Motherhood Monday; Lila Imeldasari, Perempuan di Balik Lemari Lila

Adalah Lila Imeldasari, perempuan kreatif di balik Lemari Lila yang bisa menaikan derajat kebaya baheula di zaman yang kian modern ini.

Sejak dulu saya selalu nge-fans dengan segala jenis kain khas Indonesia. Baik itu batik, lurik, tenun, ataupun songket. Kalau melihat produk yang menggunakan bahan khas Indonesia ini, mata saya langsung hijau, hehehe. Nah, ngomongin masalah kain tradisional dan produk etnik, beberapa waktu lalu saat lagi cuci mata di Instagram tanpa sengaja saya menemukan akun Lemari Lila. Sebuah brand lokal yang menawarkan fashion items yang menggunakan bahan material kain batik dan lurik.

Lemari Lila2

Begitu melihat produknya, kok, saya tertarik, yah. Di mata saya, produknya eye catching. Potongannya terlihat sederhana, dan yang pasti produk ini punya ciri khas yang nggak dimiliki produk lainnya. Contohnya adalah kebaya Mbok Jum, yaitu kebaya model baheula atau yang kita kenal dengan model kutu baru, lengkap dengan stagen. Intinya, sih, kalau melihat kebaya Mbok Jum akan mengingatkan kita pada sosok perempuan paruh baya yang berasal dari tanah Jawa.  Penampilannya tentu saja nggak lepas dari sanggul besar dan tentunya pakai kebaya lengkap dengan stagen.

Adalah Lila Imeldasari, perempuan kreatif di balik Lemari Lila yang bisa menaikan derajat kebaya baheula di zaman yang kian modern ini. Ibu dari Aksan Rana Bumi (4 tahun) ini bercerita bahwa usahanya, Lemari Lila, yang dirintis sejak tahun 2009 sebenarnya dimulai tanpa sengaja. Siapa sangka, dengan modal awal 500 ribu, istri dari Abu Juniarenta ini kini sudah bisa meraup puluhan juta rupiah dalam sebulan. Wah…. hebat, yah!

Penasaran ceritanya seperti apa? Berikut kutipan obrolan saya dengan Mbak Lila.

Ceritain, dong, Mbak, awal mula Lemari Lila ini didirikan? Idenya dari mana, sih?

Sebenarnya awalnya cuma iseng-iseng aja, aku mulai tahun 2009 silam. Ideya sendiri karena aku pada dasarnya suka baju etnik tapi selalu kesulitan untuk menemukan model yang pas. Rasanya nggak ada yang sreg. Akhirnya lama-lama design sendiri, jadi awalnya bikin memang untuk dipakai sendiri, bukan untuk dijual. Dan ternyata banyak yang suka. Karena banyak yang tanya, aku pikir, kenapa juga nggak jahit beberapa potong lalu aku jual. Akhirnya mulai diseriusin awal 2010. Pembelinya awal-awal memang hanya teman-teman saja, lalu aku akhirnya titip jual pada teman yang punya butik di Jakarta. Kemudian baru mulai jual lewat Facebook di pertengahan 2010.

Saat memulai usaha ini, tantangannya terbesarnya apa, sih, Mbak?

Tantangannya itu susah banget cari penjahit yang bisa menjadikan design sesuai dengan keinginan. Lalu sebelum menjual aku pun harus mengenal kain Indonesia lebih dalam, misalnya batik atau lurik. Nggak cuma harus tahu motifnya aja, tapi bagaimana sifat kainnya.

Biasanya, nih, untuk design inspirasinya dari mana saja?

Kalau design, aku sesuaikan dengan kesukaan aku dulu. Aku bangetlah design-nya. Kalau untuk kebaya dari kebaya mbok-mbok Jawa dan dari kebaya nenekku. Kalau untuk baju santai, dari gaya Jepang yang modelnya longgar tapi tetap berpola bajunya. Atau… baju dengan gaya tahun 60-70an. Tapi tetap dengan tagline, Lemari Lila traditional meets modern clothing.

Apakah ada visi dan misi tertentu yang ingin Mbak sampaikan lewat Lemari Lila?

Aku ingin perempuan Indonesia punya ciri khas dalam berpakaian, jadi punya identitas.

Di laman selanjutnya, Mbak Lila ‘membocorkan’ soal investasi, omset serta strategi yang sudah ia lakukan selama menjani usaha Lemari Lila.


Post Comment