“A to Z” Tentang Hepatitis

Ditulis oleh: Nayu Novita

Reputasi penyakit hepatitis sebagai “silent killer” sudah kondang di mana-mana. Tahukah Anda apa yang menjadi penyebabnya?

Belum lama ini saya mengajak si kakak sowan ke dokter untuk mengobati radang tenggorokan yang dideritanya. Sambil menunggu giliran dipanggil, saya pun membaca sejumlah selebaran yang tersedia di ruang tunggu poliklinik. Salah satunya adalah tentang Pekan Peduli Hepatitis B yang berlangsung antara 4 – 12 September kemarin.

Yakin deh, sama seperti saya, mommies pasti pernah mendengar tentang penyakit hepatitis—yang punya julukan seram “silent killer”, kan? Tapi, terus terang, saya belum paham betul tentang seluk-beluk penyakit hepatitis, apalagi untuk bisa membedakan jenis penyakit hepatitis A, B, C, D, dan E. Biar semuanya “terang-benderang”, yuk kita simak penjelasan dari Prof. DR.dr. Nurul Akbar, SpPD-KGEH, Spesialis Penyakit Dalam dan Konsultan Gastro Entero Hepatologi dari RS Metropolitan Medical Center, Jakarta.

Hand writing Hepatitis with blue marker on transparent wipe board.

*Gambar dari sini

Apa itu Hepatitis?

Penyakit hepatitis adalah peradangan yang terjadi pada organ hati atau liver kita. Di dalam tubuh, hati memiliki banyak fungsi yang amat vital, antara lain untuk menetralisir racun, mengatur sirkulasi hormon, dan membantu pencernaan lemak. Secara otomatis, gangguan pada organ hati akan mengakibatkan terganggunya pula berbagai fungsi penting yang disebutkan tadi.

Apa yang bisa memicu terjadinya peradangan pada hati? Selain bisa karena konsumsi jamu dan obat-obatan tertentu, konsumsi alkohol berlebihan, dan gangguan autoimun, penyebab paling umum yang bisa memicu penyakit hepatitis adalah akibat infeksi virus hepatitis jenis A, B, C, D, dan E. Sesuai nama jenis virus penyebabnya, maka penyakit hepatitis juga digolongkan menjadi penyakit hepatitis A, B, C, D, dan E. Ciri-ciri setiap jenis penyakitnya bisa dibedakan sebagai berikut:

  1. Hepatitis A

Meski gejalanya sepertinya tampak berat, hepatitis A adalah satu-satunya jenis penyakit hepatitis yang bisa disembuhkan secara total. Orang yang terinfeksi virus hepatitis A (HAV) biasanya akan menderita sakit selama 1-2 minggu dengan gejala demam, lemah, lesu, nafsu makan menurun, nyeri perut, dan sejumlah bagian tubuh (mata dan kulit) tampak berwarna kuning. Virus hepatitis A bisa menular melalui makanan dan minuman yang tercemar virus. Karenanya, kebersihan tubuh dan lingkungan amat berperan penting dalam upaya pencegahan jenis penyakit ini.

  1. Hepatitis B

Hepatitis B adalah jenis penyakit hati yang berbahaya dan bisa berakibat fatal. Sekitar 10% penderita hepatitis B berisiko mengalami kondisi sirosis (pengerasan) hati. Virus Hepatitis B (HBV) menular melalui darah, misalnya akibat pemakaian jarum (jarum suntik, jarum pada alat pembuat tato, dan jarum untuk proses body piercing) yang tidak steril, hubungan seksual, serta bisa menular dari ibu hamil kepada bayinya. Selain berbahaya, penyakit hepatitis B juga seringkali muncul tanpa gejala (makanya disebut sebagai silent killer!). Kalaupun ada gejala, pasien biasanya akan mengalami keluhan serupa dengan penderita hepatitis A.

  1. Hepatitis C

Sama seperti hepatitis B, virus hepatitis C (HCV) bisa menular melalui darah dan seringkali muncul tanpa gejala. Sekitar 20% penyakit hepatitis C berisiko berkembang menjadi sirosis hati. Mayoritas kasus hepatitis C (sekitar 70-80%) juga akan berkembang menjadi penyakit hati yang kronis. Artinya, penderita akan memiliki virus HCV yang terus menetap di dalam tubuhnya sehingga pada akhirnya bisa mengganggu fungsi hati.

  1. Hepatitis D

Virus hepatitis D atau yang disebut juga dengan virus delta adalah virus cacat yang hanya bisa berkembang biak dengan bantuan virus hepatitis B. Itu sebabnya, hepatitis D hanya ditemukan pada orang yang terinfeksi hepatitis B. Virus hepatitis D (HDV) paling jarang ditemukan tetapi merupakan jenis yang paling berbahaya dari semua virus hepatitis. Virus hepatitis D menular melalui darah seperti juga virus HBV dan HCV. Infeksi hepatitis D bisa terjadi secara bersamaan atau setelah seseorang terserang penyakit hepatitis B kronis.

  1. Hepatitis E

Cara penyebaran virus hepatitis E (HEV) mirip dengan virus hepatitis A, yaitu menular melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi virus HEV. Virus hepatitis E bisa mengakibatkan penyakit hati yang akut dengan gejala menyerupai hepatitis A, namun mayoritas tidak mengakibatkan infeksi kronis. Dengan penanganan yang tepat, penyakit hepatitis E dapat disembuhkan tanpa menimbulkan penyakit jangka panjang.Hepatitis E lebih berbahaya bila dialami ibu hamil trimester terakhir.

Ini Cara Mencegahnya!

getty_rf_photo_of_vaccination

*Gambar dari sini

Meski ancaman penyakit hepatitis bisa menimbulkan akibat yang fatal, namun tetap ada yang bisa kita lakukan untuk meminimalkan risiko munculnya penyakit. Virus HAV dan HBV bisa dicegah dengan cara melakukan vaksinasi hepatitis A dan hepatitis B. Hanya saja, berhubung hingga kini belum tersedia vaksinasi yang bisa melindungi kita dari infeksi virus HCV, HDV, dan HEV, maka langkah pencegahan berikut ini amat penting dilakukan pula:

– Memelihara kebersihan diri dan lingkungan dengan cara rajin mencuci tangan dan hanya menyantap makanan serta minuman yang terjamin kebersihannya.

– Menghindari pemakaian alat kedokteran dan jarum suntik (untuk keperluan medis maupun estetika) yang tidak steril.

– Menghindari melakukan hubungan seks dengan pasangan yang berbeda-beda.

Dengan melakukan langkah pencegahan tersebut, kita pun bisa membentengi tubuh dari serangan virus hepatitis yang berbahaya. Setuju nggak, mom?

 


Post Comment