Meniru Pola Asuh di Jepang

Parenting itu menyerupai  seni, ilmunya kaya dan bisa berasal dari manapun” – Vera Itabiliana

Meniru Pola Asuh di Jepang

Kutipan pernyataan dari Psikolog Anak dan Keluarga Vera Itabiliana dalam mini exhibition serta talk show mengenai “Pola Asuh Anak yang Baik dengan Mempelajari Nilai-nilai Positif dari Pola Asuh Anak di Jepang” yang diadakan oleh popok bayi Merries di sebuah mal yang berada di kawasan BSD.

Yang namanya pola asuh setiap orangtua pasti memilik ciri khas dan bahkan parenting secrets, namun saya percaya apapun konsep parenting yang dianut orangtua dan sebuah keluarga pastilah bermuara pada mengarahkan anak menjadi pribadi yang mandiri, disiplin dan kelak dapat bersaing sehat ketika masuk dalam dunia kerja. Setahun belakangan ini ada positive parenting yang sempat marak dibicarakan, konsep tersebut diadaptasi dari Jepang – yang intinya mengubah persepsi anak terhadap kejadian negatif untuk mengambil nilai positif yang ada dibalik kejadian tersebut.

Tak heran Jepang dikenal memiliki begitu banyak pribadi-pribadi yang andal di bidangnya, dan memiliki karakter disiplin yang sangat kuat. Berbicara tentang disiplin, dan kembali kepada pernyataan dari Vera, bahwa parenting itu bisa bersumber dari mana saja – selain positive parenting yang telah disebutkan di atas, masih ada beberapa nilai positif pola asuh Jepang yang layak kita pelajari dan terapkan untuk buah hati tersayang. Seperti yang dipaparkan oleh Vera berikut ini :

  • Kelekatan Ibu dan Anak

Di Jepang kelekatan antara ibu dan anak sangat diutamakan, atau biasa disebut bonding. Jadi sangat lumrah jika Mommies berkunjung ke Jepang akan menemui pemandangan seorang anak yang diboyong-boyong kemanapun oleh ibunya. Mereka tidak mengenal baby sitter maupun pengasuh. “Poin ini bagus sekali, karena dari teori psikologi pada tahun pertama sejak anak lahir bonding attachment antara anak dan ibu terbentuk.” Tutur Vera.

Perihal kelekatan ini Vera mengingatkan, ketika anak lahir diibaratkan anak seperti mengetes dunia luar, karena waktu di kandungan dia merasa sangat nyaman dan tidak perlu menangis untuk mendapatkan apa yang dia mau. Artinya ketika lahir, jika ia menerima perlakuan kasar, tidak lembut dan penuh kasih sayang, bahkan dibiarkan menangis berjam-jam. Maka si kecil akan terbentuk menjadi pribadi yang tidak percaya terhadap lingkungannya. Beranggapan lingkungannya tidak sayang dengan dirinya.

Namun kebalikannya, jika orangtua jeli membaca kebutuhan si kecil, anak juga akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya pada lingkungan. “Jadi hubungan kepercayaan antara anak dan ibu adalah dasar segalanya.” Tukas Vera.

  • Kemandirian,

Anak sedini mungkin dibiasakan melakukan aktivitas bantu diri, yaitu semua aktivitas yang menyangkut dirinya sendiri secara mandiri. Mulai dari merapikan mainan, pakai baju, makansendiri hingga ke toilet training. Sehingga bertambah usia anak sudah terbiasa melakukan semua itu sendiri.

Sedini mungkin yang dimaksud bisa sejak kapan? Menurut Vera, dari si kecil belum lahir, anak sudah bisa merasakan pola-pola kegiatan ibunya. Jadi sebaiknya ibu memiliki jadwal yang teratur. Walau pada praktiknya nanti ke anak tidak bisa kaku, karena bagaimana pun penerapan disiplin pada anak harus dengan cara menyenangkan.

  • Disiplin

Kemandirian pada poin di atas erat kaitannya dengan disiplin diri. Menerapkan disiplin mendatangkan banyak manfaat untuk si kecil. Dari disiplin anak belajar untuk menata dirinya sendiri, anak belajar berempati, misalnya menunggu giliran antre.

Selanjutnya, simak beberapa kiat menerapkan disiplin pada anak


One Comment - Write a Comment

Post Comment