MPASI, Mulai dari Makanan Apa Ya?

Waktu memberikan MPASI untuk si kecil sudah di depan mata. Enaknya pilih jenis makanan apa dulu, ya?

Walaupun sudah melakukan beberapa langkah persiapan MPASI, suka bingung nggak, sih, memilih makanan jenis apa lebih dahulu? Buah-buahan, sayuran, atau langsung bubur beras merah? Dulu, sih, menjelang anak lanang saya, Bumi, mulai MPASI, saya sempat dilanda kebingungan. Maklum, deh, namanya juga ibu baru yang belum punya pengalaman, ya.

mpasi

Banyak teman ataupun informasi yang saya dapatkan mengatakan kalau MPASI sebaiknya dimulai dengan mengenalkan berbagai jenis sayuran. Kenapa tidak dimulai dengan buah-buahan karena ditakutkan anak yang sudah mengenal rasa manis akan menolak sayur yang rasanya memang tidak manis. Tapi, nggak sedikit juga yang menyarankan untuk memulai MPASI dengan memberikan gasol organik. Masalah metode pemberian MPASI pun sangat beragam. 

Setelah menimbang-nimbang, saya pun akhirnya waktu itu memilih mengenalkan berbagai rasa dari buah-buahan lebih dulu. Setelah itu, baru, deh, saya membuatkan bubur saring dengan aneka isinya. Buat Mommies yang tengah menyiapkan MPASI untuk si kecil sebenarnya nggak pusing-pusing menentukan jenis makanan apa yang sebaiknya dikenalkan lebih dahulu. Soalnya, selama makanan sehat yang kita berikan, apapun boleh, kok. Bahkan, ada sebuah penelitian yang menyebutkan kalau tidak ada bukti ilmiah keuntungan pengenalan makanan dengan jenis urutan tertentu.

Fakta ini saya ketahui saat mengikuti Pesat 16 Jakarta yang dilangsungkan Minggu, 4 Oktober kemarin di JDC. Waktu itu dr.Fransisca Handy SpA mengungkapkan nggak ada bukti ilmiah keuntungan pengenalan makanan dengan urutan tertuntu. Artinya, makanan apapun boleh saja, kecuali madu. “Kenapa madu tidak boleh dikarenakan karena madu berpotensi mengandung spora bakteria, yaitu clostridium botulinum. Kuman atau bakteri ini akan memproduksi toksin (zat beracun) yang bisa menyebabkan penyakit infant botulism (penyakit botulisme pada bayi). Penyakit ini sangat serius.” jelas dr. Fransisca Handy SpA. Oh, ya, masalah pemberian garam juga harus diperhatikan, yah.

Lalu, bagaimana MPASI yang berkualitas?

MPASI baru bisa dikatakan berkualitas jika dikenalkan tepat waktu, dikenalkan ketika kebutuhan energi dsn nutrisi tidak lagi dapat dipenuhi hanya lewat ASI. MPASI yang berkualitas juga harus memadai, maksudnya harus cukup energi protein dan mikronutriens. Jadi, untuk MPASI nggak cukup kita berikan dengan bubur nasi dengan kecap yang dijual keliling kompleks, ya. Atau  bukan saja bubur nasi dengan kuah bakso abang langanan. Seperti yang dikatakan dr. Fransisca, MPASI bukan sekedar makanan yang bisa dimakan, tapi perhatikan nutrisinya. MPASI berkualitas juga harus diberikan secara tepat, responsive feeding. Tentunya juga harus aman dan diberikan secara bersih.

Dalam sesi ke tiga Pesat 16, ini dr. Fransisca juga menerangkan kalau ada beberapa masalah yang bisa timbul apabila MPASI diberikan terlalu dini, seperti bisa menyebabkan diare, menurunkan produksi ASI, sensitisiasi alergan, masalah perkembangan serta bisa menimbulkan risiko invaginasi. Begitu pula apabila MPASI diberikan terlambat, maka aka terjadi gangguan pertumbuhan, defisiensi besi serta masalah pada perkembangan.

“Sebenarnya MPASI rumahan yang berkualitas itu nggak repot, kok. Ganciiil, karena pada dasarnya menu MPASI sama saja dengan makanan keluarga. Hanya saja porsi dan teksturnya disesuaikan dengan kemampuan bayi. Variasi cukup energi dana mikronutrien,” ungkap dr. Fransisca lagi.

Biar bagaimana pun makan merupakan proses belajar bagi anak. Di mana anak mulai mengenal aroma, rasa, tekstur, warna, bentuk, menelan dan mengunyah, melatih motorik halusnya, belajar kemandirian dan bahasa, termasuk belajar untuk pentingnya kebersaaman.

Kita sebagai orangtua bertugas sebagai peneyedia pilihan, memberikan dukunagn, memberikan struktur dan batasan dan tentu saja memberikan keamanan. Menurut dr. Fransisca, pemberian makanan adalah proses timbal balik antara pengasuh dan anak. Pesannya waktu itu,” Nggak perlu stress mengenai masalah MPASI. Anak melakukan gerakan tutup mulut, ya, lalui saja. Karena anak sulit makan sebenarnya bagian dari tumbuh kembang anak. Jadi tidak ada obat dan tidak ada resep baku. Karena masalah remaja akan jauh lebih sulit menghadapinya.”

Wah, benar juga, ya. Kalau untuk MPASI saja kita anggap sebagai momok yang menakutkan, bagaimana nanti ketika menghadapi masalah saat anak remaja?

 

 


Post Comment