Membeli Waktu

Ditulis oleh: Dona Kamal

Yes, saya membeli waktu agar bisa memiliki waktu ekstra bersama anak saya. Terdengar menyedihkan? Nggak terlalu kok.

Saya seorang ibu bekerja.  FYI nih ya, I do love my job. Terkadang bekerja menjadi salah satu bentuk pelarian saya dari urusan domestik di rumah. Dengan bekerja saya berkesempatan untuk menambah teman dan mengunjungi tempat-tempat yang rasanya nggak akan saya kunjungi kalau bukan karena urusan kantor. Selain itu, dengan bekerja dan memiliki penghasilan, I can buy anything I want for myself (walaupun pada kenyataannya saya jarang belanja dan kalaupun belanja, yah seperti ibu-ibu pada umumnya, harga menjadi salah satu pertimbangan. Makin murah makin menarik untuk dibeli, hahaha). Itu beberapa hal yang membuat saya bersyukur menjadi working mother.

B

*Gambar dari sini

That’s the fun point of being a working mother.

Sementara di balik hal-hal yang menyenangkan itu, ada beberapa hal yang membuat saya, seperti ibu-ibu bekerja pada umumnya, galau tak berkesudahan. Yes, dengan bekerja 8-5, 5 days a week, dan terkadang harus bekerja saat weekend, saya merasa telah kehilangan waktu yang seharusnya bisa saya habiskan dengan anak saya, Gendra, yang masih dalam rentang usia golden age.

Saya ingat sekali, dulu saat Gendra masih berusia di bawah 6 bulan dan masih sangat bergantung dengan ASI, setiap jam istirahat dan pulang kantor saya berjalan secepat mungkin, bahkan tak jarang berlari pulang ke rumah, karena semakin cepat saya tiba di rumah, semakin cepat Gendra mendapatkan ASI secara langsung (walaupun di rumah sudah disediakan ASIP tentunya).

Ketika Gendra sudah disapih saya pikir saya nggak akan “mengejar-ngejar” waktu lagi seperti dulu, tapi ternyata nggak juga. Memang sih saya tidak terlalu “ngebut” lagi, tapi tetap saja sebagai ibu saya merasa semakin cepat saya tiba di rumah, semakin banyak waktu yang bisa saya alokasikan untuk bermain dengan Gendra, for the sake of the thing called “bonding”.

di rumah saat jam istirahan kantor

Demi bonding pula hampir setiap minggu selama sebulan saya membeli tiket pesawat penerbangan paling pagi rute Lampung-Jakarta setiap Senin. Iya, jadi sempat selama hampir 2 bulan Gendra dibawa oleh ibu saya ke kampung halaman. Selama ini, karena selalu gagal mendapat pengasuh yang cocok, ibu sayalah yang merelakan diri hijrah dari Lampung ke Bandung untuk merawat cucu semata wayangnya. Karena kebetulan ada keperluan di Lampung, jadilah Gendra selama hampir 2 bulan ikut eyangnya hijrah ke Sumatera. Selama itu pula, setiap weekend saya pulang ke Lampung demi menengok Gendra. Berangkat Jumat malam jalan darat dengan bis, dan kembali ke Bandung Senin pagi dengan penerbangan pagi via Jakarta.

Kalau mau menekan biaya, saya seharusnya berangkat ke Bandung dengan bis hari Minggu malam. Tapi saya pikir, apalah artinya beberapa ratus ribu dibanding waktu satu malam lagi bersama Gendra. Jika beruntung, saya bisa pesan tiket pesawat jauh-jauh hari dan mendapat harga yang lebih murah. Tapi seringnya, karena jaga-jaga jika ada urusan kantor, saya pesan tiket pesawat H-5 sebelum keberangkatan. Tentu saja harga tiket menjadi lebih mahal, bahkan tak jarang harganya mencapai 2 kali lipat dibanding harga normal.

Ya, saya membeli waktu. Waktu ekstra satu malam bersama Gendra.

Terdengar ironis ya? Hahaha, tapi kenyataannya tidak sebegitu menyedihkannya kok. Saya berusaha menikmati segala proses yang saya alami sebagai seorang ibu bekerja. Bekerja memang bukan kewajiban saya. Kalau boleh memilih, saya tentu saja akan memilih seharian bermain bersama Gendra. Tapi kondisi yang saya hadapi belum memungkinkan untuk itu.

Saya bersyukur hingga detik ini, di tengah kejar-kejaran saya dengan waktu dan upaya-upaya yang saya lakukan untuk “membeli” waktu, Gendra masih tetap lengket dengan saya. Ia tetap memilih untuk tidur kelonan dengan saya daripada dengan orang lain. Terkadang ia juga masih “ngadat” kalau saya pamit untuk bekerja. I take that as a proof that I’m still his number one best friend. Saya juga yakin, Tuhan pasti mengerti jauh di lubuk hati saya, dan hati semua ibu di dunia, anak akan tetap menjadi prioritas nomor satu dalam hidup.

 


Post Comment