Cegah Anak Alami Peter Pan Syndrom dan Cinderella Complex

Menurut Ibu Elly Risman, faktor yang paling berpengaruh menyebabkan Peter Pan Syndrom dan Cinderella Complex tentu saja dari pola asuh orangtua. Pola asuh yang bagaimana?

Beberapa bulan yang lalu, saya sempat menulis soal Peter Pan Syndrome & Cinderella Complex, Berbahaya Bagi Masa Depan Anak. Kalau kemarin saya menulis apa saja akibat dari sindrom Peter Pan dan Cinderella Complex, kali ini saya ingin mencoba merangkum bagimana cara mencegah anak-anak kita mengalami sindrom tersebut. Rangkuman ini tentu saja saya dapatkan dari materi yang diberikan Ibu Elly Risman saat acara seminar Supermoms Indonesia.

peterpan syndrom

Sekedar mengingatkan Peter Pan Syndrom dan Cinderella Complex merupakan ketidakmampuan seseorang untuk tumbuh dewasa secara psikologis. Menurut Durand dan Barlow (Intisari Psikologi Abnormal, 2007) orang dengan sindrom seperti ini punya hambatan untuk menjadi dewasa. Secara psikologis, kedewasaan bisa dilihat lewat kemampuan mengambil keputusan, punya identitas diri, bisa berempati, inisiatif, mandiri, bertanggung jawab, dan mampu mengontrol emosi. Pantas saja apabila sindrom ini sering menyebabkan terjadinya perceraian. 

Jadi, bagaimana peter pan syndrome dan cinderella complex ini bisa tumbuh pada diri anak-anak? Menurut Ibu Elly Risman, faktor yang paling berpengaruh tentu saja dari pola asuh orangtua. Orangtua yang selalu melindungi, yang terus membiarkan anak bermanja-manja secara berlebihan sehingga ia terus merasa hidupnya nyaman tanpa beban merupakan pola asuh yang harus kita hindari.

Contohnya begini… anak-anak yang diperlakukan sebagai raja, otomatis akan merasa hidupnya nyaman. Tidak pernah susah. Mau ini itu, langsung diberikan oleh orang tuanya. Belum lagi zaman sekarang, satu anak biasanya akan punya satu baby sitter. Akibatnya, anak-anak pun tidak belajar tanggung jawab dan tidak siap menerima realita hidup. Hal inilah bisa menyebabkan terjadinya peter pan syndrome dan cinderella complex.

Pertanyaannya, pola asuh yang seperti apa?

Cara yang bisa kita lakukan adalah mulai membiasakan diri dengan melatih anaknya lewat BMM (Berfikir-Memilih-Mengambil Keputusan). Cara yang paling mudah bisa kita lakukan adalah dengan sering mengajukan kalimat tanya sehingga memancing anak untuk berpikir, dan akhirnya punya kemampuan untuk mengambil keputusan sendiri.

“Bagaimana perasaanmu tentang hal ini?”

“Kira-kira, apa yang kamu perlu lakukan, ya?

“Kalau kamu melakukan hal itu, apa akibatnya?”

Ketika mengajukan pertanyaan, jangan lupa perhatikan intonasi suara. Jangan sampai bernada kasar sehingga bisa menyudutkan anak. Kalau begini, sih, jutsru kita yang melakukan kekerasan verbal. Dalam hal ini Ibu Elly Risman menegaskan, kalau yang dibutuhkan adalah gaya parenting otoritatif, yaitu bisa menyeimbangkan antara ekspektasi, dukungan atau kasih sayang serta keseimbangan logika dan cinta. Waktu itu beliau pun mencontohkan, orangtua yang punya ekspektasi yang tinggi harus bisa memberikan dukungan, misalnya “Mama dan papa ingin kamu melakukan hal ini, apa yang bisa bantu?”

Untuk anak laki, Ibu Elly menitik beratkan agar kita para orangtua tidak tidak terlalu memanjakan, tidak selalu dibela jika melakukan kesalahan, dan tidak selalu menuruti permintaannya. Singkatnya, anak-anak perlu diajarkan menerima kenyataan hidup. Kita sebagai orangtua tentu perlu melatih diri bagaimana berkomunikasi dengan anak, selain itu dual parenting merupakan salah satu kunci kesuksesan dalam pengasuhan anak. Jadi, peran suami sangatlah penting, nih.

Sebagai orangtua, kita pun perlu memahami adanya perbedaan struktur otak laki- laki dan perempuan, sehingga cara pengasuhan akan berbeda. Misalnya, dengan memerhatikan teknik berkomunikasi dengan anak. Ibu Elly Risman menerangkan kalau laki laki memiliki otak lebih berat 50 gram dibanding perempuan. Sehingga anak kaki laki cenderung lebih rasional, kurang empati dibanding perempuan dan fokus pada solusi.

Sementara otak perempuan memiliki corpus collosum, yaitu jembatan otak kiri dan otak kanan yang lebih tebal. Sehingga perempuan cenderung lebih emosional, insting lebih tajam dan bisa langsung bertindak cepat meskipun masih berpikir. Hal inilah yang menyebabkan perlunya pendekatan berbeda antara anak laki laki dengan perempuan. “Saat bicara sama suami atau anak laki-laki jangan lebih dari 15 kata supaya mereka ingat. Sedangkan kalau istri atau anak perempuan, ngomong bisa berpanjang lebar dan muter-muter lebih dulu,” jelas Ibu Elly.

Poin lain yang di hightlight dalam seminar adalah bagaimana kita bisa menekankan semua aspek pekembangan dan kecerdasan anak. “Untuk mendidik anak menjadi tangguh tidak hanya menekankan akademis, karena sukses tidak hanya ditentukan oleh IQ,EQ,SQ saja tapi juga AQ. AQ atau Adversity Quotient menujukkan sejauh mana anak dapat bertahan dalam penderitaan dan dapat mengatasinya dengan baik.”

Ketika anak sekolah ternyata ada buku pelajaran yang tertinggal di rumah, apa yang akan kita lakukan? Langsung mengantarkan buku tersebut ke sekolah atau justru membiarkan saja? Langkah yang tepat tentu saja tidak mengantarkan buku tersebut ke sekolah. Hal ini berguna untuk melatih AQ anak. Dengan kemampuan AQ ini, anak-anak akan berusaha ‘deal’ dengan tantangan. Kenyataannya banyak orangtua yang salah ambil langkah karena merasa tidak tega.

Oh, ya, waktu itu Ibu Elly Risman juga sempat membahas mengenai innerchild. Innerchild adalah sebuah kondisi kejiwaan yang membekas dari masa kecil. Meskipun innerchild ini tidak selalu buruk, namun kita perlu bijaksana menyikapinya. Waktu itu Bu Elly memberikan contoh, seorang ayah yang dulunya kehilangan ibu dari kecil ke depannya bisa sangat tergantung pada istrinya. Sebaliknya, seorang istri yang dulunya dididik terlalu keras dan mandiri oleh ayahnya, ketika sudah menikah akan tidak mau dibantu suaminya.

Oleh karena itulah, hal pertama kali yang harus dilakukan orangtua adalah perlunya healing innerchild pada diri kita sendiri. Kita perlu memahami innerchild diri sendiri dan pasangannya lebih dulu. Dengan begitu bisa menjembatani kebutuhan innerchild tersebut dan saat mendidikan anak bisa melakukan dual parenting sehingga timbul kesepahaman dan kesepakatan. Setelah kita bisa berdamai dengan diri sendiri, tentu pola asuh yang kita jalankan akan lebih baik dan terasa menyenangkan.


4 Comments - Write a Comment

  1. Hi, mau share…setelah membaca 2 artikel tentang cinderella complex ini, saya merasa ada kemiripan dengan saya…saya termasuk ke dalam cinderella complex ini…dan saya analisa, innerchild orang tua saya waktu dulu adalah orang yang tidak mampu, sekolah sulit,makan sulit,diremehkan dan direndahkan oleh orang lain…sehingga orang tua membentuk saya dengan memberikan segala kenyamanan agar saya tidak seperti mereka,dengan imbal baliknya saya harus sekolah yang bener,setinggi2nya,dan berkelakuan baik..Saya sering diantar orang tua ke kantor, kadang suka di jemput juga…kalau ada barang yang ketinggalan di rumah,orang tua dengan senang hati mengantarkan ke kantor,dan hal ini membentuk karakter saya yang menjadi kutu loncat dalam pekerjaan, menyerah ketika mendapati masalah di kantor,dst…Saya sedikit2 mulai berubah ketika menikah karena suami orang yang mandiri,saya tidak boleh mengeluh,harus struggle dan harus mandiri (karena suami sering keluar kota). Thx for infonya ya mba, dengan adanya artikel ini, saya berusaha untuk mengajarkan ke anak laki2 saya agar mandiri dan tidak mengalami peterpan syndrome

    1. adiesty

      Hai Mbak, salam kenal, ya.

      Senangnya kalau artikel ini bisa bermanfaat. Mudah-mudahan kita semua bisa menerapkan pola asuh yang baik untuk anak-anak, ya. Orangtua mana, sih, yang nggak mau anaknya bisa mandiri, bisa siap melewati hidup yang sering kali berjalan tidak sesuai dengan keinginan. Syukurnya, kita punya suami yang bisa bantu dan dukung, ya. Kalau nggak, sih, bisa repot benueeerrrr :D

    1. adiesty

      Hallo Mbak…. wah, senangnya kalau artikel ini bisa bermanfaat. Ngomongin soal font, memang diubah, sih, mengikuti layout yang baru. Menurut Mbak, font-nya kurang ok? Makasih, ya, Mbak buat masukannya. Bisa buat bahan pertimbangan :D

Post Comment