Peter Pan Syndrome & Cinderella Complex, Berbahaya Bagi Masa Depan Anak

Angka perceraian di Indonesia kian melesat tajam. Tanpa disadari salah satu pemicunya adalah pola asuh orangtua yang salah di mana membesarkan anak dengan peter pan syndrome dan cinderella complex.

Belum lama ini saya mengikuti acara seminar yang digagas oleh Supermoms Inodnesia. Kali ini topik yang diangkat adalah peter pan syndrome dan cinderella complex. Awalnya saya sempat bertanya-tanya, apa yang dimaksud dengan kedua sindrom ini? Apakah akan membahas soal sejauh mana imajinasi anak-anak memengaruhi kehidupannya kelak? Ternyata nara sumber seminar, Ibu Elly Risman memaparkan masalah yang lebih kompleks. Di mana peter pan syndrome dan cinderella complex merupakan salah satu faktor  yang menyebabkan ketidak harmonisan dan perselingkuhan dalam rumah tangga.

peterpan syndrom

Jadi, seminar ini dibuka dengan acara peluncuran buku buku Ilmu Memeluk Anak ditulis oleh Ibu Elly Risman dan tim. Dari judulnya saja sudah bisa tercermin kalau buku ini memaparkan betapa pelukan punya kekuatan hebat dalam pengasuhan. Jika dulu, masih banyak anak-anak yang didik dengan tangan besi, menggunakan kekerasan atas nama cinta, sepertinya pola asuh seperti ini kian bergeser. Banyak cerita dalam buku ini yang memperlihatkan kalau kekerasan dalam pola asuh berdamak buruk pada karakter anak saat ia tumbuh menjadi dewasa.

Setelah itu, barulah Ibu Elly Risman masuk dengan memaparkan kondisi perceraian yang kian melesat. Yang memprihatinkan, perceraian ini dilakukan oleh pasangan muda di Indonesia. Dan lebih dari 60% perceraian dilakukan atas kehendak istri. Pertanyaannya, kenapa banyak pasangan muda yang bercerai? Kenapa juga banyak istri banyak meminta cerai?

Meskipun jawabannya cukup kompleks, namun tanpa disadari perceraian ini disebabkan karena pasangan muda ini mengalami peter pan syndrome dan cinderella complex.

Masih ingat kan dengan cerita Peter Pan? Cerita seorang anak laki-laki kecil yang berharap dirinya untuk tidak tumbuh dewasa. Jadi, peter pan syndrome ini orang dewasa yang secara psikologis, sosial dan seksual tidak menunjukan kematangan.

Ibu Elly Risman menjelaskan ada beberapa ciri-ciri peter pan syndrome, yaitu:

  • Pemarah (mudah marah jika keinginannya tidak terpenuhi)
  • Tidak bisa menerima kritikan
  • Mudah sakit hati
  • Cinta diri sendiri secara berlebihan (narsistik)
  • Senang memenipulasi
  • Punya keyakinan yang melampui hukum-hukum atau norma norma yang ada di masyarakat
  • Menolak berhubungan dengan lawan jenis
  • Sulit untuk berkomitmen
  • Tidak ingin menjadi dewasa dan tumbuh mandiri

Sementara untuk cinderella complex juga tidak jauh berbeda, yaitu sindrom yang dialami seorang anak perempuan di mana ia memiliki ketakutan tersembunyi untuk menjadi dewasa. Hal ini disebabkan karena anak terbiasa hidup enak, selalu dilindungi, dimanjakan oleh ayahnya sehingga ia memimpikan untuk mendapatkan suami yang seperti ayahnya.  Selain itu, anak yang tumbuh dengan cinderella complex punya keinginan untuk selalu diselamatkan, dilndungi, dan disayang. Seakan-akan ada ‘pangeran’ yang akan meminang dan menjadi pasangannya.

Nah, jadi kebayang, ya, kalau peter pan syndrome dan cinderella complex ini benar-benar berdampak buruk karena menghambat anak untuk menjadi dewasa. Sementara, pernikahan membutuhkan kedewasaan, baik dalam berpikir ataupun bertindak.

Tanpa disadari, jika kita terus-menerus memberikan semua kebutuhan dan keinginan anak, bahkan ketika anak belum memintanya hal ini akan akan membuat anak memiliki Adversity Quotion (AD) yang rendah. AD ini sendiri adalah kemampuan seseorang untuk tabah dalam menerima dan menyelesaika masalah.

Apabila anak memiliki AD yang baik, maka ia pun akan tumbuh menjadi anak yang “tahan banting” dalam menghadapi masalah hidupnya. Sebaliknya, jika anak laki-laki kita tidak  punya AD yang baik, makan sangat mungkin memiliki Peter Pan Syndrome, sedangkan untuk perempuan akan mengalami Cinderella Complex.

Anak-anak yang tidak memiliki AD yang baik juga akan cepat terpengaruh pada pergaulan yang negatif, mulai dari terlibat narkoba atau pergaulan bebas. Umh, kebayang, sih, ya hal ini bisa saja terjadi kalau kita membesarkan anak laki laki  ini tidak bisa bertanggung jawab ketika dan selalu tergantung ada orangtua. Kalau sudah menikah, ia pun akan terus bergantung pada istrinya karena sudah terbiasa dimanjakan oleh orangtua. Kalau istri tidak bisa memenuhi keinginannya, ia pun akan lekas marah.Begitu juga anak perepuan, ketika ia sudah dewasa ia akan mencari suami yg mampu memberinya segalanya dan akan mudah meminta cerai di saat sulit.

Ah, menyeramkan, ya? Saya jadi merasa ngeri sendiri membayangkan apa jadinaya anak saya, Bumi, jika dibesarkan dengan cara yang salah. Harapannya, ia bisa tumbuh dewasa tanpa harus mengalami peter pan syndrome. Lebih bahaya lagi, apabila ia bertemu jodoh dengan perempuan yang memiliki cinderella complex.

Sebenarnya materi yang dipaparkan Ibu Elly Risman sangat panjang, untuk itu saya akan menuliskan kembali diartikel yang berbeda. Salah satunya mengenai cara pencehagan anak mengalami peter pan syndrome dan cinderella complex, yaitu mulai membiasakan diri melatih anak-anaknya utk BMM (Berfikir-Memilih-Mengambil Keputusan). Tunggu artikel selanjutnya, ya.