Belajar Memahami Penyakit Alzheimer Lewat Still Alice

Sudah menyaksikan film Still Alice? Film ini menceritakan perubahan besar yang harus dihadapi dan memperlihatkan betapa beratnya perubahan hidup yang harus ia alami akibat penyakit Alzheimer.

Dari dulu saya paling suka cerita drama, khususnya yang mengisahkan soal kehidupan keluarga. Makanya, setiap ada kesempatan me time di rumah, saya selalu memilih untuk menikmati DVD atau baca buku yang temanya seputar ini. Salah satu film drama yang paling saya suka adalah Still Alice, film ini diadapstasi dari Novel karya Lisa Genova dengan judul yang sama. Dan belum lama ini novel ini juga dibuat dalam edisi bahasa Indonesia.

Still Alice mengisahkan sosok Dr. Alice Hawland, seoarang psikolog kognitif sekaligus ahli linguistik terkemuka.  Di luar karirnya yang sangat bagus, kehidupan rumah tangga Alice pun terlihat bahagia. Gimana nggak, sosok Alice  ini punya suami yang sangat perhatian dan punya 3 orang anak yang bisa dibilang sudah meraih kesuksesan. Terlihat begitu sempurna, ya?

Sayangnya, kehidupan yang sudah nyaris sempurna ini harus berubah total ketika Alice dinyatakan menderita  alzheimer. Di awal cerita, sudah digambarkan bahwa Alice mengalami pikun, di mana Alice seharian mengobrak-abrik rumah dan kantor hanya untuk mencari charger ponselnya. Ternyata di malam hari ia menemukan di soket samping tempat tidurnya.

Merasa tingkat kepikunannya semakin meningkat, Alice pun memeriksakan diri dan mendapatkan fakta bahwa di usia menginjak 50 tahun, ia sudah mengalami serangan alzheimer. Sontak, kehidupannya pun berubah drastis. Alice harus berjuang keras untuk bisa menerima perubahan hidup baik dalam menjalani karir ataupun hubungan keluarganya. Beruntung sekali keluarga  selalu mendampingi dan memberikan dukungan Alice.

Beberapa adegan yang masih saya ingat dan bikin terharu adalah saat Alice lari pagi, tiba-tiba saja ia lupa arah pulang. Alhasil, berjam-jam dirinya hanya berputar-putar di taman. Bahkan, ia pun lupa di mana letak toilet di rumahnya sendiri. Belum lagi, saat Alice harus memberikan tanda stabilo pada teks pidatonya supaya dia tidak lupa batas kalimat yang sudah ia utarakan. Alice harus berjuang keras karena mengalami degradasi kinerja otak.

Hiks….

Alzheimers Concept Horizontal

Ternyata, pikun memang tidak bisa dianggap sepele, ya.  Seperti yang saya lansir dari penyakit alzheimer.com , penyakit alzheimer merupakan gangguan otak atau demensia (pikun) yang menahun, terus berlanjut, dan tidak dapat kembali seperti semula lagi. Tidak ada penyebab pasti, tidak ada pengobatan yang tepat dan sampai sekarang masih belum ada obat yang diharapkan.

Hal  ini pun dipaparkan oleh Executive Director Alzheimer’s Indonesia, DY Suharya.  Saat peluncuran Novel Still Alice, ia mengatakan bahwa gejala penyakit Alzheimer berawal dari kehilangan ingatan jangka pendek.  Di mana kemampuan menyimpan informasi akan mengalami kemunduran karena perubahan dalam otak yang terjadi akibat penyakit Alzheimer.

Apabila dulu banyak persepsi yang menganggap kalau pikun hanya diderita oleh orangtua, faktanya tidak seperti itu. Pikun atau Alzheimer banyak diderita oleh anak muda. Bahkan, Alzheimer’s Indonesia mendapatkan laporan adanya (suspect) penderita Alzheimer termuda di Indonesia berusia 22 tahun. Penelitian terbaru World Alzheimer’s Disease menunjukan jumlah penderita Alzheimer di Indonesia terus meningkat 20 persen dari satu juta orang menjadi 1,2 juta orang.

Lebih menyedihkannya lagi, walaupun alzheimer bisa diderita baik perempuan ataupun pria, namun sebuah studi terbaru menyebutkan kalau perempuan ternyata lebih banyak menderita  alzheimer.  Bahkan risikonya hingga 3 kali lebih besar. Sayangnya, sampai sekarang belum bisa diketahui pasti apa yang menyebabkan perempuan lebih banyak menderita alzheimer. Tapi, dibanyak literatur yang sudah saya baca, ada dua kemungkinan yang disinyalir menjadi pencetusnya. Pertama karena dibandingkan laki-laki, perempuan bisa mencapai usia lanjut. Kedua, karena perempuan akan mengalami menopause atau berhenti mestruasi sehingga kadar estrogen menjadi menurun.

Oleh karena itulah, DY Suharya mengingatkan agar seluruh masyarakat untuk tidak menyepelekan apabila mengalami kepikunan. Meskipun sampai sekarang alzheimer belum ada obatnya, namun kita bisa mengurangi  risikonya dengan melakukan beberapa langkah. Pertama, menjaga kesehatan jantung, bergerak dan bberolahraga dengan produktif, mengonsumsi sayur, buah-buahan. Intinya, asupan gizi harus seimbang, selain itu kita pun perlu menstimulasi otak, fisik, mental, dan spritual, bersosialisasi dan beraktivitas positif.

Yang jelas, lewat  cerita Still Alice ini setidaknya saya saya bisa melihat betapa menderitanya orang-orang yang mengalami alzheimer. Sehingga tidak ada salahnya kalau kita lebih mawas diri  dengan mengtahui bagaimana cara yang tepat untuk mencegah alzheimer, misalnya dengan menjaga pola hidup sehat. Oh, ya, satu hal yang nggak kalah penting kedekatan hubungan keluarga juga perlu diperhatikan. Biar bagaimana, dukungan keluarga tentu sangat berperan penting.

 


Post Comment