Waspada Terhadap Demam Rematik Pada Anak

Demam rematik bukanlah demam biasa sehingga butuh penanganan yang tepat. Apalagi demam rematik bisa sangat membahayakan karena reaksi peradangan yang timbul bisa menyerang  jantung.

Belum lama ini saya mendengar cerita kalau salah satu anaknya Mbak Santi Rahayu, Account Director Female Daily Network mengalami sakit demam rematik. Sedih sekali membayangkan apabila si kecil menderita penyakit ini, soalnya yang dikeluhkan bukan hanya demam, namun tejadi nyeri persendian, hingga timbul benjolan-benjolan kecil di bawah kulit yang membuatnya kesulitan untuk berjalan.

“Jangankan bisa jalan, untuk menengok saja saat dipanggil, anak gue ini merasa kesulitan…,” ungkap Santi Rahayu dengan raut wajah yang begitu khawatir. Sebagai orangtua, saya sangat memaklumi apa yang dirasakannya. Perasaannya pasti campur aduk jadi satu. Bahkan rasanya, ungkapan rasa khawatir saja tidaklah cukup.

Demam Rematik

Saya sendiri memang belum banyak mengetahui masalah penyakit yang banyak dideriderita anak-anak berusia 5-15 tahun ini. Untuk itulah akhirnya saya pun mencoba untuk mendapatkan informasi lewat dr.Rianita Syamsu, SpA.

Apa yang dimaksud dengan demam rematik? Apa yang membedakannya dengan demam biasa?

Demam rematik ini merupakan penyakit vascular kolagen multisistem yang terjadi setelah infeksi streptococcus group A pada individu yang rentan. Jadi, biasanya didahului dengan infeksi tenggorokan akut sekitar 2-3 minggu sebelumnya.

Apa saja gejalanya?

Bisa dilihat dari kriteria mayor, pertama,  terjadi poliarthritis yakni radang sendi yang mengenai lebih dari satu sendi yang ditandai dengan bengkak dan nyeri pada sendi lutut, mata kaki, siku, pergerakan tangan, biasanya berpindah-pindah. Selanjutnya terjadi karditis atau radang pada jantung, yang ditandai bunyi jantung yang cepat dan terdengar bising jantung. Kondisi ini ditemukan pada 50% kasus. Kemudian,  erythema  marginatum,  bercak kemerahan tidak gatal pada badan dan anggota gerak bagian dalam. Ditemukan pada kurang dari 10% kasus.

Selanjutnya adalah  nodul subcutaneous berupa benjolan kecil diameter 0.2-2 cm yang keras, tidak nyeri, tidak gatal, pada daerah ekstensor sendi seperti punggung tangan, lutut dan sebaginya.  Di samping itu tarjadi juga Korea Sydenham, ditemukan pada 15% kasus, terutama pada anak perempuan, ditandai perubahan kepribadian sementara, gerakan spontan tidak terkontrol, disertai kelemahan otot.  Ada pula kriteria minor, yaitu demam terjadi yang terjadi pada fase awal. Lab: peningkatan ASTO, LED dan CRP.

Apakah demam rematik ini bisa dicegah? Dengan vaksin, misalnya?

Tidak ada vaksin untuk mencegah penyakit ini. Diperlukan kontrol atau evaluasi dalam 5 tahun setelah terjadi serangan pertama, karena bisa terjadi kekambuhan.

Demam rematik ini lebih banyak dialami oleh anak-anak, usia 5 hingga 15 tahun, mengapa?

Kemungkinan karena pada usia itu anak mulai bergaul dan jajan sehingga rentan terjadi infeksi tenggorokan.

Apakah demam rematik ini juga dipengaruhi oleh status anak yang kekurangan gizi atau pola hidup yang kurang sehat?

Penyakit ini memang lebih banyak terjadi di negara sedang berkembang. Mungkin karena penduduk yang padat memudahkan penularan infeksi. Ditambah lagi di negara sedang berkembang jajanan pada usia 5-15 tahun banyak yang kurang hygienis. Juga banyak yang belum rutin cuci tangan sebelum makan termasuk jajan.

Salah satu efek buruk demam rematik bisa menyerang jantung dan menyebabkan gagal jantung. Mengapa demikian?

Diduga melalui proses autoimmune, yang sering terjadi pasca infeksi streptococcus group A, dapat menyerang sendi, jantung dan ginjal.

Apabila anak sudah terdiagnosa sakit demam rematik,  bagaimana cara pengobatannya? Langkah apa yang sebaiknya dilakukan oleh orangtua?

Segera ke dokter untuk evaluasi gejala dan pemeriksaan lab penunjang diagnosis. Bedrest bervariasi tergantung berat ringannya penyakit. Analgesic asam salicylate diberikan segera setelah terdiagnosa.

Mudah-mudahan, lewat pemaparan dokter spesialis anak yang berpraktik di RS. Bunda, Depok, ini kita bisa lebih hati-hati, ya, Mommies. Terutama soal jajan anak, nggak ada salahnya untuk membiasakan anak tidak jajan sembarangan. Lebih baik, kita saja yang menyiapkan bekal sehat untuknya. Setuju nggak?

 


3 Comments - Write a Comment

  1. gw kaget banget liat artikel ini. gw 36thn dan gw baru tau last week kalo gw ada penyakit rheumatic heart disease dan sudah merusak katup jantung gw. gw ga pernah tau kapan kenanya (krn dr kecil jarang bgt sakit) dan bagaimana. selama ini pun gw ngerasa sangat fit, malah banyak yg bilang gw ga ada capenya. kl temen2 ikut jalan2 ama gw suka pada tobat2 deh. tiba2 belakangan gw suka cepet cape dan berdebar. jd cek dokter. dari EKG dan threadmill ga pernah ketauan. tapi pas di echo ketauan. rasanya hancur banget hidup gw, sedih banget, karna the damage has been done. ga bisa diperbaiki lagi katup jantung ini. seminggu ini masih cari tahu lebih banyak soal penyakit ini.

    at the same time bersyukur banget, gw TTC (trying to concieve) for 8-9 years, uda ke banyak dokter, dokter2 aja bingung kenapa gw ga hamil2, secara cek suami istri semua oke. sampe ke sinshe aja dia ikutan bingung, dia blg gw ini tipe yang di peluk aja hamil kok harusnya. thats why gw ga pernah mau ngotot TTC nya karna gw tau Tuhan tau yang terbaik buat gw. ga kebayang kl gw hamil dengan kondisi begini (ada teman gw baru meninggal 1-2minggu lalu dalam keadaan hamil karna dia memang dari kecil ada masalah dengan katup jantung, memang ga bole hamil sih harusnya).

    bener banget, temen2 yang punya anak dijaga ya, gw seumur2 ga pernah tau ada penyakit ini. kalo tau tiap gw sakit gw cek deh asto dll itu.
    Mbak Santi Rahayu, semoga anaknya cepat sehat ya. sempat baca penyakit ini sebenernya sangat gampang di obatin dan ga akan sampai berbahaya kalo aja di obatin dengan baik (in my case karna ga ketauan sama skali), jd untunglah kalo sudah ketauan, pasti diobati sampai tuntas dan anaknya akan sehat selalu ya :) Gbu.

  2. Hi Lucy,

    Terima kasih ya doanya..saya juga doakan semoga Lucy & suami dikuatkan. Segala sesuatunya terjadi atas seizin-Nya, yang lebih tau apa yang terbaik buat kita.

    Nasa istirahat total 1 bulan di rumah, karena sempat menyerang sendi leher dan tulang ekornya, jadi sempat gak bisa bangun, duduk ataupun membungkuk. Tetapi karena terdeteksi cukup dini Alhamdulillah ini bisa lumayan cepat sembuh dan sekolah lagi dari 2 minggu lalu. Anak saya padahal bisa dikatakan tidak jajan sembarangan Mbak, karena tidak pernah saya beri uang jajan baik saat ke sekolah maupun di rumah. Tidak pernah saya tinggalin uang. Jadi hanya makan bekalnya dan di rumah ya makan cemilan yang dibuat mbak di rumah atau snack jadi.

    Intinya memang harus hati-hati, dan tidak pernah meremehkan penyakit apapun, meski gejalanya terlihat biasa saja, seperti batpil pada umumnya.
    Semoga artikel ini sedikit banyak bisa menambah wawasan para mommies :)

Post Comment