Ibu-Ibu Tidak Becus Berkendara, Benarkah?

Kemampuan perempuan mengemudi (apapun itu, baik motor atau mobil) sering dianggap tidak sebaik pegemudi laki-laki. Yuk, hilangkan anggapan semacam ini dan lakukan safety riding.

Pernah nemu meme atau joke tentang ibu-ibu pengendara motor? Saya beberapa kali menemukannya, dan kadang juga mendengar sendiri dari grup-grup pertemanan online. Meme semacam “Ada 2 penguasa jalanan; 1. orang lagi touring, 2. emak-emak naik motor. Ada emak-emak lagi touring? Kelar idup Lo“. Atau “Ya Tuhan jauhkanlah hamba dari ibu-ibu naik motor yang ngasih sen kanan tapi beloknya ke kiri“. ;)

ibu

*Gambar dari sini

Ada beberapa joke lagi, yang memang bikin senyum, tapi di balik itu ada rasa prihatin di sini. Stereotype bahwa ibu-ibu adalah pengendara yang buruk, bukan hanya bagi mereka yang mengendarai motor. Saya sendiri merasakan beberapa kali, sedang bersama sopir taksi, atau pengendara laki-laki yang sering berkomentar ‘miring’, misalnya melihat mobil yang sedang ‘agak’ kesulitan parkir, mereka berucap “pasti ibu-ibu deh ini”, atau di kesempatan lain, saat mobil di depannya berjalan lambat dan terlihat ragu-ragu, mereka juga pasti akan langsung komen “pasti ibu-ibu ni di depan”

Saya merasakan kekesalan mereka, kaum laki-laki ini melihat banyaknya ketidakbecusan -beberapa- ibu-ibu di jalan raya. Bila kemudian menyebar dalam bentuk joke-joke semacam ini, bisa jadi ini merupakan pelampiasan mereka yang tidak bisa atau malas bersinggungan dengan ibu-ibu. Beda apabila yang mereka hadapi juga laki-laki, biasanya mereka bisa langsung melampiaskan emosinya dengan memaki atau berteriak.

But then, yang lebih mendasar dari fenomena ini, benarkah banyak dari ibu-ibu yang tidak becus berkendara di jalan raya?

Saya juga seorang pengendara aktif di jalan raya yang sehari-hari bermobilitas mengendarai baik mobil maupun sepeda motor. Sebagai pengendara aktif selama 15 tahun (saya memperoleh SIM pada usia 17 tahun dan langsung berkendara aktif sehari-hari), saya merasakan perbedaan yang nyata antara 10 tahun yang lalu, dan kini, terutama di Jakarta. Dulu, pengendara sepeda motor sangat jarang terlihat di jalanan. Bahkan saya pernah masuk ke sebuah bengkel motor, dan semua mata langsung memandang heran. Tetapi kini, pengendara motor wanita sudah sama banyaknya dengan laki-laki.

Selain harga sepeda motor yang makin terjangkau, banyaknya ibu-ibu yang mengendarai sepeda motor juga karena alasan kepraktisan. Banyak aktivitas sehari-hari yang bisa dijalankan oleh ibu rumah tangga mulai dari belanja ke pasar dan mengantar anak ke sekolah. Nah, yang sering menjadi masalah, biasanya adalah ibu-ibu pengendara motor jarak dekat ini. Mulai dari tidak pakai helm -karena merasa bukan di jalan besar-, berkendara di tengah -tidak di sebelah kiri jalan-, dan -yang paling sering dikeluhkan- tidak memasang lampu sen untuk berbelok.

Perilaku berkendara seperti tersebut di atas memang membahayakan. Sama bahayanya dengan anak-anak di bawah umur yang menggunakan kendaraan di jalan umum. Banyaknya keluhan dalam bentuk viral tersebut bisa menjadi introspeksi bagi kita, apakah kita sudah berkendara dengan baik dan benar. Mengendarai sepeda motor di jalan depan kompleks hingga jalan kecamatan, seharusnya sudah memenuhi peraturan lalu lintas sebagaimana di jalan raya yang lebih besar. Walaupun mungkin jaraknya pendek, tetapi kita tetap berbagi jalan raya dengan ribuan pengendara lainnya, apalagi sekarang kondisi jalan raya yang rasanya tidak pernah sepi.

Memiliki SIM adalah wajib, walaupun mobilitas kita mungkin hanya sebatas berbelanja ke pasar, mengantar anak sekolah, mengantar katering atau kue, yang tidak lebih dari 10 kilometer. Mendapatkan SIM juga dengan prosedur yang benar, karena kita harus melalui ujian praktik dan pengetahuan berlalu lintas. Tetapi tidak cukup itu saja, berkendara di jalan umum -sekali lagi, walaupun bukan di jalan besar- membutuhkan skill dan insting yang baik, serta empati terhadap pengguna jalan lainnya. Tahu kapan harus belok, apa saja yang harus diperhatikan sebelum belok atau berhenti, mengetahui posisi atau jalur yang tepat, dan etika berkendara lainnya.

Jika kita merasa sudah menjadi pengendara yang baik, lihat juga di sekitar kita. Apakah di rumah ada saudara atau ART kita yang sering berkendara dengan motor, pastikan mereka mengetahui etika berkendara ini. Dalam event-event arisan, jadikan topik ini sebagai pembahasan, supaya semakin banyak ibu-ibu yang paham tentang hal ini. Banyak sumber-sumber online yang bisa kita pelajari, misalnya video tips berkendara aman dengan sepeda motor ini.

So, karena kita juga ibu-ibu, mari kita usahakan agar stereotype di atas tidak berlanjut ya.


7 Comments - Write a Comment

  1. suka liat jg ibu2 yg begitu..cmn mklum aja dengan segitu banyak yg dikerjakan wanita baik di rumah , ngurus anak , masak anter n jemput sekolah belum ke pasar khususny ibu2 yg mngerjakan sendiri , jdi seakan2 mereka berkendara pun dgn tidak hati2 krna bnyak di pikiran mereka yg msti di kerjakan ..tp bgaimanapun jg tetap harus konsentrasi klo di jalan dgn bgitu bnyak bahaya n resiko

Post Comment