10 Kesalahan Ibu Baru

Ditulis oleh: Nayu Novita

Kondisi “jet-lag” selepas menyandang status “ibu baru” membuat banyak di antara kita (termasuk saya tentunya) melakukan sejumlah kesalahan tanpa disadari.

Andai detak waktu bisa berputar ke arah kiri, ingin rasanya saya terbang kembali ke masa si kakak masih memakai popok dan minyak telon. Saya ingin mengingatkan diri sendiri untuk tidak melakukan kesalahan konyol yang membuat saya kurang menikmati momen sebagai orangtua baru. Tapi, yaa… berhubung mesin waktu cuma ada di bengkel Lang Ling Lung, yang bisa saya lakukan hanyalah berbagi pengalaman dengan para new mommies. Take it from me: tanpa “drama” yang sebenarnya tak perlu terjadi, hari-hari sebagai ibu baru akan terasa jauuuh lebih indah dan mudah dijalani. Bahkan siapa tahu aja banyak priceless moment sebagai ibu baru yang Anda rasakan.

Kesalahan #1: Gampang Panik

Ingeeeet banget, pas baru jadi ibu, kayaknya status saya selalu “siaga darurat” . Anak demam, muntah, nggak mau menyusu, timbul ruam dan sebagainya bawaannya panik. Padahal, setelah dipikir-pikir, tombol panik saya nggak perlu on terus kalau saya mau mencari informasi dari sumber terpercaya. Cek di internet dan cek ke dokter. Jadi kan saya bisa tahu kalau anak muntah, kapan perlu paniknya!

Kesalahan #2: Sibuk membandingkan

“Sudah bisa apa bayinya?” Ini adalah pertanyaan “jebakan” yang biasanya sukses menjerumuskan saya (dulu) ke dalam kancah kompetisi dengan sesama ibu lainnya. Ujung-ujungnya, pasti ada salah satu pihak yang terserang galau karena bayinya belum bisa duduk sendiri, merangkak, dan sebagainya, seperti bayi yang dijadikan pembanding. Tell the truth, ini adalah kegiatan yang menguras emosi dan waktu. Selama dokter tidak memberikan sinyal negatif, berarti proses tumbuh kembang si kecil masih berada dalam taraf normal.

Super Mom

*Gambar dari sini

Kesalahan #3: Nggak Pede

Dulu saya suka nggak pede karena sibuk mendengarkan nasihat yang mengalir deras dari berbagai penjuru—mulai dari orangtua, mertua, sampai teman-teman, mengenai cara merawat bayi. Parahnya lagi, nasihat tersebut terkadang saling bertolak belakang. Makanya, biar nggak bingung, saya sepakat dengan pasangan mengenai sumber informasi yang layak dipercaya, yaitu dokter anak dan pakar tumbuh kembang anak.

Kesalahan #4: Berusaha menjadi supermom

Sama seperti sosok wonder woman yang hanya ada di dalam komik, sosok supermom juga hanya ada dalam impian kita. Saya setuju dengan pepatah yang berasal dari Afrika, “It takes a village to raise a child”. Tanggung jawab membesarkan seorang anak memang tidak terletak di pundak ibu semata, tetapi juga orang-orang di sekelilingnya. Realistis saja, memangnya kita punya waktu dan tenaga yang cukup untuk mengurus bayi sendirian sekaligus bekerja dan mengurus rumah.

Kesalahan #5: Tidak belajar memberikan ASI

Ini kesalahan besar saya dulu. Berhubung percaya bahwa memberikan ASI adalah suatu proses alamiah yang akan berjalan lancar seiring waktu, saya lengah mencari tahu apa saja hambatan yang dialami para ibu yang baru mulai menyusui. Untuung.. saja ketemu dokter anak yang meyakinkan saya bahwa proses relaktasi (kembali memberikan ASI setelah pemberian sufor) bisa dilakukan.

Apa  5 kesalahan lainnya?


Post Comment