Suami Juga Orangtua Dari Anak Kita…

Jadi, berikan kebebasan untuk suami kita mengurus anak-anak sesuai dengan aturan dan gaya yang mereka miliki… and It’s OK moms.

Kadang, saya suka mikir kalau kita itu sebagai perempuan dan ibu memang hobi banget membuat drama dan menciptakan penderitaan untuk diri sendiri. Berasa begitu nggak mom? Saya sih kadang-kadang merasa seperti itu.

Misalnya gini, dulu, saya suka mengeluh kalau suami saya itu kurang hands on untuk urusan anak-anak. Semua serba saya. Tapi sebenarnya, nggak jarang sayalah yang menciptakan kondisi ini, dengan nggak percaya kalau meninggalkan anak-anak dengan ayah mereka. Dengan mengkritik caranya menghabiskan quality time-nya bersama anak-anak, dan sejuta keberatan lainnya.

Anak telat makan dikit, langsung marah. Anak diajak main games lewat dari batas waktu yang ditentukan, langsung menganggap suami ‘merusak’ masa depan anak. Anak diajak jajan fast food langsung bilang kalau suami nggak peduli kesehatan si kecil. Akhirnya semua sok mau saya ambil alih.

Saat saya sibuk dan kecapekan, kemudian marah, dia dengan santainya menjawab “Lah, tadi kamu yang nggak ngasih izin aku handle anak-anak. Sekarang kamu sendiri yang ngeluh. Aneh kamu tuh!” Kemudian saya pun merasa tertampar. Padahal, apa sih masalahnya kalau sekali waktu anak-anak main games lebih lama satu jam? Nggak kenapa-kenapa juga kok, setelah berminggu-minggu anak-anak mengonsumsi makanan rumahan yang sehat, sekali dua kali mereka melipir ke McDonalds atau KFC.

Suami saya memang sekadar menyampaikan fakta. Tapi siapa yang tahu kalau ternyata itu adalah jeritan hatinya yang paling dalam yang (mungkin saja) mewakili jeritan hati para ayah lainnya. Well, sadar atau tidak, tapi kita sebagai ibu memang cenderung merasa kalau kitalah yang paling tahu apa yang terbaik untuk anak. Kitalah yang paling paham apa yang diinginkan oleh anak kita. Kita, kita dan kita.photo 5

Padahal, seperti kata mama saya “Suami kamu itu juga orangtua dari anak-anakmu. Jadi, biarkan dia mengajarkan nilai-nilai yang dia anut ke anak-anak tanpa harus kamu kritik. Coba kasih dia ruang dan lihat nanti, pasti banyak yang bisa kamu pelajari. Menjadi orangtua itu butuh kerjasama. Butuh melihat dari perspektif yang berbeda. Selama apa yang dia ajarkan nggak membahayakan nyawa anak-anak, ya sudah, biarkan saja! Atau jangan-jangan, ngelihat anak-anak ternyata happy ngabisin waktu sama ayahnya, kamu cemburu ya?”

Dan jawaban untuk pertanyaan mama saya itu….. mungkin saja iya, hehehe. Sempat sih awal-awal, saat saya meninggalkan anak-anak bersama ayahnya untuk melakukan me time, saya berasumsi dalam hati, pasti nggak bisa nih ayahnya. Eh, ternyata pas saya pulang, mereka fine-fine aja, nggak ada drama dan malah lebih mandiri kata ayahnya. Ih, jadi sebal. Lho???

Mungkin karena saya merasa saya yang mengandung selama 9 bulan lebih, saya yang merasakan sakitnya operasi sesar, saya yang lebih banyak begadang untuk menyusui, jadi jauh di lubuk hati, saya berharap anak-anak memang akan lebih dekat dengan saya.

“Nggak salah, punya keinginan agar anak-anak dekat sama kamu, karena kamu memang ibunya. Sudah seharusnya mereka dekat sama kamu. Tapi yang salah itu kalau kamu menganggap ayah mereka sebagai ‘saingan’ kamu. Bukannya akan lebih menyenangkan kalau anak-anak bisa dekat dengan kedua orangtuanya? Trust yourself and trust your partner,” kalimat penutup dari mama saya waktu saya curhat dulu.

Dari situ saya mulai mengubah perilaku dan pola pikir saya. Hasilnya memang jadi lebih menyenangkan sih. Saya nggak terlalu stress, punya cukup waktu untuk melakukan me time, suami saya juga lebih tahu tentang apa yang terjadi pada anak-anak dan intinya, kami menjadi orangtua yang lebih baik.

Terimakasih untuk kamu…. Selamat Hari Ayah Nasional .