Motherhood Monday : Meilia Lustojoputro, Pahami Perasaan Anak Lewat Diary

“Please read my diary, look through my things and figure me out.” – Kurt Cobain

Siapa di antara Mommies yang sudah mengajarkan si kecil untuk menulis diary? Tanpa kita sadari, ketika si kecil sudah mampu mencurahkan isi harinya lewat tulisan, banyak manfaat yang bisa didapatkan. Hal inilah yang sudah dirasakan oleh Meilia Lustojoputro.

Ketika saya masih ABG, saya termasuk anak yang doyan nulis buku diary. Rasanya tiada hari tanpa curhat dengan si diary. Lagi kesel sama bu guru, lagi naksir-naksiran temen sekelas, lagi dongkol dengan kakak saya, semua perasaan saya tumpahkan lewat catatan harian. Entah kenapa, ketika bisa curahkan perasaan lewat goresan tinta, bisa membuat perasan saya lebih plong, lega.  Mugkin, dengan curhat lewat buku, saya nggak perlu takut mendengar ledekan dari teman-teman, ya?

Menulis buku harian atau diary memang identik dengan masa-masa remaja, saya sendiri merasakan banyak manfaat ketika bisa menulis diary. Paling nggak, stress saya bisa hilang. Rupanya, hal ini jugalah yang dirasakan Meilia Lustojoputro. Sejak remaja, perempuan yang berprofesi sebagai fashion desainer khusus gaun pesta dengan brand Meliaemmy mengaku sudah senang menulis. Hobi ini pun akhirnya ia tularkan pada ke dua anaknya, Adeleine Matthew (11 tahun) dan Aleesha Prashant (2,5 tahun).

S*foto : Febby Paramita

“Dari dulu saya memang senang nulis. Awalnya, menulis saya anggap sebagai salah satu bentuk  terapi. Menghilangkan rasa BT dan stress. Awalnya justru belajarnya nulis skenario, dari sana malah ketagihan. Akhirnya dari menulis malah bisa membuat satu novel yang terbit tahun 2006,” ungkapnya sambil tersenyum.

Sadar bahwa menulis memiliki banyak manfaat untuk tumbuh kembang anak, sejak dini ia pun sudah mengenalkan budaya menulis pada kedua anaknya. Bahkan perempuan yang kerap disapa Mei ini mengaku bahwa kini sudah terbiasa menulis diary. “Pada dasarnya ke dua anak saya ini memang sudah suka membaca. Dari anak-anak kecil saya membiasakan diri untuk menulis kegiatan sehari-hari saya di diary dan membuatkan gambar, jadi semacam cergam. Nah, anak saya ini paling senang kalau saya bacakan diari saya. Setiap malam pasti nagih dan bilang, ‘Ma,  ayo dong bacakan ceritanya. Dari sini akhirnya anak-anak juga membuat diary dengan gambar.”

Mendengar ceritanya ini jelas bikin saya takjub. Maklum saja, saat ini rasanya anak-anak ABG lebih familar memegang gadget ketimbang alat tulis. Padahal dengan menulis banyak sekali manfaat yang bisa dirasakan, khususnya untuk tumbuh kembang anak. Waktu itu, istri dari Prashant Lokhande ini juga mengungkapkan ia bisa memahami anaknya lewat tulisan yang dituangkan di diary.

“Saya percaya, dengan menulis, anak-anak tentu saja bisa lebih berekspresi dan menuangkan perasaannya. Kadang ada masalahnya yang mungkin ia malu untuk ungkapkan atau ceritakan langsung pada kita. Dengan menulis kita bisa membaca deep down perasaan anak kita seperti apa,” ungkapnya lagi.

Sejak kapan, anak-anak sudah bisa menulis diary?

Awalnya mungkin karena terbiasa melihat saya menulis, jadi anak pertama saya pun mulai ikut-ikutan nulis. Sejak bisa memegang alat tulis anak saya memang sudah senang corat coret, jadi mungkin terbiasa hingga sekarang ini.

Mengingat Mbak Mei adalah womenpreneur yang menjalankan dua bisnis dengan bidang yang berbeda, masih sempat mengajarkan anak menulis?

Sebenarnya justru saya merasa beruntung karena punya jam kerja yang cukup fleksibel, semua saya yang mengatur. Yang pasti, saya selalu mengusahakan selalu menjemput dan mengantar anak-anak. Sering kali anak-anak juga ikut ke workshop. Paling tidak, pagi hari saya harus meluangkan waktu satu jam untuk ngobrol dan main bersama anak-anak. Untuk yang anak yang paling besar, sih, sudah cukup mengerti kalau Mamanya sibuk.

Oh, ya, ceritain dong, Mbak, mengenai bisnis yang dijalankan saat ini…

Kalau untuk desain gaun memang bisa dibilang sudah profesi utama saya, dan sudah saya tekuni sejak dulu, yang saya mulai sejak tahun tahun 1995. Syukurnya bisnis yang saya jalankan ini masih bisa berjalan dengan baik sampai saat ini.

Mempertahankan sebuah bisnis itu kan nggak mudah, belum lagi mengingat persaingan juga semakin ketat, strategi apa yang Mbak lakukan untuk mempertahankan bisnis yang dijalankan?

Karena bisnis yang saya jalankan ini adalah bidang jasa, di mana saya membuat gaun sesuai keinginan klien, hal utama yang perlu saya jaga tentu saja kepercayaan mereka. Ketika kita mendapat kepercayaan dari klien untuk membuat gaun, ya harus diselesaikan tepat waktu, jangan sampai mengecewakan  pelanggan. Jangan sampai telat apalagi sampai membuat gaun tidak jadi digunakan. Selain itu tentu saja perlu konsiten dan komit dengan pekerjaan yang dilakukan.  Apa yang ingin dikerjakan harus dilakukan secara maksimal, jangan tanggung-tangung, jika tidak akan akan penyesalan di kemudian hari.

Setelah fokus mendesain baju dan membesarkan butik dengan brand ‘Meliaemmy’ kenapa tertarik mencoba bisnis di bidang kuliner?

Sebenarnya, konsep awalnya saya ingin membuat tempat hiburan untuk anak dan orangtua yang senang nge-dance bareng. Ya, istilahnya seperti tempat disko buat keluarga. Saya lihat memang  belum ada tempat hiburan keluarga seperti ini, ya? Sementara nggak mungkin saya mengajak anak-anak ke diskotek, hahaha. Sayangnya, saat mencari lokasi yang tepat sulit. Begitu dapat tempat di Kuningan City ini. Meskipun tempatnya bagus dan cukup strategis, tapi akhirnya karena satu lain hal malah jadi putar arah dengan membuat restoran yang konsepnya keluarga. Jadilah restoran Me and Mine ini yang konsepnya family entertainment.

Sebagai womenpreneur, tantangan apa saja, sih, yang Mbak rasakan?

Sebagai orangtua, kadang ada perasaan bersalah di mana kita suka merasa kehilangan waktu bermain dengan anak, atau menemani suami berkerja ke Singapura. Kebetulan saya dan suami memang menjalani hubungan long distance relationship.  Tapi, saya komit ke diri sendiri dan suami kalau saat akhir pekan adalah waktunya keluarga, jadi harus dimaksimalkan dengan baik.

Banyak yang bilang kalau menjalankan LDR itu kan nggak mudah, apa benar seperti itu?

Yang jelas, modalnya memang jadi lebih banyak, ya, hahahaha. Tapi setiap akhir pekan suami saya pulang ke Jakarta. Sebenarnya kunci hubungan LDR adalah komunikasi, selama komunikasi bisa berjalan dengan baik, buat kami tidak ada masalah. Lagi pula sekarang ini kan sudah banyak teknologi yang bisa digunakan.

Bagaimana anak-anak, apakah hubungan LDR ini ikut memengaruhi pola asuh atau tumbuh kembang anak-anak?

Hubungan LDR ini sudah saya jalani 4 tahun, syukurnya saya tidak melihat anak-anak kehilangan sosok Papanya. Setiap akhir pekan ketika Papanya ke Jakarta, mereka bisa memaksimalkan waktu dengan sangat baik. Paling saya yang akhirnya dicuekin anak-anak, hahahaha.

 


Post Comment