Heboh LGBT Anak, Bagaimana Harus Bersikap?

Belum lama ini dunia maya dihebohkan dengan munculnya komunitas LGBT anak-anak di bawah umur. Bagaimana menyikapi kondisi ini?

Beberapa waktu lalu, baik di sosial media maupun grup Whatsapp ibu-ibu beredar screen capture dari akun sosial media yang katanya ditujukan bagi komunitas homoseksual anak-anak. Meskipun saya bukan tipe ibu yang menelan begitu saja berita yang saya dapat, tetap saja informasi ini membuat saya sedih dan tidak nyaman. Saya pun sempat membuka akun yang dimaksud, dan image-image yang ada di dalamnya memang membuat saya mengelus dada berkali-kali. Yang terbersit di hati saya adalah, “Apa iya sih anak-anak sekecil itu sudah berani melakukan seperti apa yang saya lihat. Apa iya usia mereka sudah mampu untuk mengambil keputusan seperti itu?” Dan sejuta apa iya lainnya. Mungkin ini wujud dari rasa sedih, was-was dan denial saya melihat fakta bahwa sudah segitu berbedakah lingkungan anak-anak sekarang tumbuh besar dengan lingkungan saya dulu tumbuh besar?

LGBT anak bagaimana menyikapinya

Coba ingat, di zaman kita dulu, mereka yang memiliki orientasi seksual yang berbeda rasa-rasanya sangat jaraaaaaang terlihat. Mereka pun tidak seterbuka sekarang. Saat ini? Baik di mall, di tempat kerja atau di layar televisi, akan mudah bagi kita (dan anak-anak kita) untuk bertemu atau melihat orang-orang LGBT. Saya jadi ingat, suatu kali saat jalan-jalan ke pusat perbelanjaan di bilangan Jakarta Selatan, anak saya sempat bertanya, dan terlihat kebingungan ketika melihat sosok transgander. “Ibu… dia itu kan laki-laki, ya? Kok, dandanannya seperti anak perempuan? Bajunya juga seperti itu?” ujar Bumi. Berbeda dengan cerita Fia, ketika sedang nonton film Con Air bersama anaknya, Bagus, sempat bertanya, “Mah… dia itu kan laki-laki, kok pakai baju perempuan, sih?“.

Terus terang saja, buat saya menjelaskan hal seperti ini bukanlah hal mudah. Sebagai seorang ibu, jujur saja saya memiliki rasa takut dan khawatir. Jangan hakimi saya bahwa saya tidak menghargari Hak Asasi Manusia. Tapi saya hanya mencoba jujur untuk mengungkapkan kekhawatiran saya.

Sebelum saya sibuk menulis surat terbuka, sebelum saya mengambil sikap, sebelum saya terburu-buru menuliskan kekhawatiran saya di social media, saya mencoba bertanya kepada  Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si, apa yang seharusnya saya lakukan? Dan ternyata ia mengatakan dengan fenomena seperti ini sebenarnya orangtua tidak perlu terlalu panik dan khawatir. “Pada dasarnya ketika anak bertanya justru kita punya kesempatan untuk menjelaskan nilai atau paham yang kita anut dan menetralkan kondisi tersebut dengan penjelasan singkat yang bisa diterima oleh anak-anak,” ungkapnya.

Lebih lanjut psikolog anak dan keluarga yang kerap saya sapa dengan sebutan Mbak Nina ini juga menjelaskan pada dasarnya anak-anak di bawah 10 tahun sebenarnya masih belum memahami masalah LGBT. Mereka tidak punya orientasi seksual sampai sejauh itu. Kondisi memang akan berbeda jika anak sudah masuk usia praremaja. Biasanya, pertanyaan yang mereka ajukan lebih spesifik, seperti Kenapa ada laki-laki yang menikah dengan laki-laki juga? Lesbi itu apa? Homo itu apa? Di mana pertanyaan seperti ini memiliki pengertian dan penjelasan yang lebih dalam.

“Bila anak bertanya mengapa ada laki-laki yang menikah dengan laki-laki, saatnya kita menanamkan nilai yang kita anut. Bisa kita jelaskan gay itu adalah laki-laki yang menyukai laki-laki, tapi sebenarnya hal yang sewajarnya adalah laki-laki menikahi perempuan, seperti Papa dan Mama”.

Lebih lanjut, Mbak Nina menjelaskan bahwa sebenarnya orientasi seksual anak baru terbentuk dan berkembang pada tahapan remaja. Tahapan remaja ini sendiri terbagi menjadi 3 tahap; Awal, Madya dan Akhir. “Masa remaja ini kan masanya anak-anak mengalami galau, termasuk pada orientasi seksual. Biasanya orientasi seksual ini baru akan benar-benar terbentuk ketika masuk pada fase remaja akhir. Sementara, anak-anak balita, anak yang usianya masih di bawah 10 tahun, kedekatannya dengan sesama jenis bukan berarti menyukai sesama jenis.”

Apabila orangtua bersikap berlebihan, memiliki kecemasan yang berlebihan, termasuk sering mengkritik anak, hal ini justru menimbulkan beragam pertanyaan pada anak-anak. “Anak-anak justru akan memikirkan lebih lanjut. Bukan berarti jadi punya orientasi seksual yang menyimpang, ya. Tapi mereka jadi semakin bertanya-tanya. Untuk itulah penting bagi orangtua untuk punya waktu diskusi dengan anak.”

Biar bagaimana pun, seperti yang dijelaskan Mbak Nina, identitas diri anak terbentuk sesuai dengan usia mereka. Cara yang paling tepat agar anak bisa belajar mengenali identitas diri salah satunya adalah dengan mengajarkan anak-anak untuk bisa mengeksplorasi dirinya. “Kita sebagai orangtua harus bisa membuka diskusi dan punya waktu untuk bertanya dan mendengarkan. Jangan terus menerus mengendalikan anak sehingga mereka tidak punya identitas diri.”

Berkaitan dengan komunitas homoseksual anak-anak di bawah umur, Mbak Nina pun sempat memberikan pandangan. Katanya, ketika ada komunitas homoseksual yang tersebar di sosial media, coba telaah lebih dulu? Apakah benar komunitas tersebut dibuat oleh anak-anak?

“Lagi pula, seperti yang saya katakan sebelumnya, orientasi seksual anak-anak di bawah 10 tahun belum matang. Bisa jadi anak-anak justru adalah korban atau anak-anak menjadi sasarannya karena akun tersebut dibuat oleh orang dewasa yang punya kejahatan seksual.”

Mendengar penjelasan Mbak Nina, saya akhirnya bisa mendapatkan jawaban. Sebagai orangtua kita memang nggak boleh terlalu parno. Tapi paling tidak, dari fenomena ini ada pelajaran penting yang bisa diambil. Kita sebagai orangtua memang harus bisa memberikan dukungan pada anak, terutama dukungan emosional dan memberikan kebebasan bagi anak untuk menjelajahi lingkungannya. Dengan begitu, anak pun bisa belajar  dan punya pemahaman yang sehat mengenai identitas dirinya.

Selain itu, penting bagi kita, para orangtua membatasi dan mencermati akun sosial media anak. Jangan sampai teledor apalagi sampai sengaja membuatkan akun sosial media untuk anak dengan membohongi umur. Jangan sampai untuk terlihat jadi orangtua modern kita malah melakukan kesalahan. Kebablasan dengan mengizinkan anak untuk punya sosial media.Toh, setiap sosial media sudah punya ketentuan dan syaratnya masing-masing. Dan yang terpenting, nilai-nilai serta paham yang kita percayai tentu saja harus ditanamkan pada anak sedini mungkin. Setuju nggak?