6 Cara ‘Pamit’ dari Pekerjaan yang Beretika

Mendapatkan kesempatan kerja di perusahaan baru? Coba cek beberapa cara di bawah yang bisa membantu Mommies saat melakukan pengunduran diri.

pengunduran diri

Belum lama ini saya mendengar salah satu sahabat yang curhat, ia kesal karena teman satu tim di kantornya tiba-tiba saja ‘lenyap’. “Heran, deh, gue…. kok, bisa-bisanya, yah, temen gue ini hilang nggak ada kabar? Gue memang sudah dengar kalau dia mau resign. Tapi, kok, cara gini, sih? Boro-boro, deh, one month notice,”

Umh, bisa kebayang, sih, ya, betapa kesalnya teman saya, ini? Biar bagaimana pun bekerja itu kan memang ada etikanya. Kalaupun sehari-hari terjadi konflik antar teman, rasanya wajar saja. Buat saya pribadi, kuncinya adalah bahagia dengan pilihan sendiri. Kalau memang sudah nggak merasa bahagia apalagi tertekan saat masuk ke kantor, memang nggak ada salahnya, sih, untuk mereview ulang. Apalagi kalau ditambah tahu-tahu dapat kesempatan untuk bekerja di tepat lain.

Sebelum melangkahkan kaki lebih jauh, tentu saja kita wajib melakukan beberapa hal. Apa saja?

1. Cerita ke atasan

Sebelum berkoar-koar masalah resign pada semua teman di kantor, ada baiknya Mommies lebih dulu mengutarakannya kepada atasan secara langsung. Cara ini akan lebih baik ketimbang, atasan mengetahui dari rumor yang beredar di kantor. Jangan lupa, tunjukan rasa simpati dengan cara berbicara dengan sopan, dan tidak membuat orang lain tersudut. Setelah ngobrol secara personal, baru lanjutkan menyerahkan surat pengunduran resmi pada perusahaan.

2. Tactical

Setelah menceritakan niat untuk keluar dari pekerjaan, alangkah lebih baik apabila kita bisa memberikan solusi. Misalnya, nih, tawarkan saja beberapa kandidat orang yang bisa mengantikan posisi kita di kantor. Paling nggak penawaran ini berlaku untuk sementara waktu sebelum pihak kantor menemukan orang yang dianggap tepat.

3. Kerjakan PR

Pastikan juga apakah semua tugas kita sudah diselesaikan. Jangan sampai meninggalkan ‘jejak’ yang akan menyulitkan orang lain. Kalau pun memang akan dideligasikan pada pengganti, sampaikan dengan baik. Pastikan orang yang mengantikan tugas kita sudah paham apa yang akan ia kerjakan.

4. Selesaikan urusan administrasi

Setelah kerjaan pribadi beres, pastikan juga semua dokmen atau fasilitas kantor dikembalikan dengan baik. Jangan sampai hanya digeleletakan di meja kerja atau dititipkan pada teman. Oh, ya, kalau memang ada pijaman materi pada teman kantor, wajib diselesaikan juga, lho.

5. Pamitan

Setelah semua beres, di hari terakhir meningglkan kantor jangan lupa untuk pamitan pada seluruh rekan kerja. Hal ini pun berlaku pada office boy atau satpam yang selama ini banyak membantu. Kalau di Female Daily sendiri, sih, ada ritual perpisahan kecil-kecilan yang selalu diadakan apabila ada salah satu dari warga FDN resign.

6. Tetap jaga bama baik

Setelah keluar dari perusahaan lama, bukan berarti kita bisa mengumbar-umbar aib perusahaan tersebut, lho.  Apalagi hal ini diungkapkan lewat sosial media. Ingat, nggak semua hal bisa di share di sosial media. Lagipula, saya juga yakin kalau sebenarnya nggak ada perusahaan yang sempurna yang bisa mengakomodir semua kebutuhan dan keinginan kita, para ibu bekerja. Hal ini pun berlaku apabila kita memang punya masalah dengan teman atau bahkan perusahaan. Masalah yang kita hadapi nggak perlu diungkit-ungkit. Dengan demikian hubungan baik dengan rekan kerja dan perusahaan pun masih bisa terjalin. Meskipun sudah nggak sekantor,  siapa tahu ke depannnya ada kerja sama yang bisa dilakukan?

Kalau katanya, Rene Suhardono sebagai Career Coach, sebenarnya berhubungan baik merupakan common sense. Jadi, kita berhubungan baik dengan seseorang ataupun perusahaan bukan karena menginginkan sesuatu, tapi karena memang kita adalah individu yang baik. Umh, setuju dong, ya?


Post Comment