PD Kembali Bekerja Setelah Cuti Melahirkan

Setelah 3 bulan cuti melahirkan, tiba saatnya untuk Mommies kembali bekerja. Supaya nggak (terlalu) ‘patah hati’, ada beberapa cara yang bisa dilakukan supaya PD bekerja setelah cuti melahirkan.

Bisa dibilang, masa saya menikmati cuti melahirkan sudah lewat beberapa tahun lalu. Lah wong, anak saya, Bumi, sekarang usianya sudah mau 6 tahun. Tapi, saya masih ingat gimana rasanya ketika harus mulai bekerja. Meskipun cinta berarti kerja, tapi saat itu kembali ngantor terasa jadi ‘kejutan’ yang nggak mengenakkan.

ibu bekerja

Pertanyaan yang ada di benak saat itu, “Bagaimana anak gue nanti, ya? Nggak tega rasanya ninggalin anak sendiri yang masih bayi. Kondisi seperti ini, apa bisa kerja dengan maksimal? Jangan-jangan meskipun fisik berada di kantor, pikiran dan jiwa nggak ada di sana. Sibuk kerja, apa masih sempat mengumpulkan ASIP?” Intinya, perasaan ibu yang akan bekerja setelah cuti melahirkan campur aduk.

Sebagai ibu baru, rasanya kondisi seperti  memang lumrah terjadi. Paling tidak, sebagian besar teman dekat saya pun merasakan hal serupa. Padahal, dulu saya pun sudah menyiapkan segala hal saat menjalani cuti. Termasuk soal manajeman ASIP. Belajar dari pengalaman ini, saya pun bisa memetik banyak pelajaran kalau banyak hal yang perlu dipersiapkan supaya kita merasa PD  bekerja setelah cuti melahirkan.

Kuatkan hati

Setelah 3 bulan terus menerus di samping bayi, sidah bisa dipastikan saat ingin meninggalkannya akan terasa berat. Tapi, bukan berarti nggak bisa dilalui kan? Toh, bekerja merupakan pilihan sendiri yang juga bisa membuat saya bahagia. Jadi, percaya saja kalau pilihan untuk bekerja adalah pilihan terbaik, dan bayi pun akan tetap aman meskipun saya bekerja.

Cari bantuan

Walaupun support system saya sangat bagus, bukan berarti saya nggak punya rasa takut. Salah sati ketakukan ketika harus kembali bekerja berkaitan dengan pengasuh. Meskipun masih tinggal di rumah orangtua, bukan berarti tugas mengasuh dan  menjaga anak bisa didelegasikan begitu saja. Selain usianya sudah cukup sepuh, orangtua kita sebenarnya hanya bertindak sebagai pengawas saja. Menitipkan anak pada orangtua tetap ada etikanya. Untuk itulah, penting untuk punya pengasuh yang bisa kita percaya.

Buat jadwal

Buat daftar harian yang harus dilakukan. Di awal-awal kembali ke kantor, pikiran Anda bisa jadi masih melayang pada si kecil dan bingung, mana tugas kantor, mana tugas rumah. Identifikasi apa yang harus dilakukan segera di kantor dan apa yang bisa ditunda.

Latih rutinitas pagi

Saat berada di masa transisi, saya sudah melatih untuk menjalankan rutinitas yang akan saya lakukan ketika kembali kerja. Mulai dari bangung lebih pagi, sarapan, mandi, sampai dengan aktivitas lainnya. Selain itu, saya pun sedikit-sedikit membiasakan diri berpisah dengan si kecil rumah. Meskipun hanya keluar rumah selama dua atau tiga jam saja, paling nggak saya bisa belajar menata hati ketika berjauhan.

Melatih si kecil meyusui dari feeder cup atau dot

Meskipun bekerja, pemberian ASI eksklusif tentu saja bisa berjalan lancar. Kuncinya manajemen ASI dan melatih si kecil menggunakan feeder cup. memeberikan ASI menggunakan dot memang nggak disarankan karena berisiko memicu terjadinya bingung puting. Tapi, kalau dari pengalaman saya, Bumi jutsru menolak diberikan ASI dengan feeder cup. Syukurnya, meskipun akhirnya menyusu degan dot, Bumi tetap mau saya susui secara langsung.

Bicara kepada atasan

Alhamdulillah, saat ini saya bekerja di perusahaan media yang paham kebutuhan seorang ibu. Jadi, kalau nanti saya hamil lagi, tentu akan lebih mudah untuk menjalaninya. Sayangnya, nggak semua kantor paham kebutuhan para ibu. Dengan demikian, coba utarakan pada atasan mengenai segala kondisi yang akan terjadi, misalnya meminta kelonggaran waktu dalam bekerja karena perlu menyelinap 2-3 kali untuk memerah ASI. Syukur-syukur jika kantor kita menyediakan tersedia nursery room yang nyaman. Jika tidak, pinjam saja ruangan lain yang tertutup dan bersih untuk pumping. Sedihnya, dulu saya pernah terpaksa memerah ASI di toilet karena kondisi kantor yang tidak memungkinkan untuk menyediakan ruangan. Fasilitas laktasi di kantor patut untuk diperjuangkan.

Jaga komunikasi

Hal penting lainnya adalah masalah komunikasi dengan pengasuh atau orangtua di rumah. Dengan mengetahui kondisi anak kita aman, pasti kita jadi lebih leluasa untuk bekerja. Nggak ada salahnya, kok, sehari sekali menelepon orang rumah, sekedar menanyakan dan mengingatkan kebutuhan si kecil.

Nggak perlu jadi supermom

Seorang ibu yang bisa multi tasking memang sudah nggak perlu dibantah lagi. Tapi bukan berarti kita harus bisa mengerjakan semua pekerjaan sendirian,  tanpa bantuan orang lain.  Termasuk berharap kalau semua berjalan secara sempurna sesuai keinginan. Misalnya, ingin kondisi rumah yang super apik, atau  bisa memasak sendiri untuk suami tercinta. Pahami saja kalau kita punya keterbatasan sehingga harus memilih proritas.