Pisah Tidur dengan Anak, Apa yang Harus Diperhatikan?

Pisah kamar dengan anak setelah lima tahun tidur bersama ternyata bukan perkara yang mudah. Sebenarnya apa yang perlu diperhatikan saat memutuskan pisah kamar dengan si kecil?

Berhubung sampai detik ini keluarga kecil saya masih nebeng  tinggal di rumah orangtua, rasanya akan sulit kalau menginginkan Bumi tidur terpisah. Maklum, deh, kamar di rumah kan juga sangat terbatas.

Bumi

Sejak awal saya dan suami memang sudah memutuskan untuk tidur sekamar dengan Bumi. Hal ini pun berlaku jika apabila kami sudah menempati rumah second yang kami beli. Alasannya tentu nggak akan terlepas dari beberapa manfaat yang saya ketahui. Saya percaya, tidur bersama anak akan memudahkan proses bonding. Mengingat saya ibu bekerja, jadi butuh waktu yang berkualitas dengan memanfaatkan waktu menjelang tidur. Selain bisa melakukan ritual membacakan buku atau mendongeng, saya pun bisa ngobrol ngalor ngidul  lebih dulu. Selain itu, tentu saja dengan tidur sekamar akan memudahkan proses ngASI.

Lagi pula, kalau boleh jujur, saya dan suami pun sangat berat untuk pisah ranjang dengan Bumi. Tiap malam maunya kekepin anak terus. Sambil nyiumin bau khasnya. Pembenaran lainnya adalah saya masih saja berpikir, “Ya, sudahlah ya…. momen seperti ini kan nggak akan bisa berlangsung lama. Ketika Bumi masuk SD, tumbuh makin besar, pasti anak saya ini dengan sendirinya akan tidur terpisah.”

Namun ketika anak makin besar, agak repot juga ya kalau tidur sekamar? Urusan mesra-mesraan sama suami pasti akan jadi lebih repot, ahahaha. Nggak mungkin, dong, ya, kalau kegiataan yang satu itu sampai dilihat oleh anak kita? Untuk alasan yang satu itu, kita pun dituntut lebih kreatif. Tapi sejak merencanakan untuk hamil (lagi), sebelum pisah kamar, paling tidak anak lanang kami ini perlu dilatih untuk pisah ranjang lebih dulu.

Apakah rencana pisah ranjang ini berjalan dengan mulus? Tentu saya, nggak…. pada awalnya Bumi masih sering merengek dengan bilang, “Aku maunya tidur sama ibu sajaaa….”

Saya sendiri sangat sadar kalau dengan adanya adik tentu anak saya, Bumi akan merasakan perubahan besar dalam hidupnya. Bukan tidak mungkin ia akan merasa cemburu. Dengan begitu. kasihan sekali kalau dalam fase penuh tekanan seperti ini anak diharuskan pisah kamar. Bisa-bisa ia akan merasa stres dan semakin sulit pisah.

Seperti yang dijelaskan psikolog anak, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, proses tidur terpisah dengan orangtua memang nggak mudah dilalui anak. “Setelah sekian lama anak tidur bersama orangtua, tentu akan berat jika anak diminta untuk tidur terpisah. Untuk itu, ada baiknya proses pisah kamar tidak dibarengi dengan hal-hal yang berat. Misalnya saat ia akan mendapatkan anak. Untuk itu,  lakukan pisah kamar jauh sebelum ibu hamil, atau tunda sampai adik cukup umur untuk sekaligus pisah kamar bersama.”

Mbak Vera menjelaskan bahwa sebenarnya tidur sendiri merupakan tahap  pencapaian yang paling akhir. Sebisa mungkin proses pisah kamar ini dilakukan jika anak sudah lulus melewati proses pembelajaran yang lainnya, seperti potty training, mampu makan dan mandi sendiri, serta bisa memakai seragam sendiri.

Lalu, kapan waktu yang paling ideal untuk pisah kamar dengan anak? Dalam hal ini Mbak Vera menerangkan bahwa idealnya proses pembelajaran tidur terpisah dengan orangtua dilakukan sejak anak berusia 3 tahun. Targetnya, sih, ketika anak masuk SD ia sudah diajarkan untuk tidur sendiri. Namun, Mbak Vera juga mengingatkan kalau proses peralihan tidur sendiri ini harus dilakukan dengan smooth. Artinya, kita sebagai orangtua tidak boleh memaksakan kehendak atau berharap kalau proses ini bisa dilakukan dengang cepat.

Apabila si kecil bertanya mengapa ia harus tidur sendiri, berikan jawaban yang sebenarnya. “Jawabnya nggak boleh mengada-ada. Kalau dari pengalaman saya pribadi, waktu it saya mengatakan, ‘Kamu butuh tidur di temapt tidur sendiri karena badan kamu semakin besar. Sementara kalau tidur bersama ibu dan bapak akan sempit, sehingga pertumbuhan badan tidak maksimal.”

Penting juga bagi kita para orangtua untuk memulai memfokuskan segala kegiatan di kamar anak. Contohnya, anak tidak boleh lagi menitipkan mainan atau buku-bukunya di dalam kamar kita, sehingga semua kegiatan dilakukan di kamar anak. “Awalnya memang harus trial and error dulu, sih. Tapi jangan menyerah dan bilang kalau anak nggak siap tidur terpisah, karena anak juga butuh menjalaninya dengan konsisten, terus menerus. Untuk memotivasi anak, boleh pakai reward dengan stiker yang memperlihatkan poin kemajuan anak.”

 

 


Post Comment