Hal Positif di Balik Setiap Kekhawatiran Para Ibu

Menjadi ibu seringkali membuat saya harus pasrah menerima paket lain hadir dalam hidup saya, nama paketnya adalah ‘rasa khawatir’.

No wonder, kalau dulu SMA, mama pernah mengatakan “Puas-puasin kamu main di masa remaja, karena nanti semakin kamu bertambah dewasa, kamu pasti kangen dengan hidup yang tanpa beban ini.” Daaaaaan, yaaaak benar banget :p.

Semakin dewasa (alias tua, hahaha), kemudian menikah dan memiliki anak, secara otomatis hidup saya mulai dipenuhi oleh rasa khawatir bahkan untuk urusan yang terlihat sepele atau untuk hal yang belum tentu terjadi. Masuk di tahun 2016, seperti yang sudah pernah saya tuliskan di Editor’s Note, ada 4 cara yang saya lakukan untuk mengubah pola pikir menjadi lebih positif.

Kalau ditanya apa saja yang membuat saya khawatir? Banyaaaaak. Tapi, coba kita belajar untuk melihat hal positifdi balik setiap kekhawatiran yang kita rasakan.

1. Khawatir dengan penampilan setelah melahirkan
Berat badan yang nggak hilang-hilang, stretch mark di mana-mana, luka bekas operasi sesar mungkin merupakan beberapa hal yang kerap saya khawatirkan. Bukannya terlalu mikirin penampilan sih, tapi wajar kan kalau saya ingin tetap memiliki kulit yang bersih dan tubuh yang tetap muat di pakaian ukuran S :D. Tapi di balik segala lemak, guratan sretch mark dan luka, ingat saja kalau kita telah melahirkan seorang (atau lebih) anak yang menggemaskan dan membuat kita merasa menjadi perempuan paling bahagia di dunia. Seorang anak yang akan selalu menyambut saya dengan pelukan sepulang dari kantor. Seorang anak yang membuat saya mengerti apa artinya sayang dan cinta tanpa syarat!

Kekhawatiran ibu5

2. Khawatir menjadi ibu yang terlalu galak terhadap anak-anak
Saya itu tipe ibu-ibu yang patuh pada jadwal harian untuk anak-anak, hahaha. Mulai dari bangun tidur, jam belajar, jadwal les, menonton televisi dsb. Jadwal ini baru saya buat begitu anak-anak masuk SD sih dan mereka bebas di weekend. Saya tidak meminta anak-anak mendapat nilai 100 di sekolah tapi saya meminta jangan sampai mereka remedial kalau ada ulangan. Les renang saya targetkan dalam berapa bulan harus sudah bisa. Kadang, saya suka merasa takut kalau saya terlalu keras ke anak-anak. Tapi kemudian pemikiran positif saya adalah, ini membuat anak-anak belajar untuk disiplin dalam soal waktu. Membuat mereka menghargai waktu yang ada dan tidak ‘membuang-buang’ uang orangtua yang sudah dikeluarkan untuk berbagai macam les sesuai dengan keinginan mereka.

3. Khawatir karena belum bisa memberikan fasilitas maksimal untuk anak-anak
Siapa sih orangtua yang tidak ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya? Sekolah terbaik, pendidikan terbaik, fasilitas terbaik, liburan ke mana-mana dan segala hal dengan embel-embel terbaik lainnya. Masalahnya, mungkin kondisi finansial kita belum memungkinkan untuk melakukan hal tesebut. Well, anggap saja inilah waktunya kita mengajarkan anak-anak tentang kerja keras dan mandiri. Bahwa untuk mendapat yang terbaik memang diperlukan usaha yang lebih keras kan? Anak jadi belajar bahwa segala hal itu nggak jatuh dari langit. Perlu usaha.

4. Khawatir terlalu sibuk dengan pekerjaan
Sibuk bekerja kemudian dipastikan anak-anak menjadi lebih dekat dengan orang lain? Itu hanya mitos :D. Sebenarnya kan tergantung bagaimana time management kita dan bagaimana kita menciptakan bonding . Sudah banyak pasti tulisan-tulisan yang membahas tentang ini dan saya nggak mau menambahkannya. Karena sebenarnya, kalau kita mau berpikir positif, banyak kok hal positif yang dirasakan anak saat ibunya bekerja. Mulai dari membuat suami lebih hands on pada pengasuhan anak, tercipta kerjasama yang baik antara suami isteri hingga membuat anak-anak dekat dengan eyangnya. Kita yang paling paham alasan kita dalam menentukan sebuah pilihan, kan :).

Mama dan krucil

5. Khawatir kurang sabar menghadapi anak
Ini salah satu hal yang juga kerap saya pertanyakan ke diri saya sendiri. Apakah saya sudah cukup sabar menghadapi anak-anak? Apakah saya mudah marah saat anak-anak melakukan sesuatu hal yang tidak sesuai dengan aturan saya? Dan berderet apakah-apakah lainnya. Tentu saja saya bukan malaikat yang bisa selalu tersenyum ke anak-anak saya. Ada saatnya saya merasa kesabaran saya di titik nol dan saya ingin berteriak. Saat itu terjadi, memang time out-lah yang paling saya butuhkan. Tapi dari kekhawatiran ini membuat saya jadinya rutin meluangkan waktu me time untuk diri sendiri. Saya belajar untuk menghargai kebutuhan saya sebagai pribadi. Dan ini membuat anak-anak saya juga belajar bahwa mereka harus paham dan menghargai kebutuhan orang lain.

Sebagai ibu kita pasti sering merasa khawatir. At the end ini membuat kita merasa banyak kekurangan. Tapi mari belajar untuk melihat hal positif dari semua kekhawatiran itu. Mari percaya bahwa kita adalah ibu yang baik, istri yang baik dan pribadi yang baik. Dan itu rasanya menyenangkan!


Post Comment