Scheduling Secret of Busy Moms

Pernah ngalamin kejadian seperti ini: Lupa menjemput anak pulang sekolah dan baru ingat setelah pihak sekolah menghubungi? Saya pernah. Jadi memang saya butuh strategi agar bisa mengatur waktu dengan baik.

Dan saat itu saya merasa seperti ibu yang paling nggak bertanggung jawab. Kejadian ini terjadi saat anak saya yang bungsu masih TK. Untung kepala sekolahnya teman saya, jadi tidak ada tatapan menghakimi. Yang ada teman saya malah ketawa dan bilang “Sibuuuuuk sampe segitunya. Untung si Djati nggak gw bawa pulang nih, buat nambah anak gw di rumah.” Seumur-umur saya bekerja, baru kali itu saya sampai lupa blas jadwal anak-anak saya. Mungkin karena saat itu load kerja di kantor juga lagi heboh.

Bukan hal mudah memang, menjadi working mommies yang harus pandai menjadi juggler (pemain lempar barang yang sering ada di sirkus itu lho!). Harus memastikan semua poin dalam hidupnya berputar sempurna dan tidak ada yang terjatuh. Faktanya, sesekali, saya pernah ‘menjatuhkan’ beberapa poin dalam hidup. Lupa menjemput anak, agak terlambat menyelesaikan deadline kerjaan di kantor, pasrah menatap tumpukan kotoran di tempat cucian piring, atau pura-pura tidur saat suami mengajak bercinta saking saya merasa lelah. I feel bad saat itu terjadi. Tapi apakah ini berarti saya adalah ibu yang buruk? Pegawai yang buruk? Atau isteri yang menyebalkan? Nggak juga kok.

Bussy MOm

*Gambar dari sini

Memiliki karier bagus sekaligus keluarga yang harmonis itu sudah pasti menjadi tujuan banyak working mommies, termasuk saya. Itu adalah tujuannya atau hasil akhirnya. Tapi untuk mencapai tujuan tersebut, nggak sedikit halang rintang yang harus saya hadapi. Yang nggak hanya membuat keringat menetes tapi juga ‘hati berdarah-darah.’ Saya nggak pernah percaya kalau ada orang yang bilang, bahwa urusan karier dan keluarga SELALU berjalan seimbang. Dalam setiap langkah menuju hasil akhir, saya yakin akan ada satu sisi yang perlu kita ‘korbankan.”

Saat deadline melanda bertepatan dengan anak sakit? Saya memilih menemani anak sakit. Pekerjaan saya untuk saat itu saya korbankan. Saat harus mengikuti meeting penting tapi di rumah nggak ada yang menjaga anak-anak? Saya meminta tolong mama saya untuk menemani. Anak-anak saya saat itu harus sedikit mengalah dengan pekerjaan saya. Kembali saya bertanya? Apakah itu membuat saya menjadi ibu dan pegawai yang buruk? No. Karena semua tergantung bagaimana saya mengatur skala prioritas dan sepandai apa saya mengatur jadwal harian saya. At the end toch karier saya tetap baik dan keluarga saya tetap baik.

Bicara tentang menjalani aktivitas dengan segudang kesibukan, saya mencoba untuk menerapkan beberapa ‘sistem’ yang lumayan membantu saya. Mau tahu? Ada di laman berikut


Post Comment