8 Hal yang Dialami Ibu Baru Saat Kembali Bekerja

Ditulis oleh: Nina Samidi

Buat Anda yang sedang menikmati masa cuti melahirkan, persiapkan diri menghadapi 8 hal ini tepat setelah Anda kembali bekerja dari cuti melahirkan.

Bayi saya sudah hampir dua tahun sekarang (bahkan saya masih menyebutnya bayi hingga saat ini!), tapi saya masih ingat betul apa yang terjadi di hari pertama saya meninggalkannya di rumah untuk kembali bekerja. Di hari itu, saya nyaris tidak bisa berhenti menangis seharian, terutama di jam-jam memompa ASI sambil memandangi ratusan fotonya di galeri HP saya. Mata saya berair tak henti-henti, memikirkan si bayi yang pasti sedang rindu untuk menyusu pada ibunya, mengingatnya merengek atau tertawa. Oh, demi Tuhan, saya seperti akan kehilangan dia selamanya (bukan 8 jam!) hari itu. Sampai akhirnya saya ‘meledak’ di depan seorang teman hanya gara-gara dia bertanya, “Bagaimana bayimu?”. Tumpah-ruahlah air mata saya.

ibu baru kembali bekerja

*Gambar dari sini

Cerita saya tampak berlebihan? Saya dulu juga berpikir bahwa orang-orang yang dengan heboh menceritakan masa-masa meninggalkan anaknya untuk kembali bekerja, yang tampaknya begitu berat, sepertinya melebih-lebihkan ceritanya. Tapi ketika akhirnya mengalami hal yang sama dan merasakan “kegilaan” itu, saya sungguh berempati pada semua ibu yang begitu kuat melakukannya. Dan inilah “kegilaan” yang biasanya terjadi saat awal-awal Anda mulai kembali bekerja:

  1. Pagi yang lebih gila

Ini akan menjadi pagi yang benar-benar heboh,  saat Anda bersiap berangkat kerja. Gugup dan gelisah saat akan meninggalkan si bayi membuat Anda tidak fokus pada segala hal. Jangankan menyiapkan kemeja dan dasi untuk suami, memakan sarapan sendiri saja bisa lupa. Anda seperti bingung mau apa. Saya pribadi mencoba tenang dengan menyiapkan segala sesuatu untuk si bayi.

Mulai dari ASIP, botol-botol, popok, baju ganti, boneka musiknya, sampai peralatan memompa ASI di kantor. Saat saya melihat semua sudah disiapkan, saya akan lebih tenang meninggalkan si bayi. Intinya mencari cara agar pagi hari tidak terlalu heboh. Oh, dan ya, di hari pertama ini, buat saya, boleh kok telat 15 – 30 menit sampai kantor. *kedip

  1. Tidak tega meninggalkan si bayi

Saya termasuk beruntung, meninggalkan si bayi dengan kakak-kakak ipar perempuan saya. Ini membuat perasaan saya lebih tenang saat berangkat. Meski ada perasaan tidak tega, namun mengingat keluarga yang memegang bayi kita, itu akan membuat kita lebih tenang. Saran saya, lebih baik untuk masa-masa awal, ada keluarga yang menemani si bayi.

  1. Menangis ‘sepanjang hari’ di kantor

Yap, itulah yang terjadi pada saya. Namun ternyata, ketika akhirnya saya meledak di depan seorang teman, saya merasa sedikit lega. Persiapkan siapa yang akan menjadi “tempat sampah” Anda ketika pertama kali kembali ke kantor. Pilih rekan kerja yang cukup dekat, sebaiknya yang juga sudah menjadi ibu (karena pasti lebih mengerti perasaan yang Anda alami), dan buanglah uneg-uneg Anda kepadanya. Jangan lupa untuk bilang dulu kepadanya bahwa Anda telah memilihnya menjadi “tempat sampah” di hari pertama ya, supaya dia tidak kaget. Hehehe…

  1. Anda butuh dibuat tenang

Jangan biarkan Anda merasa sangat stres dan frustasi, ini tidak baik untuk kinerja Anda di hari pertama.  Tidak apa-apa jika Anda memilih untuk membeli kopi atau cake yang agak mahal untuk menghibur Anda. Anda butuh memperbaiki keadaan psikis Anda, hibur diri Anda, lakukan hal yang menurut Anda menyenangkan asalkan tidak mengganggu rekan kerja yang lain.

Anda pun juga akan menjadi ‘selebriti’ sehari, bersiaplah.


Post Comment