Mengapa Alergi Pada Anak Meningkat?

Ditulis oleh: Nayu Novita

Selain faktor turunan, ternyata jarangnya anak-anak bermain di luar rumah dicurigai sebagai salah satu faktor pemicu meningkatnya alergi. Kok bisa?

Lewat obrolan dengan teman-teman sesama mommies, saya jadi ngeh kalau belakangan ini kasus alergi di kalangan anak-anak semakin sering terjadi. Mulai dari alergi susu sapi (yang dulu pernah dialami si kakak ketika masih bayi), alergi makanan laut, alergi debu, alergi pada udara dingin, dan masih banyak lagi jenisnya. Untungnya sih, di antara sekian banyak kasus alergi yang singgah ke telinga, reaksinya masih terbilang ringan—yaitu gatal-gatal, pilek, juga perut kembung atau diare ringan.

Soalnya, menurut sebuah artikel yang pernah saya baca, reaksi alergi yang parah bisa sampai membuat seorang anak mengalami bengkak hebat pada saluran pernapasannya. Kalau penapasan sampai terganggu seperti ini, yaa.. jelas-jelas akibatnya bisa fatal kalau sampai tidak mendapat penanganan yang tepat! Berhubung heran dengan bertambah banyaknya jumlah kasus alergi di kalangan anak-anak, saya bertanya tentang hal ini pada dr. Kartikaningsih, Sp.A dari RSIA Carolus, Summarecon Serpong.

Alergi meningkat pada anak

*Gambar dari sini

Meningkat selama 20 tahun terakhir

Meski belum ada data pasti tentang jumlah kasus alergi pada anak-anak di Indonesia, tetapi jumlah pasien anak yang datang karena keluhan alergi kian bertambah dari waktu ke waktu. Kalau sedang antre di ruang praktik dokter anak, coba deh ngobrol dengan sesama orangtua di sana. Kemungkinan ada salah satu di antara anak mereka yang punya riwayat alergi. Bukan cuma di Indonesia, peningkatan kasus alergi ini ternyata juga dialami oleh anak-anak di seluruh dunia selama kurun waktu 20 tahun belakangan.

Sayangnya, sampai saat ini belum jelas apa yang menyebabkan jumlah anak penderita alergi meningkat. Satu hal yang pasti sih, risiko alergi bisa diturunkan dari orangtua ke anak. Jika salah satu dari orangtuanya mengidap alergi, maka risiko anaknya terkena alergi adalah 25%. Tetapi jika kedua orangtuanya mengidap alergi, maka risiko “warisan” alergi pada anak bisa meningkat sampai 50%.

Pengaruh gaya hidup dan lingkungan

Selain karena faktor genetik, para pakar kesehatan di dunia juga curiga bahwa perubahan gaya hidup dan kondisi lingkungan ikut mempengaruhi peningkatan jumlah kasus alergi. Salah satunya adalah menurunnya jumlah anak-anak yang bermain di luar rumah. Kok bisa?

Penjelasannya sederhana saja. Anak-anak yang terlalu sering berada di dalam ruangan akan kurang mendapatkan paparan vitamin D dari sinar matahari. Padahal, asupan vitamin D yang cukup amat mempengaruhi kerja sistem imunitas tubuh—yang juga turut menentukan reaksi tubuh terhadap zat-zat yang biasanya memicu alergi. Yuk, lebih sering mengajak si kecil main di luar rumah.

Bukan cuma itu, jarangnya bermain di luar ruangan juga mengakibatkan anak kurang sering bersentuhan dengan tanah, debu, dan kotoran lain yang secara alami bisa ditemukan di alam. Akibatnya, sistem kekebalan tubuh menjadi terlalu sensitif jika sekali waktu mendeteksi keberadaan tanah dan debu, sehingga mengakibatkan reaksi alergi.

Mau tahu cara mendeteksi dan pengobatannya?


One Comment - Write a Comment

Post Comment