Yang Anak Pelajari Dari Natal

Di balik kemeriahan Natal, akan selalu ada pelajaran yang didapatkan oleh si kecil. Apa yang anak pelajari dari Natal?

Saya tumbuh besar dalam lingkungan keluarga yang tidak menjadikan agama sebagai sebuah ‘keturunan’. Maksudnya, mama saya memastikan agar kami, anak-anaknya rutin beribadah dan memilih agama tidak berdasarkan turunan dari orangtua. Itulah sebabnya dari kecil kami dibiasakan untuk bertanya tentang agama, mempelajari dan memahaminnya. Itulah sebabnya keluarga kami cukup beragam pilihan agama yang dianut.

Ketularan mama, saya pun juga bukan tipe orangtua yang memaksa anak untuk ikut saya atau ayahnya. Pesan saya hanya satu, pilih agama yang mereka yakini itu benar dan membuat mereka menjadi pribadi yang jauuuuh lebih baik (tsaaaaah….. bijak yah saya :D). Dan, kalau pada akhirnya mereka memutuskan untuk memeluk agama Islam (untuk si kakak) dan memeluk agama Kristen (untuk si adik) ya sudah.

Meskipun begitu, saya selalu berusaha mengajarkan anak-anak untuk melihat hal positif dari setiap kemeriahan perayaan umat beragama. Karena saya nggak mau mereka hanya paham bagian makan-makan enaknya, nerima kado, nerima uang atau beli pakaian barunya.

christmas-light

1. Belajar berbagi
Memberi kado untuk anak-anak di panti asuhan merupakan salah satu kegiatan Natal yang sudah dua tahun ini dilakukan oleh anak-anak saya. Pilihan kegiatan Natal yang terinspirasi dari seorang teman saya. Dari sini mereka belajar untuk berbagi dan melihat bahwa masih banyak anak yang tidak seberuntung mereka.

2. Mengenal sanak saudara
Mengirim kartu ucapan otomatis membuat mereka bertanya untuk siapa kartu ini akan dikirm? Om, tante, eyang, sepupukah? Sekalian saja mereka belajar mengenal saudara yang mungkin hanya mereka ketahui dari foto.

3. Menghargai perbedaan
Saya sudah pernah cerita kalau tidak jarang kami mengirimkan hampers atau penganan ke tetangga sekitar rumah yang tidak beragam Kristen. Kalau si kecil bertanya “Emangnya si ayahnya Bagas Natalan, Mah?” Ya saya bisa bilang, kalau yang namanya ngasih orang itu nggak perlu nyari yang sama seperti kita.

4. Belajar sabar
Malam Natal itu biasanya membutuhkan waktu yang lebih lama dalam urusan ibadah. Namanya anak kecil yang rentang konsentrasinnya masih pendek, bisa dibilang ini jadi tantangan tersendiri. Nah, waktunya mereka belajar sabar deh mengikuti ibadah Natal :D.

5. Belajar menerima kenyataan
Ini sebenarnya berkaitan dengan kehadiran sosok Sinterklas atau Santa Claus. Dari anak-anak saya kecil, saya sudah mengajarkan kepada mereka kalau sosok Sinterklas itu tidak sesuai dengan apa yang ada di gambaran mereka. Bahwa hadiah atau kado yang mereka terima ya itu dari mama, eyang atau bunda, bukan dari Sinterklas. Jadi anak-anak saya belajar untuk memahami fakta yang sesunguhhnya, hehehe.

Buat Anda yang merayakan Natal, selamat merayakan dan menikmati hari bersama keluarga.

 

MERRY CHRISTMAS 2015 dan SELAMAT BERLIBUR


Post Comment