Anak Adalah “Alien” Cilik

Anak kecil memiliki ketakutan-ketakutan. Sebagai orangtua, penting bagi kita untuk jangan berharap si kecil tahu segalanya ketika mereka baru hadir di dunia.

Waktu saya masih kecil, saya digambarkan oleh orangtua sebagai anak kecil yang introvert berat. Nggak bakal keluar ‘bunyinya’ kalo nggak ditabuh. Ditabuh aja belum tentu keluar suaranya. Orangtua saya membesarkan introvert cilik ini dengan susah payah, mengajarinya berani bicara dan bisa berteman.

Saat tiba bersekolah di playgroup, Ibu berat sekali melepas saya karena khawatir saya tidak bisa bersosialisasi dengan baik. Pesannya pada guru saya waktu itu, “Titip anak saya ya, Bu. Anak ini kalau ada yang dia nggak suka, nggak akan bilang. Tahu-tahu air matanya keluar.”

Memang saya anaknya gitu sih waktu masih kecil. Nggak begitu ingat juga kenapa. Mungkin karena saya takut ngomong, mungkin juga karena saya nggak tahu gimana caranya ngomong tanpa mewek duluan. Mungkin karena saya merasa asing. Mungkin hati saya memang terlalu lembut waktu cilik, hahaha.

600full-martian-child-screenshot

*Gambar dari sini

Pertama kali melepas anak sekolah bisa jadi pengalaman yang dinanti banyak orangtua, termasuk saya. Tapi, saya juga punya teman yang biasa aja saat melepas anaknya pertama sekolah. “Paling juga nangis, tapi sebulan dua bulan malah nggak mau pulang,” gitu katanya. Betul. Kebetulan teman saya ini memang apa adanya aja, sih.

Namun, buat saya, hari pertama si kecil sekolah, bahkan beberapa bulan pertama dia sekolah, membikin saya deg-degan. Mungkin karena saya ingat hari-hari pertama saya di sekolah dulu.

Saya ingat hari pertama saya masuk SMP. Saya sendirian. Anak introvert yang kalo nggak ditabuh nggak ngomong ini harus berkenalan dengan 39 anak sebayanya. Tantangan besar. Mending saya nikmati ensiklopedia 17 volume daripada harus ngomong sama mereka. Perlu sekitar setahunsebelum akhirnya saya kenal mereka semua, itu juga nggak semuanya pernah saya ajak ngomong. Tahu nama doang. Bukan sombong, saya aja yang berasa grogi berat kalo kudu ngomong sama orang lain. Saya yang waktu itu umurnya sudah 13 tahun aja masih keder disuruh ‘terjun’ ke kelas baru, gimana anak saya yang baru 3 tahun dan belum kenal sekolah?

Beberapa tahun lalu, saya menonton film Martian Child. Ceritanya tentang seorang penulis yang mengadopsi anak istimewa bernama Dennis. Istimewanya, karena Dennis percaya bahwa dirinya adalah alien dari planet Mars. Jadilah Dennis, yang berumur 6 tahun, pergi ke mana-mana pakai kacamata item dan kardus karena takut mati akibat radiasi sinar matahari. Setelah menempuh berbagai cara untuk ‘meluruskan’ Dennis, si penulis ini akhirnya memilih menerima Dennis dengan segala keistimewaannya dan ‘mengajari’ si alien caranya jadi ‘manusia’.

martianchild4

*Gambar dari sini

Selesai menonton film itu, saya merasa kok Dennis memang sebenarnya mewakili semua anak kecil di dunia ini. Anak-anak kita ini kayak alien kecil yang baru mendarat di bumi dalam misi eksplorasi. Iya nggak, sih? Mereka nggak tahu gimana cara dunia ini bekerja. Mereka, awalnya, nggak tahu caranya ngomong. Mereka nggak tahu mana hal yang baik menurut lingkungan sosial. Mereka juga nggak tahu apa yang berbahaya buat mereka. Semuanya dicoba, dicabut, ditempel, dilempar, dibuang. Tapi dengan segala ketidaktahuannya itu, mereka juga penuh energi, penuh potensi, dan penuh rasa ingin tahu. Tinggal nunggu ketemu sama pembimbing yang bisa ‘ngajarin’ gimana cara seru jadi ‘manusia’

Tapi, selain segala keseruan di dunia yang baru ini, pasti ada juga banyak hal yang membuat cemas dan takut. Buat kita yang udah puluhan tahun hidup di dunia ini pasti ketakutan alien-alien cilik ini terasa sepele, seperti kecemasan mereka di hari pertama sekolah, yang sering berakhir dengan kita bilang, “Masa gitu aja nggak bisa/ngerti?”

Mungkin memang belum ngerti. Mungkin dia memang belum paham bedanya sengaja menuang teh ke gelas dengan ke lantai. Mungkin memang pergi ke kondangan yang ramai orang itu menakutkan. Mungkin memang dia nggak akan sadar kalo makan cokelat tapi nggak sikat gigi bakal bikin giginya bolong sampe dia mengalai sendiri. Mungkin dia memang nggak tau gimana caranya bicara sama anak sebayanya karena memang dia belum pernah punya teman sebaya.

Jadi orangtua itu pengalaman yang personal, menurut saya. Seperti halnya nggak ada anak yang sama persis, nggak ada pengalaman jadi orangtua yang plek ketiplek, baik situasi lingkungan maupun kondisi anaknya. Yang saya alami ini bisa jadi nggak dialami orangtua lain. Tapi,sepertinya, soal selalu ingat kalo anak-anak kita baru saja hadir di dunia itu penting buat setiap orangtua. Wajar jika dia takut, cemas, sedikit keras kepala, dan selalu ingin tahu. Yang nggak wajar adalah jika kita, sebagai pembimbingnya, berharap dia hadir ke dunia dalam keadaan sudah tahu segalanya.

 

Wicahyaning Putri adalah Ilustrator dan Editor di Keluarga Kita – yang semula bernama 24hourparenting.com – kini berubah menjadi keluargakita.com. Keluarga Kita adalah penyedia konten edukasi keluarga dan berharap bisa menjadi teman seperjalanan keluarga Indonesia. Ikuti updatenya di Twitter: @KeluargaKitaID, Instagram: @keluargakitaid dan Facebook: Keluargakitaid

 

 

 


2 Comments - Write a Comment

Post Comment