NgASI Eksklusif Bisa Cegah Kehamilan?

Memberikan ASI eksklusif pada si kecil dipercaya bisa menjadi alat kontrasepsi alami dan mencegah kehamilan. Benarkah?

Black Family - mother nursing

Soal ASI adalah nutrisi terbaik untuk anak itu sudah rahasia umum. Nggak usah dibahas lagi. Namun bagaimana dengan manfaat ngASI yang konon katanya bisa menjadi alat kontrasepsi alami? Apakah benar seperti itu? Dengan menyusui secara eksklusif akan menjamin kita nggak hamil lagi? Terus terang saja, saya penasaran soal yang satu ini.

Bukannya apa-apa, soalnya salah satu teman saya ada yang merasa kebobolan. Gimana nggak, 5 bulan setelah melahirkan anak pertamanya, ia kemudian mendapati dirinya sudah hamil lagi. Rupanya, teman saya ini dengan PD-nya memilih tidak menggunakan kontrasepsi, dan yakin kalau dengan memberikan ASI dia tidak akan hamil. Kenyataannya, dugaan teman saya ini meleset.

Sementara, kalau merujuk pengalaman Mama saya, ia termasuk salah satu perempuan yang beruntung. Ketika menyusui saya selama dua tahun lebih, beliau tidak mengalami menstruasi. Tapi, apa saya akan mengalami hal yang sama? Bagaimana jika tahu-tahu saya hamil lagi? Nggak lama setelah melahirkan anak saya, Bumi, Mama saya juga sempat berpesan, “Lebih baik pakai spiral saja, daripada nanti ‘nyundul’ adiknya Bumi. Kamu sudah siap belum?” Takut dengan risiko yang sudah yang sebutkan di atas, setelah masa nifas saya pun memutuskan untuk memakai kontrasepsi spiral.

Berbicara soal ASI sebagai kontrasepsi alami, saya sempat membaca sebuah artikel kesehatan yang memaparkan topik ini. Memang, sih, menurut penjelasan ilmiah dalam artikel tersebut dikatakan bahwa Metode Amenorea Laktasi (MAL) atau Lactational Amenorrhea Method (LAM) merupakan metode kontrasepsi sementara yang mengandalkan pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif. Metode Amenorea Laktasi (MAL) atau Lactational Amenorrhea Method (LAM) dapat dikatakan sebagai metode keluarga berencana alamiah (KBA) atau natural family planning, apabila tidak dikombinasikan dengan metode kontrasepsi lain. Dalam artikel tersebut juga dituliskan bahwa tingkat efektivitasnya bisa mencapai 98%.

Lalu kenapa ada perempuan yang gagal menggunakan alat kontrasepsi alami ini? Untuk ‘membayar’ rasa penasaran, saya pun akhirnya memutuskan untuk bertanya pada dr. Yusfa Rasyid, SpOG. Beruntung, beliau mau menyediakan waktu untuk saya. Di ruangan kerjanya, di RSIA YPK, Menteng saya pun mendapatkan penjelasan yang sejelas-jelasnya.

Waktu itu dr. Yusfa Rasyid, SpOG bercerita, bahwa selama dirinya menjadi praktisi 15 tahun lebih dan menangani banyak pasien, tingkat keberhasilan KB dengan ASI itu hanya sekitar 50%, dan 50%-nya lagi itu mengalami kegagalan. Apa sebabnya, langsung baca di laman selanjutnya, ya.


Post Comment