Kenapa Anak di Jepang Lebih Sehat?

Jepang dikenal sebagai negara yang tingkat kesehatan masyarakatnya sangat tinggi. Mengapa ini bisa terjadi? Sebenarnya, bagaimana pola makan sehat yang mereka terapkan?

Apa yang terbersit dalam benak Mommies apabila mendengar negara Jepang? Selain soal bunga sakura yang jadi ciri khasnya, saya selalu ingat kalau Jepang ini punya karakter bangsa yang pantas kita tiru. Mulai dari kedisiplinannya, pekerja keras, termasuk kemandirian. Singkat kata, saya pribadi sangat mengagumi metode pendidikan di Jepang. Jadi rasa-rasanya  sah-sah saja deh kalau kita meniru pola asuh di Jepang. Selama nggak melenceng dengan norma dan budaya kita sendiri, nggak ada salahnya untuk dipelajari, kan?

anak di Jepang lebih sehat*foto www.itcolossal.com

Ngomongin masalah pola asuh di Jepang, berbagai litelatur dan berita sering menyebutkan kalau anak-anak di Jepang itu sangat sehat. Nggak mengherankan kalau akhirnya, masyarakat Jepang punya harapan hidup yang lebih sehat dan lebih lama. Fakta ini diambil dari sebuah studi yang dipublikasikan The Lancet. Di mana, masyarakat Jepang diperkirakan bisa hidup sampai usai 73 tahun tanpa sakit berat. Secara garis besar, harapan hidup mereka berada di usia 80-an.

Yakin, deh, semua Mommies pasti punya harapan yang sama seperti saya. Mau hidup sehat sampai tua, sehingga bisa mendampingi suami dan punya kesempatan melihat pertumbuhan anak hingga mereka beranjak dewasa. Terus terang, saya jadi penasaran, sebenarnya seperti apa, sih, pola hidup sehat mereka? Oleh karena itu saya pun akhirnya mencari tahu hal apa saja yang membuat harapan hidup masyarakat di sana tinggi. Dan ternyata memang ada banyak hal yang bisa kita contoh.

Menu rumahan

Sudah bisa dipastikan kalau orangtua merupakan guru terbaik untuk anaknya. Anak adalah mesin foto copy, yang artinya, apa yang kita lakukan tentu anak ditiru oleh anak-anak kita. Berkaitan dengan pola makan yang sehat, rupanya masyarakat di Jepang punya kebiasaan untuk menikmati makanan rumahan setiap hari. Biar bagaimana pun, makanan yang diolah sendiri tentu akan jauh lebih sehat ketimbang jajan. Sebuah riset menunjukan kalau makanan yang dipilih dan dinikmati di rumah menjadi salah satu kunci bagaimana gaya anak di kemudian hari. Jadi, nggak ada salahnya untuk mengurangi kebiasaan jajan di luar rumah. Selain sehat untuk badan, bisa sehat di kantong juga kan? Hahaha.

Kalori kecil

Buat Mommies yang gemar makan makanan Jepang mungkin sudah ngeh, kalau hidangan khas Jepang ini terdiri dari semangkuk nasi dengan ukuran kecil, lauk yang dilengkapi dengan sup miso. Rupanya, masyarakat di Jepang memang mengonsumsi kalori yang sangat sedikit, sementara lebih menikmati sayuran, buah, dan tentu saja ikan-ikanan yang kalorinya memang sangat kecil. Walaupun begitu, bukan berarti harus pantang makan nasi, lho. Masyarakat Jepang justru tidak pantang makan nasi.

Fleksibel

Siapa di antara Mommies yang cukup cerewet dalam hal makanan? Maksudnya, cenderung membatasi anak untuk mencicipi beragam makanan.  Ternyata, pembatasan makanan yang ketat bukan jadi gaya hidup di Jepang. anak-anak di sana justru didorong untuk mencicipi beragam makanan, termasuk camilan. Hanya saja, porsinya memang tetap diperhatikan. Jadi, silakan saja menikmati es krim, cookies, atau keripik. Namun, untuk menghindari konsumsi yang berlebihan, tidak perlu stok camilan apalagi dalam jumlah yang besar. Dalam hal ini, saya sendiri termasuk orangtua yang cukup fleksibel. Sejauh porsinya nggak berlebihan, kenapa harus dilarang? Buat saya membiarkan anak menikmati beragam makanan adalah salah satu bentuk menjadi orangtua yang fun.

Banyak bergerak

Berdasarkan data dari WHO, ternyata 98% anak-anak pelajar di Jepang selalu menggunakan sepeda ketika berangkat atau pulang ke sekolah. Selain bersepeda, masyarakat di sana juga dikenal senang berjalan. Jadi nggak heran kalau aktivitas fisik ini sudah dibangun dalam kehidupan sejak usia dini. Sementara di Indonesia, seperti apa? Rasanya pemandangan anak-anak yang ke sekolah dengan sepeda sangat langka, ya. Di sini, anak-anak lebih banyak menggunakan mobil. Tapi sebenarnya nggak bisa disalahkan juga, sih, mengingat kondisi jalanan di ibukota yang masih sangat semrawut. Belum lagi kalau ingat di sini belum punya jalur sepeda yang layak.  Walaupun begitu bukan berarti kita nggak bisa membiasakan anak-anak untuk melakukan aktivitas fisik di luar rumah kan? Nggak ada salahnya kalau membiasakan anak-anak untuk bemain di luar rumah saat sore hari. Atau setidaknya, punya ritual olahraga bersama di akhir pekan.

Dari beberapa alasan di atas, sepertinya saya masih perlu usaha keras untuk lebih sering melakukan olahraga bersama Bumi. Bagaimana dengan Mommies yang lain?