Kekerasan Terhadap Anak: Apa Kabar Engeline Sekarang?

Kekerasan terhadap anak dan pembunuhan terhadap anak terus bermunculan. Media dan masyarakat terus menyorot kasus-kasus baru yang bermunculan. Pertanyaannya, seberapa lama kita mengawasinya?

Membaca harian Kompas, Sabtu, 10 Oktober 2015, di bawah judul Pembunuhan Kian Masif, saya dibeberkan fakta-fakta tentang pembunuhan bocah PNF di Kalideres, kemudian pembunuhan ibu dan anak di kawasan Cakung. Sedih, marah dan gregetan. Saat ini, banyak media yang menyorot kasus ini. Masyarakat pun mengungkapkan kesedihan mereka di ranah social media. Dan kemudian terlintas di pikiran saya, apa kabar dengan Engeline?

i-can-t-stop-it-stop-child-abuse

 

*Gambar dari sini

Hilang sejak bulan Mei 2015, ditemukan dalam kondisi meninggal pada bulan Juni 2015 dan sampai terakhir September 2015 kayaknya kasusnya belum final. Sebelum membuat tulisan ini, sengaja saya mencari berita terakhir dari kasus ini, dan itu adalah tulisan di Kompas.com per tanggal 28 September 2015. Pelaku sudah ditetapkan, penahanan sudah dilakukan tapi keputusan atau hukuman belum diberikan. Dan nampaknya, kita sudah mulai lupa sampai kasus kekerasan baru kemudian muncul.

Saya buka ahli hukum. Mungkin memang proses penetapan dan pemberian hukuman membutuhkan waktu lama. Tapi, apakah kita sebagai masyarakat Indonesia, sebagai orangtua dan sebagai ibu masih terus ‘mengawasi’ kasus ini? Entahlah. Jujur saja, saya sendiri sempat sudah lupa. Dan baru ingat lagi setelah ada kasus pembunuhan baru.  Memangnya apa yang bisa saya lakukan? Memang saya bisa menuntut para petinggi kepolisian, pengadilan, jaksa, hakim atau pengacara dan sejuta orang lain yang berada di ranah hukum untuk segera memberikan hukuman yang setimpal bagi para pelaku kejahatan tterhadap anak ini? Siapa saya?

Mungkin kalau saya sendiri tidak akan bisa. Tapi kalau kita semua, seluruh masyarakat Indonesia konsisten melakukannya bersama-sama, MUNGKIN kita bisa meminta keadilan untuk seorang anak yang nggak jauh berbeda dengan anak-anak kita. Anak yang memiliki hak untuk hidup, bermain, bersekolah dan tumbuh besar dengan rasa aman dan nyaman.

3

 

*Gambar dari sini

Memang orang jahat semakin banyak, tapi saya yakin masih banyak orang baik di luar sana yang jumlahnya jauuuuuh lebih banyak dari mereka yang tidak berhati nurani. Orang itu bisa saya dan bisa juga Anda. Sampai kapan reaksi kita keras hanya kalau kasus baru muncul untuk kemudian perlahan-lahan menjadi senyap? Buat media sendiri, yuk tetap berikan sebuah ruang agar setiap kasus kekerasan terhadap anak tetap mendapat sorotan dan perhatian dari masyarakat sampai para pelaku tertangkap, dan mendapat hukuman (bukan sekadar hukuman) tapi hukuman yang setimpal dengan apa yang mereka perbuat.

Pernah menonton video berisi kampanye perlindungan anak hasil kolaborasi UNICEF dengan www.pelindunganak.org? Isinya singkat namun menarik. Bahwa cara paling mudah untuk melindungi anak dari kekerasan adalah membuka hati dan mata kita untuk lebih peduli dengan anak-anak yang ada di sekitar kita, tanpa kita perlu menjadi orangtua mereka. Tak peduli di manapun kita berada. Karena bisa saja, suatu saat nanti, orang yang kita kenal yang menjadi korban atau (amit-amit….. knock on wood) anak kita sendiri yang mengalami.

Let’s make a safer and better world for our children. Save the from the fear. That is a responsibility of you too.


Post Comment