Saat Harus Berpisah Dengan Anak

Ditulis oleh: Lariza Puteri

Tidak ada kata yang bisa menggambarkan perasaan saya ketika harus berpisah dengan anak. Ternyata, separation anxiety itu juga bisa dialami seorang ibu ya :(.

Sebelum menikah dan punya anak, saya bekerja full time di sebuah rumah sakit. Jelang melahirkan, saya pun memutuskan untuk ‘istirahat’ sejenak dari huru hara pekerjaan. Jadilah saat Dhia lahir, saya memutuskan untuk resign. Tepat di usia Dhia yang ke 6 bulan, keinginan untuk bekerja pun muncul lagi. Tidak lama, saya kembali bekerja di sebuah perusahaan media. Hari pertama bekerja, perasaan saya masih biasa saja. Ini karena saya sudah menyiapkan jauh-jauh hari.

Sampai suatu hari, drama khas ibu-ibu vs pengasuh tiba. Pengasuh harian Dhia tidak bisa datang, saya ada meeting penting dan suami sedang dinas ke luar kota. Combo ya dramanya :D. Solusi saat itu adalah memasukkan Dhia ke daycare dekat rumah, sambil mengucap doa agar semua berjalan lancar *finger cross*.

Kalau ditanya bagaimana perasaan saya sepanjang hari itu? Gado-gadolah pokoknya. Menyesal, marah pada diri sendiri, mata ngembeng menahan nangis, khawatir dan bawaannya mau resign.(Duhh, mengingat kejadian ini saja, mata saya berkaca-kaca). Anaknya? Baik-baik aja, happy aja dan enjoy!

separation anxiety

Dari sini saya sadar bahwa separation anxiety itu ternyata rentan ‘menyerang’ ibu-ibu macam saya ini. Masalahnya, sebagai ibu yang aktif wira-wiri kesana kemari, suka atau tidak, saya harus prepare kalau kejadian seperti ini akan terulang lagi. Saya pun mencoba menerapkan tips agar perang batin tidak terjadi lagi :D:

1. Lakukan persiapan
Ada perbedaan besar saat kita melakukan persiapan dengan tanpa persiapan. Persiapan yang saya maksud adalah persiapan diri, mulai dari memilih pengasuh atau daycare, persiapan emosi, nomor telepon rumah sakit (bila terjadi hal-hal yang tak diinginkan), dan termasuk memikirkan kegiatan apa saja yang bisa Dhia lakukan saat saya tidak berada di rumah. Dengan persiapan detail membuat saya jauh lebih tenang saat meninggalkan Dhia.

2. Berlatih
Cara ini tidak hanya berguna bagi anak tapi juga berguna bagi kita untuk melatih hati dan perasaan. Saat itu, saya melakukan latihan idengan pergi sebentar meninggalkan Dhia dengan salah satu orang kepercayaan saya. Dengan cara ini saya jadi punya gambaran seperti apa perasaan saya saat meninggalkan Dhia. Bila pada akhirnya ku tak sanggup (loh malah nyanyi), maka paling tidak saya masih punya waktu untuk membatalkan aktivitas yang akan saya lakukan atau mencari alternatif.

3. Meyakinkan diri sendiri
Bila Anda sudah mengambil keputusan, maka yakinlah akan hal tersebut. Bila diri sendiri saja sudah ragu, biasanya yang akan terjadi saat harus berpisah adalah drama tak berkesudahan dan perasaan menyesal tidak akan pernah hilang. Saat saya merasa yakin, saya memang terbukti lebih tegar, tenang dan percaya diri. Pekerjaan pun cepat selesai dan saya bisa lebih cepat pulang ke rumah, yeaaay.

4. Tetap tegar
Bagi saya, sangat penting menunjukkan ketegaran saat akan pergi di depan anak. Yah, meskipun hati tetap saja berkeping-keping. Masalahnya kalau saya ikut bercucuran air mata bagaimana saya bisa mengajarkan anak tentang “It’s oke loh nak berpisah sebentar itu.”

5. 30 menit napas lebih panjang
Tak hanya anak, ibu pun perlu ada deal dengan perpisahan. Itulah sebabnya, 30 menit setelah meninggalkan Dhia, saya selalu menarik napas lebih panjang untuk menenangkan diri sendiri. Dan lucunya, kalau saya butuh 30 menit untuk menenangkan diri, Dhia justru hanya membutuhkan waktu 15 menit. Tidak jarang dalam rentang waktu 30 menit ini, saya menelpon suami untuk mendapatkan dukungan darinya. Bagaimanapun saat dijalani berdua, segala akan lebih mudah kan :D.

6. Tanyakan hal positif pada diri Anda
Saat saya sudah berkomitmen untuk kembali bekerja setelah punya anak, artinya saya pun sudah memilikirkan segala hal yang mungkin terjadi. Menurut saya, Dhia pun perlu mengerti, bahwa setiap anggota keluarga perlu memiliki aktivitas, apapun bentuknya. Dan masing-masing dari kita (seluruh anggota keluarga) perlu menghargainya. Inilah yang kemudian menguatkan saya saat harus meninggalkan Dhia. Saya selalu menanyakan hal-hal positif saat akan meninggalkan Dhia. Misalnya, apa tujuan saya bekerja, atau apa yang akan Dhia dapatkan dari ‘pelajaran’ ditinggal ibunya sejenak.

Mommies memiliki tips tambahan untuk saya? Mungkin bisa saya terapkan pada calon anak kedua nanti, hehehe.


Post Comment