Single Mother itu… Seru!

Ditulis oleh: Waristi Amila

Keputusan menjadi orangtua tunggal tidak pernah menjadi keputusan mudah bagi saya. Tapi ketika keputusan ini harus diambil, saya menyadari ada banyak konsekuensi yang harus ditanggung, terutama mengenai kepengurusan anak-anak

Sebagai orangtua tunggal dari dua orang anak, satu anak laki-laki usia remaja dan satu anak perempuan berusia empat tahun, menuntut saya harus pandai menyiasati waktu, kondisi, dan juga mood. Sering orang bertanya bagaimana saya melakukannya, dan saya selalu berbagi empat point sederhana ini, empat point yang selalu saya coba lakukan, sampai hari ini.

  1. Menerima

Ini adalah langkah awal untuk semuanya, menerima. Menerima kondisi kalau kita memang orangtua tunggal, tidak ada suami yang bisa menjadi tempat berkeluh kesah, menjadi tulang punggung keluarga. Sekarang semuanya tentang kita dan hanya tentang kita sendiri. Kalau kita harus berangkat kerja jam lima pagi dan kembali ke rumah jam sembilan malam, terima kondisi itu. Lelah? Pasti. Stress? Jangan ditanya. Tapi dengan menerima kondisi, kita akan sanggup untuk pulang ke rumah dan masih bisa tersenyum pada anak-anak kita.

Tips yang ampuh untuk saya: Saat pulang ke rumah, jangan langsung temui anak-anak, pergi ke kamar mandi dan gunakan waktu itu bukan hanya untuk membersihkan diri tapi juga mengembalikan mood – saya sering memutar lagu kesukaan saya saat mandi, setidaknya itu bisa membuat saya sedikit santai – setelah itu baru temui anak-anak.

Menerima juga termasuk menerima kondisi bahwa kita akan sangat sulit bertemu anak-anak, mereka masih tidur saat kita berangkat dan sudah tidur saat kita pulang. Jangan jadi marah dengan kondisi ini, jangan jadi stress, dan jangan jadi berpikir kita melakukan kesalahan karena kita tidak bisa bekerja lebih cepat, menyetir lebih cepat, atau menghindari kemacetan. Kita butuh energi positif untuk anak-anak, menerima hal yang tidak bisa kita ubah akan membuat kita memiliki energi positif yang kita butuhkan.

Single Mother

  1. Belajar

Menjadi orangtua adalah proses belajar tanpa henti, apalagi untuk orangtua tunggal. Tapi jangan pernah berhenti untuk belajar, bicara pada orang lain dengan pengalaman yang sama, jangan bosan membaca artikel tentang pengasuhan anak, dan yang paling penting, jangan malu untuk belajar pada anak.

Setidaknya satu kali dalam satu minggu, saya menghabiskan waktu dua atau tiga jam dengan anak laki-laki saya, sekadar minum kopi di sore hari atau makan malam, berdua saja. Lalu kami bicara, saya bertanya apa yang dia pikirkan tentang saya, tentang keseharian dia, tentang bagaimana kami menjalani hidup. Bersiaplah terkejut mendengar apa yang anak kita katakan, seringnya bukan hal yang manis untuk didengar. Tetapi ini satu-satunya cara untuk kita mengerti apa yang anak kita butuhkan.

Saya menghabiskan waktu bertahun-tahun merasa bersalah karena harus bekerja dan menitipkan anak saya pada orangtua, tapi ketika saya bicara pada anak tertua saya, ternyata dia bangga memiliki saya sebagai ibunya, ternyata dia justru merasa terganggu kalau saya terlalu sering bertanya tentang kegiatannya, “Cukup tiga kali sehari saja, mommy,” katanya “Tidak banyak hal baru yang bisa terjadi dalam rentang waktu dua jam.”

Belajar bersama anak juga termasuk belajar menggunakan alat komunikasi secara bertanggung jawab, anak perempuan kecil saya sudah tahu cara facetime dengan ibunya saat saya harus pergi ke luar kota, si Abang tahu bahwa dia bisa mengirimkan foto latihan soal dan membahas dengan ibunya melalui whatsapp.

  1. Meminta pertolongan

Seringnya, sebagai orangtua tunggal, kita ingin terlihat kuat. Kita tidak ingin orang mengasihani kita atau takut mereka membicarakan hal buruk tentang kita. Ketakutan ini pada akhirnya membuat kita enggan meminta pertolongan. Padahal kita hanya perlu meminta tolong pada orang yang tepat. Support system bisa dalam banyak bentuk, yang paling aman dan terpercaya adalah tentu orangtua. Tidak nyaman menitipkan anak pada orangtua? Gunakan jasa pengasuh namun tetap di bawah pengawasan orang ua, untuk saya, metode ini paling ampuh. Tapi jangan ragu untuk mencari metode yang paling baik dan sesuai dengan kondisi kita dan anak-anak.

  1. Bersyukur

Pada akhirnya, ini yang paling penting. Bersyukur dan berbahagialah dengan kondisi yang dijalani saat ini. Berikan waktu juga untuk diri sendiri, lakukan hal yang disuka di sela-sela segala kewajiban. Saya menghabiskan waktu tiga hari dalam satu tahun untuk pergi liburan sendiri sebagai cara untuk kembali merasa segar, bahagia, dan kembali siap untuk membuat dan menjalankan berbagai strategi untuk menyiasati kondisi hidup sebagai orangtua tunggal.

Jadi, ya, terlepas dari segala tantangan, menjadi seorang orangtua tunggal yang bekerja bisa menjadi seru dan menyenangkan. Persiapkan diri, bentuk tim yang solid dengan orang-orang terdekat, dan yang terpenting tetap berusaha positif. . Happy mom will definitely raise happy children!

 


4 Comments - Write a Comment

  1. Baca artikel ini bikin aku yang tadinya was2 jadi agak tenang. Makasih ya mba sharingnya. Entah aku bakalan resmi jadi single fighter atau tidak, tapi sekarang pun meski masih berstatus suami-istri aku udah beberapa bulan menjalani, mengurus dan membiayai diri aku serta anak (14Mos) sendiri. Aku sudah ditelantarkan ditinggal dari juli lalu. Dan tiba2 3 minggu lalu pun pihak laki tanpa babibu dan aku lagi gak ada di rumah dateng ke rumah ortu bilang talak. Tapi sampai sekarang gak diurus.urus dokumentasinya. Rasanya seperti sudah disakiti dan dibuang. Tapi ya itu poin pertama di artikelmu mu : Menerima. Duuh…maaf ya jadi curcol.

    1. Hi mba.. menjadi single fighter pastinya tidak mudah, tapi tidak seberat yang kita khawatirkan. I’m really sorry to read your condition, tapi jangan takut, dan jangan menyerah. Perempuan (terutama ibu) punya kekuatan jauh lebih besar daripada yang kita sadari. Saat kita ingin melindungi dan memberikan yang terbaik untuk anak kita, semua akan bisa kita lakukan. Kita mulai dari yang pertama dulu ya mba, menerima, berdamai dengan diri sendiri dan keadaan, setelah itu… bersiap untuk bermain dengan hidup! :)

Post Comment