirkan pasti maunya seperti itu. Tenang menitipkan bayi pada orang kepercayaan di rumah dan tenang saat bekerja di kantor. Tapi, kami bukan robot yang bisa melenyapkan perasaan itu secepat kilat. Setidaknya dukung kami agar bisa melewati masa-masa itu dengan lebih tenang. Mau kan?

1. Jangan langsung memberikan load kerja yang tinggi
Jangan langsung bebani pekerjaan dengan load tinggi karena ibu baru harus menyesuaikan diri dengan perubahan ini. Kembali bekerja, memerah ASI, memastikan anak aman di rumah, dsb.

2. Hindari memberi tugas ke luar kota atau negeri untuk 3 bulan pertama
Ini yang sempat saya alami dulu. Sebagai Lifestyle Editor, saya kerap harus bepergian. Untungnya atasan saya saat itu memahami bahwa 3 bulan setelah cuti melahirkan saya masih harus ‘berjuang’ untuk memberikan ASI eksklusif untuk anak saya. Jadi, saat ada undangan yang mengharuskan saya menginap, atasan akan bertanya dulu apakah saya mau, baru kemudian melempar ke tim lain, jika memang saya tidak bisa.

3. ‘Mentor’ untuk si ibu baru
Untuk rekan kerja perempuan yang sudah lebih ‘senior’ menjadi ibu, boleh banget lho menjadi teman ngobrol untuk si ibu baru. Berbagi pengalaman bagaimana dulu melewati masa ini pasti akan membuat ibu baru lebih lega. Kenapa? Karena dia pasti akan berpikir “Kalau si A aja bisa, pasti saya juga bisa.” Namanya perempuan, tetap jiwa kompetitif tinggi, hahaha.

4. Buat fasilitas ruang menyusui
Sayangnya di kantor lama saya, tidak ada ruang menyusui dan ruang kerja saya juga menyatu dengan belasan orang lainnya. Kebayang kan susahnya mencari lokasi memerah yang ‘aman’. Maka, penting banget bagi perusahaan untuk menyediakan fasilitas ruang menyusui. Nggak perlu besar dan mewah, yang penting nyaman dan busui pun bisa memerah tanpa deg-degan kalau kepergok oleh orang lain. Seperti yang sudah banyak dilakukan oleh beberapa kantor yang sudah memiliki fasilitas ruang memerah ASI.

Siap menjadi support system para ibu baru di kantor?


Post Comment