Lotus Birth, Apa Saja Manfaatnya?

Penasaran dengan proses melahirkan dengan metode lotus birth? Berikut penjelasan dr. Sita Ayu Arumi, SpOG mengenai manfaat serta risiko dari lotus birth.

Setahun yang lalu, tahun 2014, saya sudah sempat mendengar soal cara melahirkan dengan lotus birth. Tapi informasi yang saya dapatkan tidaklah banyak. Sepengetahuan saya, lotus birth sebenarnya merupakan gerakan back to nature proses melahirkan di mana bertujuan mengembalikan kearifan lama dalam hidup manusia.

lotus birth*foto dari sini

Kemudian, belum lama ini, salah satu pesohor Tanah Air, Widi Mulia B3 melakukan proses persalinan lotus birth pada anak ke-3 yang diberi nama Den Bagus Satrio Sasono. Saya sendiri cukup takjub dengan ibu atau pasangan suami istri yang sepakat untuk melahirkan lewat cara proses lotus birth. Dalam bayangan saya, mengurus bayi yang baru lahir saja sudah cukup repot dan membutuhkan banyak perhatian, sementara kalau melahirkan dengan lotus birth kita pun harus merawat ar-ari dan plasenta.

Berkaitan dengan lotus birth ini, memang ada sebuah studi yang dilakukan oleh peneliti dari University of South Florida pada tahun 2010 dan sudah dipublikasi dalam The Journal of Cellular and Molecular Medicine menyebutkan kalau pemotongan tali pusat lebih awal akan mengganggu penyaluran darah dari ibu ke bayinya.

Namun, di sisi lain, seorang profesor kebidanan dan ginekologi di Columbia University, Hilda Hutcherson, mengatakan kepada Yahoo! Shine, sampai saat ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa meninggalkan tali pusat melekat akan memberikan manfaat kesehatan bagi bayi.

Uuumh… jadi mana yang benar, dong? Dari pada bingung sendiri, untuk memuaskan rasa penasaran saya pun akhirnya meminta waktu dr. Sita Ayu Arumi, SpOG dari RSIA. Bunda Jakarta untuk menjelaskan mengenai lotus birth ini.

Apa yang dimaksud dengan lotus birth?

Kalau lotus birth, sampai sekarang saya memang belum pernah mengerjakannya. Tapi lewat apa yang sudah baca, yang membedakan lotus birth ini dengan kelahiran normal adalah begitu bayi lahir, tali pusatnya tidak dipotong, lalu dibiarkan plasentanya lahir setelah itu plasenta tersebut dirawat bersama bayi sampai dia lepas secara spontan. Rata-rata plasenta ini akan lepas selama 7 hari. Sedangkan kalau dalam kedokteran, begitu bayi lahir kita biasa langsung memotong tali pusatnya. Bisa delay klem (dipotong) dahulu, ditunggu 1 hingga 3 menit, baru kita potong dan plasenta dilahirkan secara nomal, begitu plasenta lahir kita serahkan pada keluarga. Biasanya nanti keluarga akan menguburkannya, tapi ini adatnya berbeda-beda.

Mengapa pengguntingan tali pusat bayi tidak dianjurkan pada lotus birth?

Sebenarnya proses melahirkan secara lotus birth merupakan gerakan back to nature pada proses persalinan. Di mana tali pusat bayi dibiarkan tersambung dengan plasenta atau ari-ari sampai  puput dengan sendirnya. Pemotongan bagian tubuh dianggap akan menimbulkan perlukaan yang bisa menimbukan ketidak nyamanan pada bayi.

Apakah plasenta yang sudah keluar dari rahim ibu masih memiliki manfaat?

Pada dasarnya begitu plasenta lepas, sudah tidak ada fugsinya lagi untuk bayi.

Konon, melahirkan dengan metode lotus birth dipercaya dapat mencegah bayi kekurangan zat besi dan membuat bayi memiliki kekebalan tubuh yang tinggi benar kah?

Pendapat ini memang ada karena darah yang masih mengalir dari plasenta dapat memberikan tambahan oksigen, makanan dan antibodi untuk si bayi. Tapi kalau menurut saya, manfaatnya sebenarnya nggak ada. Karena benda tersebut (plasenta) sudah tida ada fungsinya lagi. Sekarang kita bicara plasenta lebih dulu, plasenta itu organ yang menghubungkan aliran darah itu dengan aliran darah bayi, dan dia yang jadi penyaring. Nutrisinya ibu disaring lalu diberikan pada bayi lewat sistem pembuluh darah bayi. Misalnya kalau darah ibu ada racunnya, atau ada beberapa mineral yang besar  maka akan disaring. Jadi darah yang masuk ke bayi sudah lebih dahulu disaring. Jadi bukan dia yang menciptakan makanan, bukan dia juga yang menciptakan oksigennya. Dia hanya organ yang mengubungkan aliran darah ini ke aliran darah bayi.

Apakah melahiran dengan cara lotus birth memiliki risiko, baik untuk bayi dan ibu?

Risikonya tentu saja bisa terjadi infeksi . Organ yang sudah mati itu kan bisa terkontaminasi dengan bakteri dan kuman-kuman lalu infeksi, selama masih ada hubungan dengan bayi tentu saja jadi bisa merambat.  Kalau saya membaca mengenai lotus birth ini, setelah melahirkan, plasentanya itu memang akan dibungkus dengan beberapa ramuan. Mungkin ramuan ini tujuannya seperti antiseptik untuk mematikan bakteri. Tapi kan tidak bisa menjamin 100%.

Sedangkan untuk ibu, paling hanya repot karena harus menjaga kebersihan plasenta juga. Saat menggendong bayi, plasenta juga harus ikut digendong, namun ditempatkan di tas khusus. Saat bayi mandi, plasenta juga harus dibersihkan kemudian dikeringkan. Mungkin itu saja agak merepotkan.

Apakah penerapan melahirkan dengan metode lotus birth sudah diterapkan pada Rumah Sakit atapun bidan-bidan?

Secara kedokteran, metode ini masih dianggap kontroversial dan belum ada penelitiannya secara ilmiah. Dari ikatan ikatan dokter juga belum ada yang melakukan metode ini. Metode melahirkan ini awalnya banyak dipraktekkan di negara Tibet yang beragama Budha, suku Aborigin di Australia, dan untuk Indonesia sendiri baru hanya dilakukan oleh bidan di Bali karena memang tidak terlepas dari tradisi budaya dan kepercayaan.

Jadi bagaimana Mommies? Mudah-mudahan obralan saya dengan dr. Sita bisa memberikan insight baru mengenai lotus birth, ya.