Inga Laurina Ekha: Perempuan Harus Punya Pencapaian

Sempat berganti kampus di tengah-tengah masa perkuliahan, namun Inga membuktikan bahwa ia mampu bertanggung jawab dengan pilihan hidupnya. Bahagia menjalani karier dan tetap memprioritaskan keluarga.

IMG_8926

Pembawaan khas Inga Laurina Ekha (31), ibu dari Benji (5) saat menjalankan profesinya sebagai Master of Ceremonies (MC) terlihat humoris dan bisa membangun suasana menjadi akrab. Perempuan berdarah Padang ini mengaku sempat tidak menyelesaikan kuliahnya di Bina Nusantara karena lebih terpanggil dengan jurusan lainnya, yaitu Broadcasting. Akhirnya ia membuktikan bisa bertanggung jawab dengan pilihan yang dibuat.

Begitu juga dengan keputusan menikah di usia 25 tahun, target yang sudah lama ia buat dan akhirnya tercapai. Meski tetap saja ada penyesuaian saat menikah di usia yang tergolong muda – mari simak obrolan saya dengan Inga berikut ini.

Cerita dong, awal kali karier Inga sebagai  MC?

Jadi kan kebetulan 2004 di pertengahan masa kuliah saya sudah mulai kerja di MTV Sky dabTrax FM. Di Trax ini para penyiarnya suka mendapatkan tawaran MC, hanya saja pendengarnya kalangan SMA dan kuliah untuk kegiatan sekolah dan kampus mereka. Dan bujet mereka tidak besar, jadi tidak ada yang mau mengambil tawaran itu, jadilah saya ambil tawaran tersebut, karena cocok juga sama jurusan kuliah saat itu, Komunikasi – Broadcasting. Walau bayarannya tidak seberapa, sangat lumayan loh untuk saya yang waktu itu masih kuliah, dan yang penting bisa tampil di muka umum. Nah, dari situ berlanjut menerima tawaran MC lainnya.

Setelah menikah di 2010, karena memang saya punya target harus menikah di usia 25 dan langsung punya anak, saya sempat tidak percaya diri menerima tawaran MC, karena bentuk badan belum kembali normal. Selain itu juga sempat menjadi full time mother yaaa. Sampai tiba satu kesempatan dari klien lama saya, dari situ deh saya memberanikan diri. Kemudian berlanjut lagi ke tawaran-tawaran lainnya yang berasal antar teman, intinya dari networking yang saya pelihara dengan baik sebelumnya. Dari situlah sampai sekarang berlanjut menerima pekerjaan MC ini. Prinsip saya, selalu menjaga hubungan baik dengan siapa saja yang saya temui, karena menurut saya tidak ada ruginya melakukan hal semacam itu. Jadi kalau bertemu dengan orang baru, just be nice, and be you saja – poinnya jangan sesekali menganggap remeh seseorang, karena kita tidak pernah tahu “siapa dia” yang sebenarnya.

Inga Laurina Ekha, Perempuan Harus Punya Pencapaian

Inga, saat memandu acara ulang tahun Mommies Daily awal Desember lalu

Alasan apa yang membuat Inga ngotot harus menikah di usia 25?

Karena menurut saya itu usia yang cukup, tidak terlalu muda dan juga tidak terlalu tua. Selain itu ketika baru merintis karier sambil kuliah saya cenderung pribadi yang “lepas”, intinya saya tidak mau kebabablasan, apalagi soal pergaulan. Nah, saya harus mencari sesuatu yang bisa menahan saya, saya mencari rem – saya pikir solusi yang bisa saya tempuh adalah menikah dan punya anak.  Dan, memang dari dulu saya selalu menanamkan pada diri saya, usia 25 saya harus menikah, harus menikah!

Di awal-awal pernikahan dan langsung memiliki anak, perubahan apa sih yang dirasakan paling sulit?

Perubahan justru terjadi ketika kami memutuskan untuk pisah dari orangtua setahun terakhir ini, misalnya penyesuaian di sana-sini sebagai pasangan dan orangtua. Isu-isu yang muncul seperti itu.

Mengingat menikah di usia yang tergolong muda, bagaimana nih penyesuaiannya dengan pasangan yang dari segi usia hanya terpaut satu tahun lebih tua?

Pasti ada berantemnya ya, hahaha. Sebagai perempuan pasti kan banyak mau ya? Hayooo ngaku? Hahaha. Terlalu banyak isi kepala sehingga jadi pusing sendiri ketika mau menyampaikan kepada pasangan. Nah, untungnya suami saya adalah pribadi yang sangat logis. Kalau saya sudah terlalu berantakan bicaranya, dia akan menarik benang merahnya. Meski kami mengakui sama-sama memiliki sumbu kesabaran yang pendek. Mengakalinya, kalau sedang sama-sama sebal atau emosi, kami akan berjauhan dulu – karena kalau keduanya marah tidak akan menyelesaikan apapun. Setelah menginjak usia 5 tahun pernikahan, baru deh kami berdua tahu ada yang harus dibicarakan dan tidak harus dibicarakan. Karena jika kita sudah lama hidup dengan seseorang maka level kompromi terhadap orang tersebut juga akan semakin tinggi. Selain itu konsep agree to disagree itu juga perlu diterapkan, karena kami dua orang dengan pemikiran yang berbeda. Artinya harus saling mengemukakan, masing-masing tidak nyaman dalam kedaan seperti apa?.

Selanjutnya Inga bicara tentang alasannya kembali bekerja dan tantang mengurus Benji di tengah kesibukannya.