Dampak Bencana Asap dan Kita yang Tidak Boleh Tinggal Diam

Others

ketupatkartini・26 Sep 2015

detail-thumb

Mungkin saya atau Anda tidak tinggal di daerah yang terkena bencana asap. Tapi bukan berarti kita diam tanpa suara kan?

Sudah beberapa minggu ini kita disuguhi berita dan segala macam post dari media sosial tentang bencana asap yang melanda banyak daerah di Sumatra dan Kalimantan. 'Kita' disini merujuk pada kita semua yang tinggal bukan di daerah terdampak asap, kita yang tinggal mungkin di Jakarta, di pulau Jawa atau daerah lainnya. Sedangkan mereka yang tinggal di kota-kota dan kabupaten di propinsi Riau, Jambi, Sumsel, Sumut, Kalsel, Kalteng dan Kaltim hampir setiap hari harus hidup dan bertahan bersama asap.

Saya ingat bencana asap tahun ini mulai menghantui Sumatera sejak awal September, pada waktu itu beberapa penerbangan dari dan ke kota Jambi, Palembang mulai mengalami gangguan -termasuk pengalaman 'horor' seorang teman dari Jakarta ke Jambi yang terpaksa kembali lagi karena setelah tiba di atas udara Jambi, pada saat itu hutan di Jambi sedang mengalami kebakaran, sehingga pesawat tidak bisa mendarat.

Kemudian sejak saat itu di linimasa dan sosial media kita mulai bertebaran foto-foto yang memperlihatkan bagaimana kondisi kota Pekanbaru dan seluruh kabupaten di Riau, Jambi, Palembang, dan kota-kota di Kalimantan yang tertutup asap pekat, hingga jarak pandang sangat terbatas. Bagi kita yang jauh dari sana, mungkin tidak bisa membayangkan bagaimana harus hidup dengan asap setiap hari, menghirup udara yang tidak jernih.

Kemudian penanganan ala 'pemadam kebakaran' dari pemerintah dan elemen masyarakat juga kita saksikan. Bagi mereka yang tinggal dekat hutan yang terbakar, secara swadaya mereka berusaha memadamkan bara api di hutan gambut yang susah diprediksi lokasi titik apinya. Banyak personil dari satuan TNI, BNPB dan instansi lainnya dari luar daerah dikerahkan untuk membantu pemadaman, tetapi upaya tersebut tidak optimal karena alat berat yang tidak tersedia mencukupi. Di samping itu, sumber air pun langka, sehingga semua upaya tersebut, bila kita berkesempatan melihatnya secara langsung, terasa sporadis dan kerdil, bagaikan David yang kecil melawan raksasa api Goliath. Tetapi di sisi lain kita melihat pengorbanan mereka yang luar biasa, yang menyumbangkan tenaga untuk #melawanAsap secara langsung.

Hingga hampir mendekati akhir bulan September, kondisi beberapa kota tersebut masih belum terbebas dari asap. Seperti mengulang kisah tahun sebelumnya, asap asal Indonesia ini juga nyebrang ke Singapura dan Malaysia. Walaupun tidak seheboh dua tahun lalu -kalau saya tidak salah-, kali ini Singapura pun sempat merasakan asap hingga 200 PSI -index kualitas pencemaran udara-. (fyi, index normal adalah dibawah 100 PSI, sedangkan 200 sudah tergolong tidak sehat). Tapi tunggu, bandingkan hal ini dengan index PSI di Riau minggu lalu, yang mencapai 900 PSI! Bagaimana nasib anak-anak di sana?

Seorang teman di Kabupaten Tabalong, Kalsel melalui WA messenger menceritakan kondisinya di sana, hari demi hari. Sejak bencana asap ini terjadi mulai awal September, rasanya dia dan keluarga belum bisa benar-benar bernapas lega -literally-. Memang asap pekat tidak terjadi setiap hari, tetapi datang dan pergi. Pada beberapa hari tertentu, asap tersebut terasa sangat pekat, dan di beberapa hari lainnya asap tipis membayangi, dan jika hujan turun meskipun tipis, esok paginya udara bisa tampak cerah. Saat udara cerah ini, mereka rasanya sangat bersyukur, karena diberi kesempatan bernapas lega sejenak.

[caption id="attachment_56822" align="aligncenter" width="640"]tabalong Kondisi kota Tabalong pada 21 September 2015. Kiri bawah, Tugu Obor yang merupakan landmark kota Tabalong.[/caption]

Kondisi ini masih terus berlangsung, awal minggu ini saja puncak asap tebal terjadi, karena adanya kebakaran lahan baru di sekitar Tabalong, atau pada hari lain, ternyata asap kiriman dari Kalimantan Tengah yang sangat pekat disertai partikel abu yang menyesakkan. Saat ditanya bagaimana kabar kesehatan keluarga dan orang-orang di sekitarnya, batuk-batuk, mata pedih, tenggorokan kering, sering pusing, itu adalah kategori 'baik' bagi masyarakat Tabalong saat ini. Beraktivitas di dalam ataupun di luar rumah sama saja, karena asap tebal pun masuk ke rumah.

Di tengah pergulatan keluarga dengan asap, teman saya ini mempunyai keprihatinan yang sangat dalam, bagaimana bencana seluas ini, tetapi tidak ada tindakan atau kepedulian apapun dari pemerintah yang sampai kepada mereka. Ia sebagai tenaga kesehatan di Puskesmas, sangat prihatin banyak sekali warga yang masih sangat awam terhadap bencana ini, apa dampak asap bagi kesehatan, bagaimana sebaiknya tindakan yang harus dilakukan, atau apa yang seharusnya dihindari. Anak-anak tetap bermain di luar dengan atau tanpa masker, para orangtua juga no clue bagaimana meminimalisir dampak asap untuk kesehatan. Ibu hamil yang tiap hari harus menghirup udara plus asap.. Mereka seperti 'pasrah' bersahabat dengan asap.

Ia mencontohkan, kampanye Safe Steps against natural disaster oleh National Geographic yang sangat komunikatif. Seharusnya dengan bencana dengan rentang waktu lama seperti ini, pemerintah melakukan langkah-langkah proaktif untuk melindungi warganya. Bukan saja memadamkan kebakaran, tetapi melindungi, mendidik masyarakat banyak yang menjadi korban supaya dampak jangka panjang bisa diminimalisir. Ia juga menambahkan, seandainya ada panduan secara visual dalam bentuk poster, flyer, tentang what to know, what to do, dalam masa darurat asap ini.

Well, there's no point to blame and expect something from the Government eventually. This is where we thought, apabila bencana ini terjadi di Jakarta, atau Jawa, pasti akan lain ceritanya. So, daripada mengutuk dan berharap pada pemerintah, there must be something we can do. Bukan hanya meramaikan hashtag #melawanAsap di media sosial, menyebarkan foto-foto bencana asap yang masih belum berkurang.

Kami pun tidak bisa tinggal diam. Saat mencoba memahami masalah, dan apa yang bisa dibantu di sana, ternyata bukan sumbangan uang untuk membeli masker, atau air purifier yang menurutnya mendesak. Teman saya ini ingin agar masyarakat sekitarnya bisa memperoleh informasi yang benar tentang bahaya asap dan apa yang sebaiknya dilakukan. Agar orang-orang di sekitarnya lebih teredukasi, bahwa kabut asap ini bukan hal yang lumrah. Bahwa 'bersahabat' dengan asap bukan berarti melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasa, tetapi ada hal-hal yang harus diantisipasi, dan lain-lain.

Ternyata mencari materi edukasi bersifat infografis tentang asap tidak mudah. Tidak seperti bencana banjir, gempa bumi, angin topan dan kebakaran, yang bisa dengan mudah kita temui. Mungkin ini karena bencana asap belum dikategorikan sebagai bencana oleh pemerintah, sehingga belum ada SOP penanganannya. Padahal Singapura saja memiliki materi memadai yang bisa disebarluaskan untuk menghadapi kabut asap/haze ini. Akhirnya dengan beberapa materi yang bisa kami kumpulkan, poster/flyer sederhana bisa disusun, untuk kemudian dikirim ke Tabalong dan diperbanyak di sana. Dan semoga hal ini bisa bermanfaat -sedikit ataupun banyak- bagi warga masyarakat di Tabalong, untuk menghadapi kabut asap yang sudah berhari-hari mereka rasakan.

[caption id="attachment_56823" align="aligncenter" width="640"]tabalong2 Flyer yang sudah berhasil disusun dan sedang disempurnakan materinya[/caption]

 

[caption id="attachment_56824" align="aligncenter" width="572"]asap3 salah satu inspirasi utama penyusunan flyer, terimakasih IKA SMANPLUS Riau[/caption]

 

(Tulisan ini mungkin tidak bisa merepresentasikan secara akurat kondisi umum bencana asap yang terjadi di Indonesia, hanya sedikit gambaran dan cuplikan dari bencana yang masih terjadi hingga saat ini.)