4 Hal yang Harus Dipikirkan Sebelum Resign

Setiap orang pasti memiliki alasan berbeda saat memutuskan akan resign dari pekerjaannya. Namun, ada 4 hal yang harus dipikirkan sebelum resign.

Pertengahan tahun 2014, saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan karena merasa jenuh. Karena resign yang saya lakukan bukan karena alasan emosional, seperti misalnya kesal dengan atasan atau manajemen kantor, jadi keputusan itu bukanlah keputusan terburu-buru tanpa pertimbangan matang.

Kenapa resign harus dipikirkan dengan matang? Buat yang terbiasa bekerja, punya dua anak dan hidup di kota besar, pasti paham banget kenapa resign harus dipikirkan matang-matang, hahaha. Ini 4 hal yang saya pikirkan sebelum resign.

I QUIT

1. Bagaimana ‘mengganti’ hilangnya income bulanan?
Selama ini, penghasilan saya digunakan untuk pemenuhan kebutuhan saya pribadi dan menabung, tidak terlalu memberi kontribusi pada rumah tangga. Pun demikian, karena saya terbiasa memiliki uang sendiri, saya jadi membuat rencana apa yang saya lakukan saat tidak bekerja kantoran lagi? Saya memutuskan untuk freelance sebagai penulis dan stylist untuk halaman fashion anak-anak. Walaupun hasilnya tidak sebesar gaji bulanan yang selama ini saya terima, at least saya masih memiliki peghasilan dan tidak menganggu keuangan suami :D. Intinya saya ingin tetap memiliki penghasilan sendiri.

Bagi Anda yang mungkin selama ini gajinya memberi kontribusi pada pengeluaran rumah tangga, tidak ada salahnya mencoba untuk hidup hanya dengan mengandalkan satu gaji dari suami selama 3 bulan sebelum Anda resign. Dari sini Anda jadi punya gambaran, kira-kira sebesar apa nominal yang harus dihemat. Sehingga di saat waktu resign tiba, Anda jadi tidak terlalu terkejut.

2. Perubahan apa yang perlu dilakukan?
Be realistic! Saat Anda mencoba menjalani hidup dengan satu sumber mata pencaharian, dari situ Anda bisa mengira-kira gaya hidup mana yang perlu diubah, apa yang harus dikorbankan, dsb. Jika selama ini dengan dua sumber Anda bisa memakai jasa supir untuk antar jemput anak-anak, memiliki premi asuransi kesehatan untuk kelas VIP atau setiap minggu selalu makan di restoran, mungkin saatnya direview ulang.

3. Bagaimana menjelaskan ke anak-anak mengenai perubahan ini?
Kalau sebelum resign saya biasanya setiap minggu makan ke restoran, beli lego atau nonton, setelah resign, point ini yang paling gampang untuk saya ‘revisi’. Yang menjadi PR adalah, bagaimana menjelaskan ke anak-anak kalau mereka nggak bisa ‘sehedon’ dulu? Kuncian saya adalah, fokus pada seberapa besar waktu yang bisa saya habiskan bersama mereka setelah saya menjadi freelancer, hahaha.

Jadi, saya menjelaskan ke anak-anak kalau saya mau resign, perubahan jam kerja yang saya alami dan bagaimana penghasilan saya berkurang, jadi kuantitas pergi ke mall akan berkurang. Tapiiiii, mama jadi bisa lebih sering jemput ke sekolah, mama jadi bisa nemenin belajar dsb. Dan, yes, itu berhasil :D.

4. Bagaimana agar tetap bisa berinteraksi dengan orang lain?
Salah satu ketakutan saya adalah kalau akhirnya saya malah nggak punya waktu bergaul. Karena bagaimanapun saya paham bahwa sebagai perempuan dewasa dan mahluk sosial, saya butuh berinteraksi dengan orang lain di luar keluarga. Jadi, saya menentukan dalam sebulan ada 3 kali waktu saya bisa bertemu dengan teman-teman. Biasanya saya barengi dengan jadwal pemotretan sehingga saya tidak perlu bolak-balik keluar rumah.

Dengan menjaga silaturahmi dengan teman-teman, nggak hanya memuaskan sisi saya sebagai mahluk sosial namun juga membuat saya tetap terhubung dengan keriuhan dunia kerja di luar sana. So, once saya ingin kembali bekerja,nama saya masih masuk dalam radar orang-orang yang akan dicari jika kenalan saya tahu ada sebuah lowongan yang cocok untuk saya.

Itu 4 hal yang saya lakukan. Bagaimana dengan Anda?


Post Comment