Mitos dan Fakta Tentang Susu UHT

 Tidak hanya ASI, susu cair UHT pun ternyata juga punya mitos dan fakta yang perlu kita ketahui. Apa saja, ya?

milk_blue_bg

Meskipun sudah dewasa seperti sekarang ini, saya dan suami masih doyan minum susu cair UHT. Jadi, nggak heran, kalau kebiasaan ini menular pada anak kami, Bumi. Dari sekian banyaknya pilihan susu yang ada di pasaran, saya memang lebih sering membeli susu UHT. Alasannya, tentu saja nggak terlepas dari segi kepraktisannya. Lagipula, susu UHT ini kandungan nutrisinya nggak berbeda jauh dengan susu murni.

Ngomongin soal susu UHT, ternyata masih banyak mitos keliru yang beredar di masyarakat, lho. Apa saja? Ini 5 di antaranya.

Mitos : Susu UHT menggunakan pengawet.

Fakta : Duluuuuu… sebelum saya mendapatkan banyak informasi, pertanyaan ini pernah terlintas dalam benak. Susu UHT ini pakai pengawet, ya? Kok, susu UHT bisa tahan lebih lama. Misalnya jika dibandingkan dengan susu pasteurisasi. Kalau memang nggak pakai pengawet, kok, bisa bertahan sampai 8 hingga 10 bulan? Ternyata, susu UHT sama sekali nggak pakai pengawet. Hal ini tidak lepas dari cara pengemasan susu tersebut yang menggunakan teknologi aseptik kombinasi proses pemanasan (sterilisasi). Keyakinan ini kian bertambah setelah saya punya kesempatan mengunjungi pabrik UHT Ultra Jaya di Padalarang.

Mitos : Susu UHT harus masuk kulkas.

Fakta : Siapa yang setelah membeli susu UHT langsung disimpan di kulkas atau lemari pendingin? Ternyata, pandangan yang mengatakan kalau susu UHT harus disimpan di dalam kulkas sebenarnya keliru. Soalnya, kemasan UHT ini ini bersifat kedap sehingga mampu melindungi produk di dalamnya dari keungkinan terkontaminasi kuman dari luar. Termasuk melindungi produk dari pengaruh negatif dari cahaya, uap air dan oksigen dari udara sekitar, sehingga mampu mempertahankan produk tetap steril dan tahan lama. Namun, untuk kemasan yang besar, setelah susu UHT ini dibuka, memang harus disimpan di dalam  kulkas dengan ditutup rapat. Suhu kulkas pun sebaiknya 4C,  dengan begitu susu UHT pun masih bisa diminum 3 sampai 4 hari ke depan. Namun untuk UHT yang belum dibuka, produk bisa disimpan di suhu ruang.

Mitos : Balita tidak boleh minum susu UHT.

Fakta : Mommies tentu sudah paham kalau susu terbaik yang harus dicicipi oleh anak adalah ASI. Namun, seiring perkembangan usia, kebutuhan nutrisi anak tentu akan meningkat. Termasuk kebutuhan susu. Memang, nggak sedikit masyarakat yang memiliki cara pandang yang berbeda, menganggap kalau kebutuhan nutrisi sudah tercukupi dengan makanan sehari-hari. Pandangan ini memang nggak salah, kok, namun dr. Fiastuti Witjaksono MS.SpGk menegaskan kalau sebenarnya susu banyak memiliki manfaat. Baik untuk bayi yang baru lahir, dalam hal ini ASI,  termasuk untuk anak-anak, remaja bahkan dewasa.  Kenapa? Soalnya susu bermanfaat untuk menyempurnakan  gizi. Termasuk untuk mengganti sel-sel yang rusak, serta menjaga kepadatan dan pertumbuhan tulang. Dalam artikel ‘Apakah Anak Harus Minum Susu?’, juga ada penjelasan dari  dr. Yoga Devaera, SpA(K), dokter spesialis anak konsultan  Nutrisi dan Penyakit Metabolik yang praktik di RSCM mengenai susu UHT dan gizi untuk balita.

Mitos : Rasa susu UHT yang asam karena sudah basi.

Fakta : Ada beberapa pertimbangan yang harus kita perhatikan saat membeli susu UHT.  Selain wajib memperhatikan tanggal kadaluarsa yang tertera dalam kemasan, perhatikan juga kemasannya. Pilih kemasan dalam kondisi baik dan tidak penyok. Apabila kemasannya sudah nggak bagus, bisa membuka peluang untuk kemasukan cahaya ataupun bakteri dari luar. Kalau susu UHT sudah terkontaminasi oleh bakteri udara luar karena kemasannya mengalami kebocoran, tentu saja rasa ataupun kandungan dari susu akan berubah. Hal ini dikarenakan bakteri yang masuk dengan mudah merusak gula susunya dan menghasilkan rasa asam. Hal ini dapat terjadi karena susu Ultra tidak mengandung bahan pengawet yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri tersebut. Jadi, jika susunya sudah terasa asam, merupakan salah satu ciri kualitas susu yang rusak adalah rasanya yang asam.

Mitos : Minum susu UHT bisa menyebabkan diare.

Fakta : Siapa yang pernah punya pengalaman  setelah minum susu langsung mengalami diare? Salah satu teman saya ada yang cukup antipati dengan susu UHT,  ia menganggap susu UHT menyebabkan diare. Umh, menurut pandangan saya sebenarnya situasi seperti ini nggak bisa dipukul rata. Bahwa susu akan menyebabkan diare.  Kondisi diare ini bisa terjadi akibat reaksi intoleransi terhadap laktosa. Untuk itu, buat si kecil atau Mommies yang punya riwayat alergi, jika mengonsumsi susu yang mengandung laktosa sehingga menyebabkan diare, lebih baik pilih susu yang tak mengandung laktosa. Jadi, bukan salah susu UHT-nya, ya.

Kalau menurut Mommies ada mitos dan fakta lainnya nggak, sih? Boleh, dong, share ke kita. Oh, ya, kalau Mommies ingin diskusi mengenai susu UHT, juga bisa mampir ke forum kami, lho.

 


5 Comments - Write a Comment

Post Comment