Berhasil Menjadi Ibu Berkat Bayi Tabung

Ditulis oleh: Monik Wulandari

Yup, jika ada wanita yang diberi kemudahan untuk segera mendapatkan buah hati dan menjadi ibu, saya perlu perjuangan tersendiri untuk mencapainya.

Seperti cerita saya sebelumnya, bagaimana kehamilan saya sempat terhalang PCOS,  akhirnya di tahun kelima pernikahan kami, saya dan suami memutuskan untuk mengikuti program In Virto Fertilization (IVF) atau bayi tabung. Program yang cukup menguras biaya, tapi kami yakin, hasilnya akan sepadan.

Awal program IVF saya jalankan menjelang di akhir bulan Ramadhan tahun ini. Selama kurang lebih dua minggu, saya diberi obat suntikan yang berguna untuk merangsang sel telur untuk berkembang dan siap dibuahi. Dan karena rekam jejak saya yang pernah gagal ketika program inseminasi, maka dokter pun memberikan suntikan dengan dosis yang berbeda. Berbeda pula dari paket promo yang ditawarkan. Jadi, pupus sudah rencana menghemat. Tapi tak masalah, saya tetap optimis.

image (2)

Selama dua minggu tersebut, beberapa hari saya harus bolak-balik ke rumah sakit untuk tes darah mengetahui perkembangan hormon dan memeriksakan kondisi si sel telur tersebut. Setelah hari ke 12, akhirnya saya dikabari oleh suster bahwa Ovum Pick Up (OPU) akan dilakukan di hari ke 14. Excited dan gugup menjadi satu. Apalagi H-1 saja dengan sotoynya browsing alat yang akan digunakan untuk operasi, dan agak stress melihat bentuk alatnya (jadi, saya sarankan nggak usah browsing, ya).

Di hari H, saya datang pagi hari, sekitar jam sembilan. Sebelum masuk ruang operasi, seorang suster memasangkan jarum untuk infus obat bius saya nantinya. Ketika saya akan memasuki ruang operasi, suami pun diminta untuk ke ruang khusus untuk diambil spermanya. Di dalam ruang operasi lagu Ariana Grande pun terdengar riang, meski saya tidak ingat persisnya lagu yang mana. Saat dokter anastesi menyapa dan mengatakan bahwa sebentar lagi saya akan dibius total, saya pun membaca doa dalam hati, semoga semua lancar, semoga telur-telur saya banyak yang dapat ‘dipanen’.

Sekitar satu jam rupanya saya tertidur. Operasinya sendiri berjalan setengah jam, sisanya, saya tertidur pulas di ruang pemulihan. Saat seorang suster membangunkan dan memanggil nama saya, baru saya membuka mata. Suster memeriksa kondisi saya dan mengatakan bahwa sel telur yang berhasil diambil ada sebanyak 19 buah. Wah, katanya ini termasuk dalam kondisi bagus. Saya hanya berharap, ketika sel telur tersebut disatukan dengan sperma, hasilnya akan menjadi prima.

image

Setelah proses OPU, selanjutnya adalah proses Embryo Transfer (ET), dengan estimasi waktu tiga hari sesudahnya, tergantung perkembangan embrio nantinya. Pada hari ketiga, kami ke rumah sakit untuk bertemu dengan embryologist. Dalam sebuah ruangan terdapat layar komputer besar, yang menampilkan foto-foto dari embrio kami. Di hari ketiga tersebut, terdapat 14 embrio yang terbentuk dari hasil penggabungan sejak hari pertama. Kami sangat senang mendengarnya, dan ingin buru-buru melakukan ET. Tetapi sang embryologist menyarankan untuk melakukan ET di hari kelima, ketika embrio tersebut mencapai tahap blastocyst, kurang lebih dari yang kami tangkap adalah kondisi embrio sudah membentuk lapisan sel luar, sehingga daya tahannya lebih kuat.

 image (1)

Akhirnya hari kelima tiba juga. Meski menggunakan ruangan yang sama ketika OPU, kali ini saya tidak dibius sama sekali. Suami pun boleh menemani di dalam ruangan. Prosesnya cukup cepat, hanya sekitar 15 menit, dan tidak menyakitkan. Tapi yang cukup menyiksa, karena kantung kemih harus penuh agar rahim terlihat jelas ketika USG. Terbayang, dong, ketika alat USG menekan bagian rahim? Duh, kebelet pipis sekaliii. Setelah proses selesai, dua embrio telah dimasukkan ke dalam rahim, dokter mengucapkan semoga sukses, dan saya ingin segera berlari ke kamar kecil. Betapa terkejutnya para suster, ketika mendapati saya telah turun dari tempat tidur pemeriksaan. “Ibu! Jangan turun dulu sampai 30 menit.”, ucap salah satu suster sambil membawakan saya pispot. Saya dan suami sampai menyesal karena sudah sok tahu.

Masa penantian kami dimulai. Selama dua minggu, saya diwajibkan bersantai-santai, makan sehat dan tidak stress. Terdengar mudah bukan? Untungnya, sebagai freelancer, saya bisa mengatur ritme kerja, dan sudah mengosongkan jadwal sejak sebulan sebelum program ini dimulai. Tapi kenyataannya saya sudah bosan berdiam diri tiga hari di tempat tidur. Tapi paling tidak, ibu saya menginap untuk menemani dan memasak makanan kesukaan, yang pasti juga sehat. Oh iya, dalam keadaan ini, saya membatasi diri dengan siapa saya berbicara dan tidak browsing mengenai tanda-tanda kehamilan, misalnya. Ini penting dilakukan, karena apa yang orang katakan atau Anda baca, bisa saja mengganggu mood dan memengaruhi hormon. Satu saja komentar negatif, tentunya akan memberi dampak yang tak menyenangkan.

Hari-hari selanjutnya saya jalani dengan perut yang terasa kembung dan kencang di bagian ulu hati. Saya sempat khawatir jika saya terkena Ovarian Hyperstimulation Syndrome (OHSS), seperti yang teman saya alami pada proses kehamilannya. Tapi ada cara mudah mengatasinya, yaitu dengan memakan minimal lima buah putih telur ayam kampong setiap pagi. Yup! Not fun at all, y’all!

Oke, ujung penantian hampir tiba. Tak dapat dipungkiri, saya menebak-nebak, apakah saya berhasil hamil atau tidak. Rasanya tidak ada yang berubah dari tubuh saya. Saya ingat-ingat apa yang pernah saya baca dulu. Kok, payudara saya tidak membesar? Perut saya tidak sakit, dan bahkan perut kembungnya pun hilang. Jangan-jangan, embrio-embrio tersebut tidak berkembang. Jangan-jangan, gara-gara saya sempat jalan-jalan ke mall untuk makan malam, embrio tersebut gagal menempel pada rahim? Pokoknya, segala pikiran buruk membuat saya khawatir dan mellow. Ujung-ujungnya, saya menjadi ketus pada suami.

H-2 tes kehamilan, saya terbangun tengah malam sambil menangis sesenggukan. Suami tentu saja terkejut. Ia terbangun dari tidur dan menanyakan keadaan saya. Sambil terus menangis, saya mengatakan bahwa sepertinya saya tidak hamil. Tak ada tanda-tanda kehamilan yang saya rasakan. Tubuh saya justru seperti kembali seperti sebelum menjalani semua proses ini. Suami dengan sabarnya mengatakan bahwa hasilnya tidak menjadi masalah dan kami dapat mencoba kembali dengan sisa embrio yang telah dibekukan.

Hari penentuan tiba juga! Pagi-pagi, saya dan ibu sudah pergi ke laboratorium untuk tes kehamilan, yang terdiri dari tes darah dan urin. Hasilnya sendiri baru akan diantar pada sore hari yang sama. Saya sudah merasa pasrah, tak ada rasa deg-degan atau gelisah. Justru agak yakin kalau hasilnya mengecewakan. Maka ketika seorang kurir datang untuk mengantarkan hasilnya, saya menyerahkannya pada suami untuk dibuka. Dengan muka sok cool, suami berjalan ke teras depan rumah sambil membuka amplop tersebut. Ibu saya hanya menatapnya sambil harap-harap cemas dan saya melanjutkan nonton tv.

Betapa terkejutnya kami waktu suami masuk sambil berkata,”Eh, ini tulisannya positif, lho.” Ha? Rasanya saya tidak percaya! Ibu saya langsung memberi selamat. Yang saya lakukan? Menelepon ke laboratorium tersebut sambil bertanya,”Mbak, ini kalau tulisannya positif, artinya saya hamil ya?” Lalu sumringah begitu mendengar jawaban ‘iya’ di seberang telepon. Baru saya percaya dan hampir melonjak gembira.

20150909_112452

Lewat dua minggu lagi setelah hasil tes tersebut, waktunya USG untuk pertama kalinya, untuk mengetahui, berapa jumlah janin yang berkembang. Kali ini dengan perasaan berdebar, mata kami tertuju pada layar yang memperlihatkan isi rahim. Sebuah bulatan hitam dengan ujung yang berdetak dinyatakan sebagai jantung calon bayi kami! Meski hanya satu, bahagianya luar biasa melihat keajaiban itu nyata. Anugerah yang telah kami tunggu selama lima tahun.

Tak hentinya kami beryukur dan berterima kasih, juga atas doa dan dukungan tanpa henti dari orang-orang terdekat kami. Semoga keajaiban yang kami dapatkan juga menyemangati para calon orang tua di mana saja, untuk tetap semangat mencoba, berdoa dan berusaha untuk mendapatkan buah hati!