Ferry Salim, Angkat Bicara Tentang Pencegahan Kekerasan Pada Anak

Apa yang dilakukan Ferry Salim, yang aktif sebagai Duta Nasional UNICEF untuk memerangi tindak kekerasan pada anak?

Ferry Salim, Angkat Bicara Tentang Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak

Sosok Ferry Salim tak hanya dikenal sebagai public figure, yang wara-wiri dalam berbagai film nasional, tapi kepeduliannya terhadap dunia anak-anak menurut saya pantas diacungi jempol. Ayah dari Brandon (19), Brenda (18) Raul (9) telah 11 tahun turut aktif sebagai Duta UNICEF. Selama itu pula ia memiliki kepuasaan tersendiri telah menjadi bagian usaha meminimalisir tindak kekerasan terhadap anak.

Bulan November lalu, bertempat di Jakarta saya sempat berbincang dengan beliau. Tepatnya pada acara “Hari Anak Sedunia dan Bergabung Sebagai Pelindung Anak”. Apa pandangan Ferry mengenai program ini? Dan bagaimana sepak terjangnya sebagai Ayah dalam memberikan perlindungan maksimal untuk ketiga buah hatinya? Silakan simak ya, Mommies.

Apa pesan Anda kepada masyarakat agar turut aktif untuk mencegah kekerasan terhadap anak?

Saya adalah wakil dari masyarakat dan orangtua, dimana saya memiliki anak-anak yang berusia remaja dan yang paling kecil 9 tahun. Menurut saya kalau kita bicara tentang perlindungan, berarti kita bicara tentang dua hal. Yaitu internal dan eksternal, dari sisi internal saya setuju dengan Ibu Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia – Yohana Yembise, kita harus mengawalinya dari keluarga. Karena keluarga itu pondasi yang sangat penting untuk pertumbuhan anak-anak. Orangtua harus memberikan contoh kepada anak-anak agar mereka pun berperilaku baik. Dan selanjutnya melakukan pendekatan antara orangtua dengan anak, sehingga ketika anak mendapatkan perlakuan tidak baik di luar – mereka akan sangat terbuka bercerita kepada orangtuanya, tanpa ada rasa takut dan malu. Hal itulah yang dapat menjadi pintu gerbang untuk bisa mengantisipasi apa yang terjadi pada anak kita.

Contoh nyata yang Mas Ferry sudah lakukan kepada anak-anak, seperti apa?

Salah satu contohnya saya memiliki anak yang paling kecil umur 9 tahun, ketika dia pulang sekolah saya melihat ada yang berbeda dari dia. Kalau sudah begini saya akan tanya, perihal kegiatan apa saja yang dia lakukan selama di sekolah, belajar dengan siapa, gurunya siapa, kemudian ketika pulang sekolah dia bertemu dengan siapa saja. Langsung naik ke mobil, atau sempat berjumpa dengan seseorang? Nah, anak saya sangat terbuka cerita tentang hal-hal yang saya tanyakan tersebut.

Saya pikir orangtua juga harus betul-betul waspada memerhatikan anaknya, jadi kalau misalnya ada perubahan sedikit saja yang terjadi terhadap anak-anak, kita harus tahu. Kok perlilakunya berubah ya, dan bahkan hal ini tidak hanya berguna untuk mengantisipasi anak-anak kita dari kejadian yang kurang menyenangkan. Tapi ketika mereka menggunakan NARKOBA, kita pun akan cepat mengetahuinya. Dari sisi internal ini, kita harus kuatkan dulu.

Lalu kalau dari segi eksternalnya Mas?

Dari segi eksternal, anak-anak perlahan tumbuh menjadi beranjak remaja dan pada akhirnya dewasa. Hingga akhirnya harus bersosialiasi dengan lingkungan sekitarnya, dan bertemu dengan orang-orang baru. Ajarkan mereka jangan sembarangan percaya dengan orang baru. Hal ini menurut saya sangat penting untuk dilakukan, karena ada trend para remaja berkenalan di social media, kemudian jadi berteman – ini sangat berbahaya. Teknologi internet memang bisa mendatangkan keuntungan, tapi seperti pisau bermata dua, jika tidak hati-hati maka akan terjerumus kepada hal-hal yang tidak baik. Sebagai orangtua, sebaiknya kita juga memberikan arahan kepada anak, cara menggunakan internet yang bijak.

Kemudian, masih dari segi internal. Saya selalu mengajarkan anak-anak untuk memiliki teman sebanyak mungkin dan dengan siapapun. Karena bisa berguna untuk membuat networking, untuk mendukung profesinya kelak di era globalisasi. Yang perlu diingatm teman tidak selalu mengajarkan hal yang baik kepada anak kita, tapi ada juga hal buruk yang mungkin saja diajarkan kepada anak kita. Dalam hal ini, anak harus bisa memilah, caranya diawali dengan poin internal tadi, semua berawal dari keluarga. selain itu landasan agamapun sangat penting.

Selanjutnya, tanggapan Ferry mengenai video yang diluncurkan UNICEF dan perannya sebagai Ayah yang hands on


Post Comment