Membesarkan Anak Introvert

Ditulis oleh: Nayu Novita

Kalau saya perhatikan, anak pertama saya itu agak introvert dan mengasuh anak introvert itu gampang-gampang susah (lap keringat).

Bagai pelangi, setiap anak lahir ke dunia dengan tipe kepribadian yang nggak mungkin seragam alias berwarna-warni. Waktu kita kecil dulu, pasti pernah deh ketemu teman sekelas yang hobi ngobrol dan gaul, tetapi ada juga yang betah duduk diam sambil membaca atau mendengarkan orang lain bercerita. Iya, di mana-mana pasti ada tipe anak yang rame alias terbuka (ekstrovert) dan ada yang tertutup (introvert).

feeling-malu-02

Nah, kalau dari saya pribadi seringkali saya merasa lebih ‘sullit’ memahami si kakak yang cenderung introvert. Yes I know, kita nggak boleh ngebandingin sesama anak, tapi ini hanya sekadar sharing pengalaman aja. Jujur saya sempat merasa cemas kalau nanti si kakak tumbuh menjadi sosok yang individualis dan kesepian. Semoga saja ketakutan saya nggak beralasan ya mom.

Anyway, akhirnya saya pun mencoba untuk mendampingi si kakak dan melakukan usaha semampu saya sebagai ibu.

  1. Hargai dirinya

Saya pernah membaca sebuah artikel, menurut Kenneth H. Rubin, Ph.D.—psikolog dari University of Maryland, Amerika, anak introvert sebenarnya adalah teman yang menyenangkan. Selama mereka merasa nyaman dan berada di dalam lingkungan yang cocok, anak introvert akan menjadi seorang teman yang baik dan penuh perhatian. Saya pun jadi berusaha menelaah (tsaaaah) mana lingkungan dan teman-teman yang disukai anak saya.

  1. Ajak mencoba hal-hal baru

Saya terkadang kesulitan mengajak si kakak berkenalan dengan orang baru atau mencoba hal-hal baru (bahkan untuk sekadar singgah ke restoran baru!). Tetapi, gimana pun, dia kan tetap harus diajak menjajal pengalaman agar wawasannya bertambah. Akhirnya saya melakukan secara bertahap dalam artian nggak memaksa. Dengan terbiasa menjajal hal baru, say merasa kakak jadi belajar mengatasi cemas dan ke depannya menjadi lebih pede.

  1. Jangan menyamakan

Karena saya juga introvert, saya sedikit banyak tahu apa yang dirasakan oleh si kakak dari waktu ke waktu. Tetapi, jangan juga kita sebagai orangtua asik menyamakan pengalaman pribadi di masa lalu dengan kehidupan anak saat ini. Makanya saya nggak pernah cerita ke kakak, gimana duluuu saya suka susah fit-in dengan lingkungan atau capek saat berkenalan dengan terlalu banyak orang. Takutnya kalau si kakak tahu saya begitu, dia jadi ada alasan untuk melakukan hal yang sama.

Bagaimana kalau si kecil ternyata tipe Orchid Child?


Post Comment