Jangan Sembarangan Mencuci Pakaian Anak, Perhatikan 5 Kiat Ini

Mencuci pakaian si kecil butuh kiat khusus, tak lain untuk menjaga kebersihan kulitnya dan membuatnya nyaman menjalankan aktivitasnya

JanganSembaranganMencuciPakaianAnakPerhatikan5KiatIni

Saya cukup tegas untuk urusan kebersihan baju si kecil, selain karena kulitnya masih sensitif. Yang utama adalah untuk kenyamanannya sehari-hari. Misalnya untuk pakaian anak pertama saya – Jordy (15 bulan). Pakaian Jordy tidak akan disatukan dengan pakaian orang dewasa saat proses mencuci, selain itu, deterjen yang digunakan pun khusus untuk pakaian anak.

Sementara kebiasaan di atas masih saya lakoni, beberapa waktu yang lalu saya sempat berbincang dengan salah satu staf dari Jeeves mengenai hal ini. Dan benar saja, referensi kiat merawat pakaian anak saya pun semakin kaya. Ini dia beberapa cara yang saya tempuh untuk mendapatkan hasil cucian yang bersih dan higienis, ditambah trik yang diberikan oleh Jeeves. Semoga berguna ya, Mommies:

  • Pisahkan Pakaian Anak dan Dewasa

Seperti yang sudah saya singgung sedikit di atas, pastikan Mommies memisahkan antara pakaian si kecil dengan orang dewasa lainnya. Karena tentu saja tingkat kekotorannya akan berbeda jauh. Selain itu, pisahkan juga celana si kecil yang terkena kotoran karena buang air kecil atau besar – hindari mendiamkannya terlalu lama dalam wadah cucian kotor, segera bilas sisa kotoran tadi dengan air mengalir, setelah itu baru cuci seperti biasa.

  • Gunakan Air Hasil Filterisasi

Jika memungkinkan, gunakan air yang telah melewati proses filterisasi – tujuannya agar hasil mencuci lebih bersih. Air yang melalui proses ini akan terbebas dari berbagai jenis logam dan zat-zat lainnya yang berpotensi mengancam kesehatan kulit si kecil. selain itu, jangan lupa perhatikan suhu air saat membilas, usahakan tidak lebih dari 40°C, karena air pada suhu tesebut dapat mencegah munculnya jamur dan bakteri.

  • Hindari Menggunakan Deterjen Dalam Jumlah Berlebihan

“Nggak enak kalau nyuci, nggak banyak busanya!” pernah mendengar kalimat itu? Nah, mulai sekarang ubah pola pikir yang demikian ya, Mommies. Karena ternyata, penggunaan deterjen yang terlalu banyak akan meninggalkan sisa pada serat kain dan dapat berdampak tidak baik pada kulit si kecil yang sensitif. Selain itu, usahakan menggunakan deterjen khusus bayi atau anak, yang memang formulanya sudah disesuaikan dengan keadaan kulit si kecil.

  • Proses Pengeringan Harus Maksimal

Sudah tahu dong ya Mommies, kalau bakteri itu gemar berkembang biak di tempat yang lembap – inilah sebabnya mengapa proses pengeringan sangat penting. Jika terik matahari sedang tidak bersahabat, Mommies bisa menggunakan uap panas agar memastikan pakaian kering sempurna dan membunuh sisa bakteri.

  • Segera Cuci Pakaian Baru

Pakaian baru belum tentu bersih, bisa jadi pakaian-pakaian tesebut telah tertumpuk cukup lama di suatu tempat, sehingga meninggalkan cukup banyak debu maupun bakteri lainnya. Daripada mempertaruhkan kesehatan anak,  lebih baik dicuci terlebih dahulu kan, Mommies?

Di antara Mommies ada yang ingin menambahkan? :)

Oh iya, di sela-sela obrolan saya dengan salah satu staf ahli dari Jeeves – ternyata ada layanan mereka yang saya pikir akan sangat membantu para Mommies yang sibuk dengan 1001 macam urusan keluarga. Jeeves bisa menjemput dan mengantar pakaian atau material lainnya yang ingin Mommies bersihkan – yeay! Selain itu Jeeves juga bisa membersihkan karpet kesayangan Anda, loh Mommies. Salah satu yang menyediakan layanan tersebut adalah Valet Shops Jeeves yang berada di Selatan Jakarta – Hang Lekir. Bagimana, Mommies berminat?


3 Comments - Write a Comment

  1. Mbaaak Fia, bener bgt tu Mbak. Gw agak bawel kalau utk urusan ini – wajib hukumnya misahin baju anak sama dewasa. Secara kita juga lebih banyak beraktivitas di luar ruangan.

    Haiii “Telorceplok” :D iyaaa, deterjen banyak nggak menjamin pakaian jadi bersih. Selain itu jadi boros air kan ? Justru, saya pernah pakai deterjen yang menghasilkan busa lebih sedikit, justru hasil cucinya lebih bersih loooh…

Post Comment