Problem perut saat hamil

9 Gangguan Perut Saat Hamil (Part 2)

Ditulis oleh: Lariza Puteri

Gangguan pada perut merupakan salah satu gangguan yang kerap terjadi pada ibu hamil. Ada yang tidak berbahaya, namun sebaliknya, ada yang perlu diwaspadai.

Beberapa waktu lalu saya sudah pernah membahas empat jenis gangguan perut saat hamil. Nah, artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel yang sebelumnya.

  1. Kehamilan ektopik

Mbak Fia pernah bercerita mengenai pengalamannya saat mengalami kehamilan ektopik. Kehamilan ektopik ini merupakan kehamilan yang terjadi bukan di dalam rahim, melainkan di luar rahim. Lokasi tersering kehamilan ektopik adalah di saluran telur. Ciri-ciri seorang ibu yang mengalami kehamilan ektopik sangat beragam. Bahkan tak semua ibu mengalami gejalanya.

Gejalanya: Jika seorang ibu mengalami rasa nyeri perut hebat, keringat dingin dan perdarahan seperti menstruasi terus menerus maka kemungkinan besar saluran sudah pecah dan terlah perdarahan di dalam perut ibu. Wanita yang berisiko mengalami kehamilan ektopik adalah mereka yang sering mengalami keputihan atau keputihan berulang, nyeri panggul terus-terusan atau kronis, wanita dengan gangguan kesuburan, dan mereka yang pernah mengalami kehamilan ektopik sebelumnya.

Cara mengatasi kehamilan ektopik tergantung kondisi kehamilan ektopik saat itu. Tapi secara umum kehamilan ektopik bisa diatasi dengan pemberian obat ataupun dengan operasi.

Problem perut saat hamil

*Gambar dari sini

  1. Keguguran

Tak sedikit ibu yang mengalami keguguran, dan paling sering terjadi pada kehamilan trimester pertama. Itulah sebabnya, para orangtua sering kali mengingatkan kita untuk berhati-hati dan tidak boleh terlalu lelah saat sudah diketahui hamil. Menurut dr. Jimmy, umumnya keguguran disebabkan oleh kelainan genetik pada sang bayi (sekitar 50% lebih). Sisanya disebabkan oleh faktor ibu, seperti kondisi penyakit yaitu hipertensi, diabetes, penyakit gondok, jantung, gangguan pembekuan darah, gangguan kekentalan darah, dan lain-lain. Tak hanya itu, suami juga turut menyumbang kejadian ini. Faktor dari suami yang kerap kali menyebabkan keguguran adalah gangguan kualitas sperma, dan ada pula faktor yang tidak diketahui.

Gejala keguguran atau lebih tepatnya kegagalan kehamilan pada usia muda (di bawah 20 minggu atau5 bulan) tidak selalu ada. Namun, gejala tersering adalah adanya perdarahan seperti munculnya bercak atau spotting atau flek pada awal kehamilan diikuti rasa mulas, kram pada perut bagian bawah dan perdarahan yang makin banyak, kadang disertai dengan keluarnya jaringan kehamilan secara utuh atau sebagian.

Sayangnya, tidak semua keguguran dapat dicegah, apalagi bila keguguran disebabkan oleh kelainan genetik pada bayi. Jika kita berbicara mengenai kelainan genetik, maka hingga saat ini belum ada obat tertentu yang dapat mengobati maupun mencegah kelainan genetik pada janin tersebut. Pasangan dengan keguguran berulang (keguguran dua kali atau lebih) perlu berkonsultasi dengan dokter kandungan sebelum merencanakan kehamilan berikutnya.

  1. Kelahiran prematur

Kelahiran prematur hingga saat ini masih menjadi isu pada dunia medis. Tidak semua kelahiran prematur bisa dicegah. Kelahiran prematur adalah kelahiran yang terjadi di bawah usia kehamilan 37 minggu. Yang perlu diketahui, penyebabnya ternyata sangat beragam. Mulai dari beberapa kondisi medis pada ibu seperti penyakit jantung, ketuban pecah dini, dan preeklampsia. Namun, penyebab tersering dari kontraksi prematur yang terjadi sebelum usia kehamilan 37 minggu adalah infeksi. infeksi ini bisa datang dari mana pun, seperti infeksi saluran pernapasan, infeksi gigi, keputihan, infeksi mulut rahim, infeksi vagina dan lainnya.

Saat terjadi kontraksi prematur ibu hamil akan mengalami mulas-mulas, keluar lendir dan darah. Bila terjadi hal yang demikian, ibu hamil dapat masuk ke dalam proses persalinan, padahal belum waktunya proses persalinan terjadi. Persalinan idealnya terjadi antara 38-40 minggu.

Hal yang perlu menjadi perhatian ibu hamil adalah segera periksakan diri jika memiliki kecurigaan infeksi di tubuh. Jika ibu hamil mengalami keputihan dalam jumlah yang cukup banyak, gatal, berbau, kental, warna kehijauan atau kekuningan, segera periksakan diri ke dokter karena jenis keputihan seperti ini biasanya akibat infeksi pada mulut rahim. Tanpa pengobatan yang sesuai, infeksi ini bisa membuat ibu hamil mengalami kontraksi prematur.

  1. Plasenta bergeser

Plasenta bergeser adalah suatu fenomena bergesernya plasenta, di mana saat trimester pertama hingga kedua kehamilan, plasenta terlihat menutupi serviks atau  mulut rahim. Tapi, saat mendekati akhir kehamilan atau trimester ketiga, plasenta sudah tidak menutupi serviks lagi. Tidak ada yang perlu dilakukan pada ibu hamil yang mengalami pergeseran plasenta.

  1. Placental abruption

Placental abruption atau abruptio placenta atau dikenal juga dengan istilah solusio plasenta adalah suatu kondisi ketika plasenta sudah terlepas dari rahim, dalam kondisi bayi belum lahir. Akibatnya, muncul bekuan darah atau perdarahan di belakang plasenta. Penyebab tersering pada gangguan ini adalah trauma pada perut ibu dan hipertensi. Keadaan ini merupakan kondisi yang berbahaya dan mengancam nyawa ibu dan bayi yang dikandung.

Gejalanya: Ibu hamil akan merasakan nyeri hebat, perdarahan kehitaman dari vagina dan kontraksi rahim yang kuat sekali hingga menyebabkan nyeri pada ibu hamil. Dan satu-satunya cara untuk mengatasi keadaan ini adalah segera pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan yang tepat. Sebab dalam kondisi ini, pilihan terbaik adalah menghentikan perdarahan dan melihat kondisi ibu dan janin saat itu juga.

Bagi Mommies yang sedang menjalani kehamilan, semoga semua berjalan lancar ya :).

 


Post Comment