Menyusui Bayi Sakit, Mungkinkah? (Part 2)

Di artikel saya yang lalu, sudah sempat dibahas menyusui bayi dalam keadaan tertentu (masuk NICU, terlahir prematur dan terlahir dengan kondisi bibir sumbing). Sekarang mari kita ulas dua masalah lainnya – menyusui bayi tounge tie dan yang harus mendapatkan fisioterapi.

MenyusuiBayiSakitMungkinkahPart2

Gambar dari sini

Kegiatan menyusui selama 6 bulan untuk mendapatkan ASI ekslusif sudah perjuangan tersendiri, misalnya untuk ibu bekerja  yang ingin ASI-nya tetap lancar. Apalagi jika harus menyusui bayi sakit, atau yang mengidap kasus tertentu. dr. Marini Sartika Dewi, MsiMed, SpA, Dokter Spesialis Anak dan Konselor Laktasi dan MPASI dari Brawijaya Women & Children Hospital, mencoba memberikan penjelasan dan solusinya kepada kita semua.

Tongue tie

Sebetulnya secara teori, kasus tongue tie hanya 12% dari angka kelahiran normal. Tapi pada kenyataannya dr. Marini pernah mendapati 4 kasus tongue tie dari 10 kelahiran.

Tipe-tipe Tongue Tie

Tipe satu              : frenulum (tali lidah) terikat sampai 2 ml dari ujung lidah.

Tipe dua               : frenulum  terikat sekitar 2- 4ml dari ujung lidah

Tipe tiga               : frenulum  terikat sekitar 4-6ml dari ujung lidah

Tipe empat         : frenulum terikat dipangkal lidah. Walau tipe yang paling akhir, tidak bisa dianggap paling aman. Karena posisi ini memang masih melekat, tapi dia tidak berselaput. Jadi semacam penebalan di bagian tersebut dan lidah jadi tidak bisa menjulur. Tipe empat ini agak usah penanganannya, dan biasanya diserahkan ke dokter bedah.

Efek Tongue Tie

  • Tipe satu & dua ini pasti akan mengganggu proses laktasi, artinya berpotensi kesulitan pada proses pelekatan ketika menyusui. Karena lidah itu tujuannya untuk memerah bagian bawah, jadi dalam kegiatan menyusui semua bagian di dalam mulut bekerja – ada bibir, gusi, lidah. Nah, ketika bayi itu mengalami tongue tie ada kemungkinan tidak bisa menjangkau daerah aerola, dan akhirnya hanya sampai di pangkal puting saja. Kondisi ini menyebabkan puting si ibu lecet.
  • Asupan ASI yang bisa dikonsumsi bayi sedikit karena bayi tidak bisa menjangkau bagian aerola untuk memerah ASI dengan maksimal – dalam kasus ini bayi hanya mengandalkan sedotan tapi tidak memerah. Sementara bayi harus memerah dan menyedot untuk mendapatkan ASI yang maksimal. Akibatnya jika ASI yang keluar terus menerus sedikit bayi akan rewel, melaparan, dan berat badannya akan sulit naik bahkan menurun drastis.
  • Dampak ke depannya, jika TT didiamkan tidak bisa melakukan proses mengunyah dengan baik, akibatnya akan sering muntah. Yang kedua lidah tidak bisa melakukan gerakan membersihkan gigi (oraligin), akibatnya terjadi karies. Dan yang terakhir akan cadel.

Tanda Bayi Mengidap Tongue Tie

Saat menyusui ada bunyi-bunyi khas yang keluar dari mulut bayi akibat pelekatan yang tidak sempurna, terus dia rewel nangis, nemplok nanti lepas lagi. Lalu tanda lain yang khas adalah, biasanya BB bayi di tujuh hari pertama akan mengalami penurunan yang drastis.

Masuk inkubator untuk disinar (fototerapi)

Saat Jordy lahir awal July tahun 2013 lalu, ia sempat harus masuk inkubator untuk disinar. Untungnya saya masih bisa menyusui Jordy secara langsung. Jadi Jordy tak sampai 24 jam berada di inkubator.

Menurut dr. Marini sebenarnya bayi kuning itu normal, “Hampir semua bayi akan mengalami kuning setelah hari kedua dan akan menghilang setelah dua minggu. Hanya saja ada batas toleransi 12. Biasanya kuning di awal-awal itu karena ASI yang belum keluar, itu disebut breastfeeding jaudince. Jadi kalau ASI-nya sudah banyak, bilirubin akan turun dengan sendirinya. Obatnya hanya ASI, yang dapat menurunkan bilirubin melalui pembuangan pup yang berwarna kehitaman.” Begitu keterangan yang saya dapat dari dr. Marini.

Hal yang Harus Dipatuhi

Usahakan menyusui langsung bayi, datangi ke ruangan fototerapi  – 1 atau 2 jam. “Karena selama ini masih ada yang salah kaprah, menganggap fototerapi  tidak boleh diganggu gugat, sehingga ASI si ibu diperah dan si bayi diberikan ASI melalui media lain – padahal tidak begitu.” Jelas dr. Marini.


Post Comment