Karier & Gaji Istri di atas Suami, Rawan Konflik?

Ketika karier dan penghasilan seorang istri di atas suami, konon akan rawan menimbulkan konflik. Namun, asal tahu kita tahu bagaimana bersikap, konflik bisa dihindari, kok.

WOMEN MONEY

Zaman sekarang, sudah lumrah, ya, kalau penghasilan seorang istri di atas suami? Paling nggak, saya sudah melihat di lingkungan terdekat. Ada beberapa sahabat saya yang justru banyak membantu urusan finansial keluarga. Termasuk teteh (kakak perempuan tertua) saya. Hebatnya, ketika melihat karir istrinya lebih cemerlang, kakak ipar saya sangat mendukung bahkan rela resign dari pekerjaannya dan memutuskan untuk berwira usaha sehingga punya banyak waktu bersama anak semata wayangnya.

“Bidang pekerjaan sebagai aktuaria itu kan masih sangat langka di Indonesia. Bagi saya, siapa yang punya kesempatan lebih baik, ya, harus didukung sepenuhnya. Kalau masalah konflik dalam rumah tangga tentu bisa terjadi kapan saja dan pada pasangan mana pun. Nggak cuma pada pasangan yang istrinya punya karier dan gaji lebih tinggi. Semua tinggal bagaimana kita menyikapinya,” ujar kakak ipar saya, Hudi Setiawan.

Mendengar menjelasannya, saya cukup kagum. Soalnya tidak semua suami punya pola pandang yang sama. Bahkan sepengetahuan saya, di luar sana masih banyak, kok, suami yang membatasi ruang gerak istrinya. Boro-boro, deh, bisa berkarir dengan bagus, lah wong, untuk bekerja saja nggak boleh.

Seperti yang diungkapkan Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si , bahwa kondisi karier dan gaji istri yang lebih besar sering kali memicu konflik akibat adanya budaya di Indonesia yang sudah terlanjur melekat. “Budaya di sini kan sering kali memandang kalau suami iti lebih maskulin, suami adalah pemimpin dan kepala keluarga, sehingga sering kali melihat bahwa dalam hal apapun posisi mereka selalu ada di atas atau tertinggi, termasuk soal gaji,” ungkap psikolog keluarga yang sering saya sapa dengan Mbak Nina Teguh. Dengan demikian, tidak heran kalau akhirnya masih ada suami yang akhirnya merasa tidak nyaman dengan kondisi seperti itu.

Lebih lanjut, Mbak Nina mengatakan untuk menghindari terjadinya konflik, ada beberapa hal yang perlu diingat dan dilakukan. Terutama oleh kita, para istri. “Penting pagi kita, para istri untuk menjaga sikap dan terus ingat bahwa  meskipun penghasilan lebih tinggi, suami itu tetap suami. Laki-laki yang harus dihormati dan dihargai. Jangan sampai kedudukan suami sebagai kepala keluarga berubah,” ungkapnya.

Terlebih apabila membahas masalah keuangan keluarga. Mengingat masalah yang satu ini adalah ranah yang sensitif, mengomunikasikannya pun perlu hati-hati. Ketika suami merasa tidak nyaman, bukan tidak mungkin akhrirnya akan memicu terjadinya konflik. “Hindari membahas soal penghasilan ini di depan orang, termasuk anak. Bicarakan secara perlahan hanya di antara suami dan istri saja.”

Oh, ya, waktu itu Mbak Nina juga mengingatkan, kalau sebisa mungkin tidak perlu membadingkan kondisi dengan orang lain, termasuk dalam bentuk celetukan atau bercanda. Lagi pula, ingat saja pepatah yang menyebutkan rumput tetangga sering kali tampak lebih hijau. Tapi sebenarnya kita kan nggak tahu bagaimana kondisi ‘dapur’ aslinya?

Dalam pernikahan, suami istri itu perlu untuk saling mendukung dan menguatkan. Dari sini, jelas kalau upaya menjaga perasaan itu perlu dilakukan semu pihak. Kadang istri suka lupa dan bertingkah yang tidak semestinya sehingga memancing sebuah masalah. Masalah finansial ini seharusnya tidak memengaruhi kedudukan kita di depan suami,” ungkap Mbak Nina lagi.

Lewat obrolan ini saya pun lantas menyimpulkan salah satu kunci menghindari konflik dengan pasangan terletak pada diri kita sendiri, dan bagaimana mengomunikasikannya secara gamblang. Termasuk soal alokasi dana dan tanggung jawab masing-masing pihak. Umh, ada yang mau menambahkan?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Post Comment