Untuk Para Guru Les, Jangan Lakukan Ini Kepada Anak-anak Saya

Mengikutsertakan kedua anak saya dalam berbagai les membuat saya paham beberapa kebiasaan guru les yang ternyata cukup menganggu bagi saya.

Sekeras apapun usaha yang saya dan suami saya lakukan di dalam rumah untuk membuat anak-anak merasa nyaman, saya tidak bisa memastikan bahwa di luar rumah anak-anak akan mendapat perlakuan yang sesuai dengan harapan saya. Sejujurnya, saya tidak masalah dengan hal ini, karena kondisi di luar rumah yang kadang tidak sesuai dengan ekspektasi bisa membuat anak-anak saya menjadi pribadi yang tangguh dan (semoga) tahan banting.

Tapi, sebagai seorang ibu dan manusia tentunya, saya juga punya batas toleransi sejauh mana sesuatu hal bisa saya acuhkan dan mana yang memang perlu saya tindak lanjuti. Seperti beberapa hal di bawah ini yang dialami oleh anak-anak saya dalam berbagai les yang mereka ikuti.

IMG_5268

1. Jangan bandingkan antara si kakak dan si adik
Suatu malam, selesai les jaritmatika, anak saya yang bungsu mengatakan di depan kakaknya bahwa menurut miss yang mengajar jaritmatika dia jauh lebih pintar dibanding si kakak. Mungkin anak saya tidak bermaksud menyombongkan diri, tapi bisa kebayang kan, bagaimana reaksi si kakak saat mendengar omongan adiknya? Saat itu saya hanya bilang bahwa baik kakak maupun adik sama-sama pintar, umpama nilai kakak sedikit di bawah adik, itu karena kakak punya kelebihan lain yang berbeda dengan adik. Yang adiknya ucapkan memang hanya sekalimat pendek dan dikatakan sambil lalu. Tapi sejak dari situ, si kakak selalu bertanya kenapa adiknya lebih pintar dari dia.

Beberapa hari kemudian, saya langsung menyampaikan keberatan saya ke guru lesnya. Beliau meminta maaf, tapi kalimat yang sudah terucap sulit untuk ditarik kembali, kan? Jadi, untuk para guru les, tolonglah berhenti membandingkan antara anak didik yang satu dengan yang lain, karena bagaimanapun masing-masing anak itu kan berbeda. Terlebih jika anak didik Anda itu bersaudara.

2. Jangan panggil anak saya dengan sebutan si Ganteng, si Cantik, Dsb
Baru kemarin malam, Djati – anak saya yang bungsu bertanya, “Ma, kenapa sih kak Dian (guru les Robotic-nya) manggil aku ganteng? Emang aku ganteng ya, Ma?” Saya balik bertanya, “Menurut kamu, kamu ganteng? Emang ganteng itu apa?. Dan dia menjawab… “Ganteng itu cakep kan ma?”

Saya selalu mengajarkan kedua anak saya untuk jangan terlalu sibuk dengan penampilan fisik. Bahwa lebih penting menjadi orang baik dan pintar dibanding cakep atau cantik. Lalu, di saat saya sibuk mengajarkan hal seperti itu dan di luar sana ada orang lain yang sibuk memanggil anak saya dengan sebutan ganteng, bagaimana? Mungkin saya yang terlalu lebay, tapi saya tidak mau anak-anak saya tumbuh dengan terbiasa mendengarkan pujian yang kurang penting. Panggil saja namanya, si Djati atau si Bagus. Tanpa embel-embel lainnya. Titik!

IMG_1917

3. Jangan ajarkan anak-anak saya untuk membenci perbedaan
Anak saya yang sulung ikut les ngaji di rumah tetangganya. Karena saya kenal baik dengan tetangga tersebut dan suami saya juga mengenal baik, saya mengizinkan anak saya untuk ikut serta. Sampai suatu hari anak saya pulang dengan wajah kisruh dan bete. Saya bertanya ada apa. Tiba-tiba dia bertanya ke saya “Ma, memang mama nanti masuk neraka ya?” Deg. Saya kaget. Setelah saya tanya lagi, ternyata dia mendengar dari pengajar ngajinya kalau orang yang tidak satu agama dengannya akan masuk neraka. FYI, guru ini tahu benar kalau saya – mama dari si Bagus – itu Kristen.

Saya yang sudah susah payah mengajarkan anak-anak untuk menghargai perbedaan, kemudian harus menjelaskan hal ini ke anak saya. Menurut nganaaaa???? *Mendengus*. Untuk yang satu ini, segera saya lapor ke suami dan meminta guru ngajinya diganti :). Bukan apa-apa, tapi saat salah satu support system yang saya punya tidak memiliki pemikiran yang sama dengan saya, akan susah ke depannya. Jadi biar sama-sama nyaman, mending saya ganti toh. Terbukti sekarang guru ngaji anak saya sangat menyenangkan dan memiliki tingkat toleransi yang baik.

Well, tiga kejadian di atas membuat saya juga belajar untuk:
1. Jangan menggabungkan si kakak dan si adik di kelas les yang sama.
2. Menyampaikan pola pikir dan pola didik saya ke tenaga pengajar anak-anak saya.
3. Mencari tahu latar belakang pengajar yang akan menghabiskan sekian jam dalam seminggu bersama anak-anak saya.

Demikian pengalaman saya dengan beragam guru les, bagaimana dengan Mommies?


2 Comments - Write a Comment

  1. Meskipun anak2 saya belum ikutan les ini itu (karena masih bayi) tapi saya setuju dengan mb Fia.. Jangankan yg di luar rumah..di dalam rumahpun kadang beda cara didiknya. Misalnya aja yang disini udah nahan2 buat g pake gadget pas lagi momong bocah.. eh yg satunya malah nyodorin gadget. Duh biyung.. akibatnya si sulung mulai doyan gadget.. errgh. Hehe salam kenal mba Fia..

Post Comment