6 Cara Si Kecil Lepas dari Stroller

Ditulis oleh: Nayu Novita

Stroller memang membuat acara jalan-jalan menjadi lebih praktis. Tapi, kalau memang sudah waktunya, si kecil wajib “disapih” dari stroller, agar ia tak lagi menjadi bayi besar dalam stroller.

Sebagai mommy yang pernah punya anak kecil (sekarang anaknya sudah besar-besar), saya maklum dengan kerepotan yang dihadapi para mommies ketika mengajak si kecil jalan-jalan. Mulai dari menyiapkan baju ganti, bekal makanan, sampai stroller, semua tak ada yang boleh ketinggalan! Stroller jelas penting, karena rasanya memang repot kalau harus menjinjing tas berisi “perlengkapan perang” sambil menggendong si kecil!

Tapi, jujur saja nih, saya sering lho berpapasan dengan rombongan keluarga yang masih saja memakai stroller untuk digunakan anaknya yang sudah besar! Fenomena “bayi besar” di dalam stroller ini bahkan pernah jadi bahan becandaan di blog bernama toobigforstroller.com, lho! Meski banyak orang menanggapinya sebagai banyolan ringan, namun para dokter anak sedunia menyikapi fenomena ini secara lebih serius.

ht_laura_miller_nt_110513_wmain

*Gambar dari sini

Salah satunya adalah para dokter di American Academy of Pediatrics. Menurut mereka, anak sudah perlu “disapih” dari stroller ketika umurnya menginjak 3 tahun. Soalnya, pemakaian stroller yang terlalu lama berisiko membuat anak malas bergerak! Ujung-ujungnya, kemampuan motorik kurang terasah dan anak berisiko terkena obesitas! Nah makanya, biar nggak kejadian, yuk lepaskan ketergantungan pada stroller dengan mencoba cara berikut ini:

  1. Rute jarak dekat

Kalau kita sanggup berjalan keliling mall dari lantai terbawah hingga paling atas tanpa merasa lelah, si kecil sudah tentu tidak sekuat itu. Biar dia nggak ngambek karena kecapekan (dan ujung-ujungnya minta gendong deh!), lebih baik pecahlah rute perjalanan yang panjang menjadi rute jarak dekat dan berhentilah untuk beristirahat di sela-selanya.

  1. Manfaatkan rest area & playground

Di banyak mall dan tempat rekreasi, tak sulit menemukan deretan kursi yang bisa digunakan untuk beristirahat. Banyak pula terdapat rest area merangkap playground yang dilengkapi sarana bermain seperti perosotan, ayunan, dan lain-lain. Sebelum mulai bertualang, ketahui lokasi tempat-tempat istirahat ini (bisa ditanyakan pada petugas resepsionis atau keamanan) supaya Anda tak bingung lagi mencarinya.

  1. Sepatu berbunyi!

Sepatu atau sandal baru bergambar tokoh kartun favorit seringkali bisa menjadi “sogokan” ampuh untuk menyemangati si kecil agar senang berjalan kaki. Kalau sekadar gambar belum bisa membuatnya tertarik, Anda bisa membeli alas kaki yang bisa menyala atau mengeluarkan suara ketika diinjak. Dijamin, si kecil akan kian bersemangat diajak “mengukur jalan”.

  1. Alas kaki yang nyaman

Bukan hanya keren, pastikan juga alas kaki yang dikenakan si kecil terasa nyaman di kakinya. Alas kaki yang kaku dan memiliki lapisan sol yang keras bisa membuat anak cepat lelah kala berjalan dan juga berisiko menimbulkan cedera pada kaki. Makanya, boleh juga kok menginvestasikan dana lebih untuk membeli alas kaki dengan merk yang sudah terkenal kualitasnya. Psst.. Anda bisa berburu sepatu dengan harga miring pada saat acara sale digelar!

  1. Pilih waktu yang tepat

Hindari mengajak anak berjalan-jalan di saat ia lapar atau ketika mendekati waktu tidurnya. Alih-alih berjalan dengan langkah tegap bersemangat, ia justru akan rewel dan lebih cepat merasa lelah. Waktu terbaik adalah di pagi hari setelah anak menyantap sarapan atau sore hari setelah ia menikmati tidur siang.

  1. Perbanyak olahraga

Practice makes perfect! Kalau si kecil terbiasa diajak melakukan aktivitas fisik, maka ia tak akan merasa berat untuk sekadar berjalan kaki. Aktivitas seperti berenang, memanjat monkey bar, bermain bola, dan sebagainya, amat baik dilakukan untuk melatih stamina dan kekuatan otot tubuhnya, sehingga anak tak gampang lelah kala diajak berjalan kaki.

 


Post Comment