Ibu Nggak Bisa di Rumah Aja?

“Ibu nggak bisa kayak ibunya teman-teman aku? Nggak usah kerja, dari jemput sekolah terus di rumah aja nggak pergi-pergi lagi.”

Hanami, 7 tahun, anak pertama saya, belakangan ini lagi sering-seringnya melontarkan pertanyaan yang tentunya nggak mudah dijawab. Saat awal-awal punya anak, saya sering dengar sesama orangtua bilang, “Ah nanti aja kerjanya kalau anak sudah besar, nanti lebih gampang ditinggal-tinggal.”

Sampai sekarang saya belum merasakan “gampang ditinggal-tinggal” itu, hahaha. Justru setelah anak saya semakin besar, rasanya issue separation” semakin menantang deh, terutama karena Hanami juga sudah semakin pintar mengekspresikan emosinya, hal yang tentunya saya syukuri. Saya akan sangat sedih tentunya kalau dia cuek-cuek aja. Dipertanyakan seperti ini tentunya nggak nyaman dan nggak mudah dihadapi, tapi tetap menyenangkan hati saya. Saya anggap sebagai satu keistimewaan jadi orangtua, nggak mudah dijalani tapi bukan berarti nggak menyenangkan.

Saya belum pernah tidak bekerja. Dari sebelum menikah, setelah menikah (4 tahun baru ada anak) dan sampai hari ini, saya masih bekerja. Saya senang bekerja dan menyukai bidang pekerjaan saya. Meski jumpalitan mengatur waktu konsisten memompa ASI waktu mereka masih bayi hingga sekarang sudah tidak banyak bergantung pada saya secara fisik, saya masih tetap bekerja. Suami mensyaratkan saya untuk tetap mengantar jemput sekolah dan bekerja di antara waktu-waktu tersebut. Kebetulan tempat saya bekerja membolehkan flexible time selama kerjaan selesai dan target tercapai.

Working Mother

*Gambar dari sini

Waktu yang fleksibel memang enak, tapi perlu manajemen waktu yang luar biasa rapi dan sering kali tidak mudah dan perlu keterampilan untuk cepat mengubah fokus.  Hal yang walau sudah bertahun-tahun saya lakukan masih tetap menantang di waktu-waktu tertentu. Terutama kalau load pekerjaan sedang meningkat, maka tentunya jam tidur malam dipotong untuk menuntaskan pekerjaan.

Balik lagi ke pertanyaan anak saya tadi, kadang terlintas untuk berhenti dulu bekerja dan mewujudkan permintaan Hanami. But I gotta admit I love what I do now, I love my work, and that doesn’t mean I don’t love my kids as much.

Saya sering mengajak Hanami ke kantor terutama setelah pulang sekolah karena dia ingin ikut ke kantor. Saya senang mengajak dia ke kantor, membuat dia melihat bahwa di kantor saya, orang-orang bekerja dengan riang, dan juga serius dalam waktu-waktu tertentu. Semoga ini membantu dia kelak memiliki persepsi yang baik tentang bekerja.

Hanami juga pernah bersikeras untuk tetap ikut saya meeting setelah pulang sekolah padahal sudah saya ingatkan bahwa akan membosankan karena hanya bisa duduk dan mendengarkan saya bicara dengan orang lain. Tapi dia tetap mau ikut. Akhirnya saya bolehkan dengan kesepakatan dia akan bersabar. Sekaligus saya ingin dia belajar juga dari situasi menunggu.

Tapi saya selalu mikir bahwa banyak situasi di mana Hanami justru bisa belajar banyak dari peran saya sebagai ibu bekerja, terlepas dari reputasi saya yang mungkin dipertaruhkan, hahaha.

Saya orang yang percaya tidak ada kualitas tanpa kuantitas dalam hubungan apa pun. Hubungan dengan teman kerja, teman main, bos, suami, orangtua saya, apa lagi hubungan dengan anak. Kalau kuantitasnya cukup baik, maka kualitas tercapai. Kuantitas nggak harus selalu tentang seberapa sering bertemu, tapi seberapa sering berinteraksi, dan saat ini sangat dipermudah oleh teknologi. Saya sepakat bahwa ada aturan mengenai tentang berapa waktu yang perlu dialokasikan untuk keluarga. Walau nggak selalu mudah tapi memang jumlah interaksi perlu di-maintain agar hubungan berjalan baik.

aktivitas-prakarya

Akhirnya kami menemukan solusi sementara tentang bagaimana dia senang di rumah walau tidak ada saya, yaitu kami akan membuat sudut art & craft di rumah, di mana dia bisa membuat sesuatu setelah pulang sekolah. Ternyata sekarang dia lagi bosan dengan mainan yang sudah ada, jadi dia merasa kalau ada saya di rumah, dia jadi nggak bosan. Hal yang membuat saya senyum-senyum sendiri.

Ya mungkin nanti dia akan bosan dan kembali mempertanyakan kenapa saya tidak di rumah saja. That’s life, isn’t that? :)

 

Yulia Indriati, Content Manager di Keluarga Kita – yang semula bernama 24hourparenting.com – kini berubah menjadi keluargakita.com. Keluarga Kita adalah penyedia konten edukasi keluarga dan berharap bisa menjadi teman seperjalanan keluarga Indonesia. Ikuti updatenya di Twitter: @KeluargaKitaID, Instagram: @keluargakitaid dan Facebook: Keluargakitaid

 


Post Comment