Rahasia Agar Hubungan Intim Tetap Lancar Bagi Orangtua Baru

Saat jadi pengantin baru, sudah bisa dipastikan urusan mesra-mesraan jadi prioritas. Bawaannya mau nempel terus. Sayangnya, kehangatan hubungan intim ini terasa  mulai berubah ketika baru saja memiliki anak. Iya nggak, sih?

Hayo, ngaku… siapa yang sempat merasakan hal ini? Atau bahkan sekarang sedang merasa dilema karena frekwensi hubungan seks kian berkurang lantaran sudah terlalu lelah ngurus anak? Ketika ‘dicolek’ sama suami, bawaannya mau kasih tanda kalau kita sedang ngantuk berat? Hahaha… tenang saja Mommies, masalah seperti ini rasanya hampir dirasakan orangtua baru, kok. Kembali mesra-mesraan dengan suami mungkin akan jadi kegiatan terakhir ada di pikiran.

sex setelah punya anak

Belum lama ini saya sempat membaca sebuah artikel relationship yang menuliskan hasil survei yang bisa merefleksikan kalau bagi beberapa pasangan, saat jadi orangtua baru sebenarnya merupakan awal mula era kematian kehidupan seks mereka. Bahkan, survei tersebut membuktikan kalau satu dari empat orangtua baru bahkan menyerah bercinta selamanya setelah anak sulung mereka lahir.

Waaah… bisa kebayang nggak apa jadinya rumah tangga kalau nggak ‘dibumbui’ oleh aktivitas intim? Memang, sih, perempuan kerap kali berubah ketika di atas ranjang sering kali terjadi. Hal ini juga sempat saya rasakan, kok. Tapi, karena sadar kalau urusan mesra-mesraan salah satu kunci bikin rumah tangga harmonis, saya pun akhirnya mencari tahu bagaimana cara menanganinya. Termasuk mencari jawaban dari berbagai pertanyaan yang muncul di otak saya.

Kapan sebaiknya hubungan seks mulai dilakukan?

Pertanyaan inilah yang sempat terbersit dalam pikiran saya. Bukannya apa-apa, soalnya ada salah satu teman saya yang sempat mengalami trauma saat melahirkan. Ujung-ujungnya ketika diajak bercinta dengan suaminya, dia malah jadi parno. “Nggak tahu kenapa gue takut kalau ngerasain rasa nyeri ketika bercinta,” ungkapnya. Untung saja, suaminya begitu memahami kondisi istrinya dan mau menunggu sampai teman saya ini siap.

Dalam sebuah artikel yang saya baca, seorang praktisi Eileen Beard selaku penasihat perawat senior yang praktik di American College of Nurse Midwives mengatakan pada umumnya, para perempuan membutuhkan waktu empat sampai enam minggu setelah melahirkan untuk melakukan hubungan intim. Hal ini dikarenakan tubuh kita perlu waktu untuk memulihkan kondisi seperti semula, termasuk untuk leher rahim untuk menutup, rahim berkontraksi, dan menunggu perdarahan benar-benar berhenti.

Bagaimana jika saya tidak merasa siap?

Umh… ketika saya memang belum siap untuk melakukan hubungan intim (lagi) setelah melahirkan, hal pertama yang harus dilakukan tentu saja mengomunikasinya pada pasangan. Bukankah dalam hubungan seks kejujuran merupakan nilai yang penting?

Kalau dalam hubungan suami istri nggak adanya komunikasi yang terbuka, bukan tidak mungkin kehidupan seks malah akan semakin rumit. Bahkan kalau nggak jujur, bisa saja akan menimbulkan persepsi yang salah. Di mana suami bisa saja merasa seperti dikhianati.

Lagi pula, belum siap melakukan hubungan intim bukan berarti nggak bisa menciptakan suasana yang romantis. Memeluk, mencium, bahkan berjalan-jalan dan berpegangan tangan, juga bisa dapat membantu melekatkan hubungan dengan pasangan pasca kehadiran di kecil.

Apakah melakukan hubungan intim setelah melahirkan akan terasa sakit?

Saya masih ingat betul, nggak lama setelah melahirkan Bumi, anak pertama saya, ada salah satu teman yang berseloroh. Kira-kira kalimatnya seperti ini, “Dis, loe lahiran secara normal kan? Nanti ketika berhubungan intim dengan suami rasanya seperti pengatin baru lagi, lho. Sakit-sakit tapi enak”.

Yah…namanya juga ibu baru, ya, kalimat yang dilontarkan teman saya ini justru bikin saya sedikit parno. Otomatis, saya pun jadi bertanya-tanya, apa iya melakukan hubungan intim setelah melahirkan akan terasa tidak nyaman bahkan terasa sakit?

Kenyatannya, kalau seks mungkin terasa berbeda, tapi bukan berarti itu tidak akan pernah merasa baik, kok. Fiuh..! Untuk meningkatkan sensasi kita bisa melakukan beberapa cara, misalnya, latihan untuk memperkuat dasar panggul seperti melakukan gerakan kegel, untuk membantu otot-otot vagina pulih dari kehamilan dan kelahiran. Malah dengan kehadiran anak, kita bisa lebih bereksplorasi mencari tempat yang tidak biasa. Di sofa ruang tengah, atau mungkin di dapur?

“Sebelum gue punya anak, biasanya hubungan seks selalu rutin gue lakukan di kamar. Tapi sekarang, malah jarang. Takut berisik dan malah ganggu anak gue. Ternyata malah lebih seru, kok,” ujar Dian, salah satu teman saya.

Di beberapa litelatur yang saya baca, kondisi ketidak nyamanan ini juga bisa diatasi dengan mencoba beberapa alternatif posisi bercinta. Termasuk menggunakan pelumas. Terutama apabila kita sedang menyusui, di mana tingkat estrogen yang meningkat bisa menyebabkan kekeringan pada vagina sehingga aktivitas seks jadi kurang nyaman.

 


One Comment - Write a Comment

Post Comment