4 Aturan ‘Basi’ dalam Pernikahan

Menciptakan keluarga yang harmonis tentu saja bukan perkara yang mudah, perlu aturan yang disepakati bersama. Termasuk meninggalkan aturan basi dalam pernikahan.

????????????????????????????????????????????????????????

Semalam, sambil ber-pillow talk ria bersama  suami, kami sempat ngobrol ngalor ngidul mengenai kondisi pernikahan. Ya, hitung-hitung audit pernikahanlah. Soalnya tahun ini usia pernikahan kami sudah masuk usia 7 tahun.

Usia pernikahan 7 tahun mungkin masih belum ada apa-apanya, masih bisa dibilang seumur jagung. Tapi yang jelas, untuk memasuki fase pernikahan berikutnya, saya sangat sadar untuk mencari aturan main yang pas. Mulai dari memahami kalau soulmate perlu itu diciptakan, mamahami hukum alam pernikahan, dan tentunya perlu kesadaran kalau aturan pernikahan zaman sekarang tentunya akan berbeda jauh dari generasi orangtua kita dulu. Menurut saya, sih, ada beberapa aturan dalam pernikahan yang sudah sangat basi. Apa saja?

Tugas domestik tugas istri

Duluuuuu… sepengetahuan saya. sih, banyak sekali suami yang tidak mengizinkan para istrinya untuk bekerja. Tugas istri adalah mengerjakan pekerjaaan domestik. Kondisi ini tentu sudah berubah. faktanya saat ini banyak istri yang punya peran penting dalam urusan finansial keluarga. Nggak cuma jadi menteri keuangan, para istri sudah banyak yang menjadi breadwinner. Suami pun sudah tidak segan-segan membantu tugas domestik. Kalau saya memang sedang merasa capek, suami dengan sukarela membantu mengurus kebutuhan anak, termasuk memasak.

Jangan tidur kalau sedang ada masalah dengan pasangan.

Saya ingat sekali, banyak orangtua yang memberikan petuah untuk melakukan hal ini.  Awal menikah, Mama saya pernah bilang, “Kalau memang ada masalah sama suami, langsung saja selesaikan saat itu juga. Jangan ditunda-tunda, apalagi sampai dibawa tidur“. Awalnya, saya sempat setuju dengan peraturan yang satu ini. Saya pikir,  menunda menyelesaikan masalah itu kan memang nggak baik, bahkan bisa menyebabkan terjadinya bom waktu yang bisa meledak suatu waktu. Kenyataannya, ketika mencoba menyelesaikan masalah saat itu juga, saya ataupun suami malah tidak bisa menemukan titik temu. Justru yang ada saya malah jadi tambah uring-uringan. Lambat laun saya pun akhirnya belajar, nggak ada salahnya, kok, menunda menyelesaikan masalah. Dan akhirnya saya pun memutuskan nggak salah kalau akhirnya memilih untuk tidur saja. Biar bagaimana pun setelah tidur, otak akan lebih fresh sehingga bisa lebih bijak dalam bersikap ataupun berbicara.

Jangan mengubah pasangan

Saya percaya kalau setiap orang sudah punya sifat dan karakter dasar yang mungkin susah sekali untuk diubah. Makanya, sebuah pernikahan perlu adanya toleransi yang tinggi antar pasangan. Tapi di sisi lain nggak ada salahnya, kok, untuk mengubah pasangan menjadi lebih baik. Untuk sama-sama belajar ke arah yang jauh lebih baik serta menyerap ilmu baru dari pasangan. Nggak baik juga kan kalau kita memendam kekesalan karena kebiasaan atau sikap pasangan yang memang tidak baik? Bisa-bisa hal ini jadi pemicu pertengkaran dalam rumah tangga yang bisa berakibat fatal. Umh, saya kok jadi ingat salah satu lagunya Tulus, ya… “Jangan cintai aku apa adanya, jangan… Tuntutlah sesuatu biar kita jalan ke depan”.

Tabu berkonsultasi dengan psikolog pernikahan bila ada masalah besar

Jadi, ya…. saya itu punya teman yang doyan sekali datang ke psikolog perkawinan. Bahkan, teman saya ini selalu menjadwalkannya setiap tahun. Begitu saya tanya apa alasannya, ia pun bilang kalau semua itu ia lakukan dalam rangka me-review pernikahannya. Wiiih….hebat, juga, ya! Sementara, tidak sedikit pasangan suami istri yang merasa membutuhkan bantuan profesional, saat sudah terjadi masalah dalam perkawinan. Bahkan pernikahannya sudah di ujung tanduk.  Akibatnya, tidak sedikit pernikahan yang  tidak bisa lagi diselamatkan. Dari sini saya pun jadi sadar kalau gaya menyelesaikan masalah seperti itu sudah ’basi’. Ketika ada masalah dengan pasangan, nggak ada salahnya langsung cari bantuan profesional. Termasuk ketika merasa ada masalah dengan hubungan seksual.

Umh, ada yang mau menambahkan aturan basi lainnya yang perlu ditinggalkan?


Post Comment