15 Ways To Boost Your Baby’s Brain Power (Part 1)

Ditulis oleh: Nayu Novita

Siapa bilang proses belajar hanya bisa di bangku sekolah? Sejak bayi, si kecil sudah bisa kok diajak melakukan berbagai hal untuk meningkatkan kecerdasannya!

Selain ingin anaknya tumbuh sehat, semua orangtua—termasuk saya, tentu kepingin dong, buah hatinya tumbuh menjadi anak yang pintar. Wait, bukan berarti saya sangat menganggungkan kecerdasan dan nilai-nilai di buku raport, tapi setidaknya anak saya memiliki tumbuh kembang yang normal.

Ternyata nggak perlu menunggu si kecil memasuki jenjang pendidikan formal, karena sebenarnya sejak jauh-jauh hari kita sudah bisa mengajaknya melakukan berbagai hal untuk meningkatkan kecerdasan otaknya. Ini beberapa yang pernah saya baca dan praktikkan:

1377442_10201648279082036_1458379635_n

  1. Kekuatan sentuhan

Sudah tahu dong, kalau sentuhan kasih sayang mampu menguatkan bonding antara ibu dan bayinya? Bukan cuma itu, ternyata perasaan aman dan nyaman yang dirasakan bayi ketika disentuh juga berguna mengaktifkan sambungan pada sel-sel saraf di otaknya. Makanya, jangan ragu untuk sering-sering memeluk si kecil sejak ia masih bayi.

  1. Jangan selalu memakai sarung tangan dan kaki

Pada usia 6 minggu, bayi mulai tertarik untuk mengeksplorasi lingkungan. Inilah saatnya mommy melepaskan sarung tangan dan kaki bayi, agar ia bisa merasakan perbedaan bentuk dan tekstur berbagai benda di sekelilingnya. Kebetulan, sejak kecil, Rendra—putra saya, tak pernah betah memakai sarung tangan. Untuk menghindari wajahnya tercakar, saya pun rajin memberikan manicure padanya alias menggunting kuku.

DSCF1528

  1. Ajak bicara

Dekatkan wajah mommy ke hadapan si kecil, lalu ajaklah ia bercanda. Pancing si kecil untuk merespon kata-kata kita, entah dengan ikut tersenyum atau mengeluarkan suara lucu khas bayi. Interaksi sosial akan membantu menguatkan perkembangan sosial dan emosi anak.

  1. Tummy time!

Kata dokter anak, posisi menelungkup baik untuk mendorong bayi berlatih mengangkat kepala dan menguatkan otot lehernya. Makanya, saya mulai melakukan tummy time saat Rendra berumur 6 minggu. Awalnya sebentar saja, hanya sekitar 5 menit sehari. Selanjutnya, durasi tummy time ditambah bertahap hingga sekitar 20 menit ketika usianya menginjak 4 bulan. Selama tummy time, saya memberikan stimulasi dengan cara meletakkan jari tangan atau mainan pada tangannya.

  1. Jalan, yuk!

Setelah bayi mampu berguling, merangkak, atau berjalan, rajin-rajinlah mengajaknya melakukan aktivitas fisik tersebut. Latihan ini baik untuk membantu mengembangkan kecerdasan motorik dan keseimbangan anak, sekaligus membantu menstimulasi kemampuan otaknya.

  1. Buat jadwal rutin

Tanpa rutinitas harian, bayi tidak bisa mengira-kira apa yang akan ia alami dari waktu ke waktu. Hal ini bisa membuat si kecil merasa stres sehingga mempengaruhi kemampuannya untuk menerima hal-hal baru. Untuk menghindarinya, taatilah jadwal rutinitas harian sehingga kemampuan belajar anak tidak terganggu.

  1. ASI eksklusif

ASI mengandung asam lemak DHA dan AA yang penting bagi pertumbuhan otak bayi. Bukan hanya itu, ASI juga mengandung asam amino, taurin, dan kolesterol dalam jumlah cukup untuk mendukung proses pertumbuhan otak si kecil. Sebagai perbandingan, susu sapi hanya mengandung kolesterol dalam jumlah sedikit, sementara susu soya tidak mengandung kolesterol sama sekali.

  1. Mainan sesuai usia

Pada usia 6-7 bulan, bayi sudah siap menggunakan mainan yang bisa dimanipulasi dengan tangan, misalnya jenis mainan yang memiliki hubungan sebab-akibat (dulu saya memberikan boneka yang bisa bersuara saat ditekan dan cincin lunak yang bisa disambung dan dilepas). Jenis mainan seperti ini berguna menguatkan hubungan antar sel-sel otak dan membantu si kecil mengembangkan gerak motorik yang lebih terarah. Ketika usianya bertambah, berikan lagi jenis mainan baru yang sesuai dengan tahap tumbuh kembangnya. Setiap usia bayi ada jenis permainan yang bisa dilakukan.

Mau tahu 7 cara lainnya? Tunggu di artikel saya berikutnya ya :).

 


Post Comment