Buku Mewarnai: Senjata Baru Kalahkan Stres

Ditulis oleh: Azza Waslati

Siapa yang sudah mencoba serunya mewarnai di buku mewarnai yang lagi booming saat ini? Saya sudah, dan kemudian ketagihan.

Ketika anak-anak tidur, itulah saatnya mama bermain. Lampu kamar tidur saya matikan, lalu saya pun mengendap-endap keluar kamar sembari menatap buku mewarnai dan pinsil mewarnai seperti menatap saldo rekening bank di akhir bulan.

IMG_3519

Ketika pertama kali mengetahui kehebohan buku mewarnai yang dimulai dari Johanna Basford dan buku Secret Garden-nya, saya berkomentar, “Meh.” Umur sudah 30-an, rasanya lucu bermain dengan buku mewarnai, krayon, atau pinsil warna. Sudah cukup berat hidup saya harus menggambar alis dan memakai eyeliner. Sampai suatu hari saya melihat Emily, anak saya yang berusia 10 tahun asik mewarnai gambarnya sendiri. Terlihat seru! Apalagi tak berapa lama kemudian I.B.G. Wiraga, seorang kawan yang biasa saya panggil Hege, mengeluarkan buku mewarnainya sendiri, Bali. Buku ini dipenuhi aneka ilustrasi menarik tentang Bali. Mulai dari tanaman, gadis Bali, Omkara, Barong, dan masih banyak lagi. Tanpa ragu saya pun membeli buku tersebut berikut satu set pinsil warna berisi 36. Hingga saat ini saya menikmati mewarnai sebagai kegiatan meredakan stres yang membawa saya ke dunia berbeda penuh keajaiban warna.

Ternyata tak cuma saya, kehadiran buku mewarnai semua umur mampu mengubah gaya hidup banyak orang. Bahkan di U.S., sudah bukan hal yang aneh lagi kalau di kafe ada orang dewasa duduk dengan buku dan alat mewarnainya. Buku mewarnai Secret Garden, Johanna Basford, yang awalnya dicetak hanya 16 ribu terjual lebih dari 6 juta. Sampai-sampai produksi pinsil warna ikut meningkat karena berusaha memenuhi permintaan pasar. Luar biasa!

IMG_3517

Drena Fagen, art therapist dan instruktur di NYU Steinhardt School menceritakan bahwa ia menggunakan buku mewarnai dalam sesi terapi. Mewarnai, menurut Fagen bisa menghadirkan kesadaran diri seseorang atau malah bisa menyebabkan ia “hilang”, larut dalam kegiatan tersebut. Tergantung bagaimana cara seseorang melihatnya. “Hal kreatif apapun yang bisa membuat seseorang menemukan sesuatu tentang dirinya sendiri, mendapatkan rasa aman dan nyaman, atau memberi kesempatan untuk menyendiri dengan pemikirannya sendiri rasanya tak perlu dikritik. Ini adalah hal yang baik.”

Sementara itu, Mark Robert Waldman, penulis dan pakar komunikasi menyampaikan pada sebuah seminar kesehatan bahwa meditasi aktif memfokuskan perhatian ke sebuah pekerjaan yang mudah dan memerlukan kegiatan repetitif. Berkonsentrasi seperti ini bisa menggantikan pikiran negatif dan menghasilkan rasa damai.

“Terlalu banyak hal yang terjadi dalam kepala saya, antara pekerjaan dan rumah tangga. Kadang rasanya bernapas pun jadi diburu-buru, hahaha. Namun mewarnai ternyata membuat saya merasa lebih santai. Napas saya jadi lebih lambat. Saya menikmati memilih warna-warna ceria untuk mengisi lembaran bergambar indah yang menunggu saya berikan nyawa,” cerita kawan saya, Evi Triawati, seorang pengusaha kuliner dan ibu seorang anak yang menaruh buku mewarnai di meja kerjanya.

IMG_3523

Beda lagi dengan Happy Komike, kenalan saya dari Twitter. Dia merasa mewarnai melatihnya menjadi lebih teliti dan sabar karena polanya yang detail. “Kalau lagi stres, saya pakai warna merah, biru, ungu. Gambarnya jadi beraura suram, hahaha. Ngerjainnya sambil mendengarkan musik yang sesuai mood. Setelah selesai mewarnai, eh, stresnya hilang beneran. Terasa sekali kalau saya meluapkannya di kertas.”

Banyak spiritualis menganjurkan kita memperhatikan tingkah anak kecil. Lihat betapa ringan langkah mereka, betapa riang dan simpel hidup mereka. Selain karena belum harus bayar tagihan kartu kredit, itu juga karena mereka mampu menikmati tiap momen hidupnya dengan maksimal tanpa banyak kekhawatiran. Saya merasa ada benarnya juga. Kadang menjadi seorang ibu bekerja membuat saya jadi kelewat serius hingga teman-teman bilang saya kurang piknik, seakan jadwal saya bisa disulap segera kosong dan bayar ongkos piknik bisa pakai follback di Twitter. Saking seriusnya semua hal terbawa ribet, buntutnya jadi gampang kesal dan imbasnya ke anak-anak juga. Nggak mau lagi, ah. Yuk, kita temukan hal menyenangkan yang bisa membuat beban di pundak terasa lebih ringan dan hati lebih tenang. Mewarnai bisa jadi alternatif buat Anda yang ingin melepaskan stres tanpa capek-capek harus naik jet pribadi, belanja di Champs-Élysée sambil jalan maju-mundur.

 

Tip mewarnai:

  1. Pilihlah pinsil warna, art markers atau pena gel. Hindari krayon sebab buku mewarnai untuk orang dewasa atau semua umur memiliki pola yang lebih detail dan memerlukan alat mewarnai berujung tajam. Buku mewarnai semua umur sudah bisa didapatkan di toko-toko buku.
  2. 36 pinsil warna sudah cukup? Hahaha, banyak yang mengeluh tak cukup banyak warna untuk mengisi sebuah halaman gambar. Tapi untuk memulai, cobalah setidaknya dengan 36 warna tadi.
  3. Mewarnai memang meredakan stres, tapi kalau Anda kerap terganggu selama prosesnya malah bisa bikin stres. Pastikan Anda memang punya waktu setidaknya 30 menit untuk bermain dengan warna.
  4. Jangan takut bereksperimen. Banyak yang merasa tidak jago menggambar atau mewarnai sehingga ragu memulai. Padahal buku ini milik Anda sendiri dan tak ada seorang pun yang akan menghakimi Anda.
  5. Tiap orang punya gayanya sendiri, temukan gaya Anda. Ada yang asik bermain dengan gradasi, selembar daun diisi dengan 3 warna, kuning, hijau dan biru muda. Tak ada salah dan benar, sesuka Anda saja.
  6. Buku mewarnai untuk segala umur berharga di kisaran Rp 100 ribu-Rp 250 ribu. Bila Anda tak yakin akan sungguh menyukai kegiatan ini, coba saja dulu print pola yang tersedia gratis di internet. Gunakan kata kunci “coloring for adults” dan pilih resolusi terbaik agar mendapatkan hasil maksimal.

 

 

 


Post Comment